Setelah lama beristirahat akhirnya saya putuskan untuk kembali berangkat mendaki gunung itu. Saya yakin pasti akan ada rintangan lagi dan juga resiko. Tapi bukankah setiap pilihan selalu disertai resiko. Bukannya menantang resiko, tapi sekedar menyadarkan diri kalau resiko itu pasti ada.

Ada banyak resiko yang akan dihadapi oleh pendaki gunung. Mungkin tergelincir atau tersesat lalu dehidrasi dan mati.

Tetapi sebenarnya tidak usah takut dengan kehabisan bekal karena alam sudah menyediakan semuanya. Kalau kehabisan bekal silahkan petik buah atau berburu. Makan rumput juga boleh. Dan kalau saja tersesat, bersyukurlah karena kau baru saja menemukan daerah baru. Jadi kalau benar-benar tersesat, catatlah rute dan gambaran tempatnya karena kelak pasti bermanfaat.

Justru binatang buaslah yang saya takuti. Selain saya tidak punya ketrampilan menaklukkan binatang, badan saya juga kecil dan ringkih. Saya paling berani melawan nyamuk atau laba-laba. Bukan laba-labanya tapi sarang laba-laba yang melintang di jalan.

Padahal menulis itu ya seperti mendaki gunung. Terdapat rintangannya masing-masing. Menurut saya kok justru lebih sulit menulis dari pada mendaki gunung. Mendaki gunung bisa menjadi bahan untuk menulis tapi menulis bisa menjadi apa saat saya mendaki?

Paling sering saya mengalami stag dan tak tahu kalimat apa yang harus disusun selanjutnya. Tulisan tidak tuntas dan idenya terus lari ke sana kemari. Ketika menulis cerita, tokoh berjalan semaunya sendiri seperti tidak mau digiring pada konflik dan klimaks yang saya susun. Ia membuat ceritanya sendiri.

Benarlah kata Pramoedya Ananta Toer bahwa menulis adalah perjuangan. Menulis tidak hanya memperjuangkan ide atau opini tapi juga keberanian untuk bergulat dengan dirinya sendiri. Tak jarang opini yang dituangkan kita bantah sendiri. Tak jarah sudut pandang menjadi bias ketika sebuah permasalahan dituangkan.

Saya juga tidak pintar-pintar amat menulis. Saya terus berlatih meskipun latihan saya belum berhasil amat. Setidaknya saya menyimpan tulisan-tulisan saya dalam folder di laptop dan ketika saya membaca ulang tumpahan ide atau opini yang saya tulis sepuluh tahun ini saya merasakan hal luar biasa.

Maka mempelajari membuat outline adalah langkah selanjutnya setelah kita belajar menangkap ide. Dulu saya sering gegabah. Setiap kali menemukan ide saya langsung saya menuliskan dalam paragraf-paragraf sehingga kehilangan ruh dan konteks. Rupanya, ini yang membuat tulisan saya banyak yang tidak tuntas dan tidak enak dibaca. Belajar dari sini saya mulai membuat outline, kata kunci, premis, tesis dan anti-tesis.

Perjuangan ini belum selesai. Berani menulis berarti berani juga mempertahankan dan mempertanggungjawabkan isi tulisan. Apalagi opini yang telah ditulis akan dipublikasikan di blog. Bayangkan kalau banyak orang yang membaca kemudian terpengaruh atau terinspirasi. Bayangkan kalau ditulis ternyata tidak bisa dipertanggungjawabkan sedangkan sudah terlanjur ada yang meyakini atau terinspirasi. Kita bukanlah para ababil yang gemar me-rebroadcast pesan horor di gadget.