Saat matahari benar-benar terbenam di balik perbukitan dan cahayanya digantikan lampu neon dan pijar, sebuah percikan api menyita mata di sudut kegelapan. Berulang kali pelantiknya tidak menyalakan api karena angin dari rerumpunan bambu mengganggu. Meskipun tidak jelas wajah yang tersembunyi di balik bara api itu, kami bisa menebak kalau itu adalah Mbah Utis.

Ia hidup penuh sahaja di sebuah bantaran sungai samping balai desa. Rerumpunan bambu yang kiranya menakutkan karena banyak kunti, justru begitu akrab buatnya. Bambu-bambu itu telah menjadi bagian dari rumahnya sendiri. Geribik, kursi, meja, sampai tiang penyanggah ia ambil dari sana. Semuanya dari bambu wulung dan petung. Kecuali satu bambu yang dijadikan gagang sapu lidi. Warna kuningnya tampak mencolok di antara bambu wulung dan petung yang menghitam.

Gubugnya tidak memiliki halaman yang luas. Untuk menikmati kesendirian ia kerap duduk-duduk di balai desa, meracik utis yang ia pungut di jalanan. Mulutnya berucap-ucap tak jelas. Hanya telinganya sendiri yang bisa menangkap. Terlebih lagi ketika ia menyapu halaman.

Seseorang yang belum mengenalnya pastinya akan mengira ia orang stres, bahkan mungkin akan menuduhnya gila. Tapi tidak. Ia tidak gila. Ia sedang bersenandung memanggil-manggil nama seseorang. Nama yang sangat berarti bagi dirinya.

* * *

Banyak orang nelangsa ketika hidup tanpa memiliki banyak harta. Akal sehatnya pun kerap terselip entah di mana hanya karena mengejar kebutuhan yang sejatinya hanya sia-sia. Saya jadi teringat seorang tetangga yang kehilangan semua harta bendanya karena tergiur investasi. Tapi mbah Utis jadi satu-satunya yang naif soal kekayaan. Baginya kemiskinan adalah sebuah perjalanan, sekaligus kemenangan.

“Kamu seharusnya lebih tau tentang nasehat nabi.” Matanya yang sayu teduh menatap wajahku, “Kemenangan terbesar itu bukan kemenangan atas kemiskinan, tapi kemenangan terbesar itu berhasil mengalahkan keinginan. Kekayaan itu kan sisa-sisa dari keinginan yang terpenuhi. Kalau hartanya banyak tapi keinginannya lebih banyak, apa itu bisa disebut kaya?”

Mbah Utis tertawa terkekeh. Mungkin ia menertawakanku dengan keinginan yang menumpuk di kepala dan mendobrak-dobrak untuk dituruti.

“Tapi terkadang miskin juga menjerumuskan orang untuk berbuat kejahatan. Nah, kalau begitu apa kaya tidak lebih baik dari miskin?”

Ia tak menjawab karena tangannya yang trampil sedang menyelesaikan racikan utisnya di atas kertas papir, melintingnya, lalu membakar bagian ujung dan menghisapnya dalam-dalam. Sesaat kemudian asap mengepul dari mulut dan hidungnya, seperti ada yang terbakar di dalam tubuhnya.

“Saya tidak miskin!” Ucapnya tegas seperti memarahi saya yang menuduhnya miskin.

Saya terdiam keder. Akhirnya muncul pertanyaan dalam diri saya sendiri, kaya kah saya, atau miskinkah saya? Kepala saya pun jadi merumuskan kembali ucapan mbah Utis. Benarkah kekayaan itu sisa dari kebutuhan kita? Saya terkesima. Selama ini bangku sekolah mengajarkan kesuksesan, dan kesuksesan adalah berlimpahkan kemegahan meskipun sekedar decak kagum. Tapi kami luput belajar tentang cara hidup bersahaja.

Lelaki renta itu mengambil sapu lidi dan mulai mengerjakan kebiasaannya. Tangannya mengayun pelan. Menyapu dedaunan mangga yang terserak. Sesekali angin mengobrak-abrik sampah yang sudah dikumpulkan itu. Dan mbah Utis seperti menari-nari, menangkap dedaunan dengan sapunya supaya tidak kabur terlalu jauh.

Tidak ada yang tahu pasti apa yang ada di dalam benak kepalanya ketika dengan suka rela ia membersihkan balai desa. Di wajahnya tampak semburat cahaya perenungan. Mulutnya kumat-kamit. Kadang angin membagi suaranya, sehingga tertangkap senandung yang keluar dari mulutnya. Sola… sola…

Ada yang bilang itulah terakat hidupnya, upah kebaikannya akan diterima oleh seseorang di seberang sana. Dan hanya mbah Utis yang tahu. Orang itu kerap datang kira-kira sebulan sekali. Ia seperti memberi sembako atau entah apa wujudnya kepada mbah Utis. Saya pernah melihat seseorang masuk ke dalam rumahnya membawa bingkisan kain.

“Tidak ada yang datang.” Jawabnya, “Kalau kau melihatnya mengapa tidak kau sapa?”

Memang seharusnya saya menghampiri orang itu dan menyapanya. Tapi malam itu saya bergeming.

Ada juga yang bilang kalau kegemarannya membersihkan halaman balai desa merupakan kebiasaan masa mudanya yang giat. Kalau tidak bekerja justru akan mengundang penyakit. Lalu ada yang beranggapan kalau sebenarnya ia menyimpan sisa-sisa hartanya itu di kolong tidurnya. Tapi ketika orang itu mencoba menggeledah justru ia terperangah seperti mati kuyu karena melihat penampakan. Mbah Utis yang kemudian menemukannya membisikinya lirih untuk membuat orang yang menyelinap itu tersadar. Hanya saja ia menjadi linglung. Ketika ditanya ia tak bisa menjawab apapun. Kepalanya lupa tiba-tiba.

“Kelak di akhirat sana, semua yang kita miliki akan berbicara.” Ia mulai bicara lagi, “Saya takut nanti mereka tidak bisa jaga mulut, malah bikin saya susah. Buat apa memelihara binatang yang justru akan menggigit tuannya sendiri?”  Mbah Utis kembali terkekeh.

“Kalau disedekahin kan nanti mereka jadi ngomong yang baik-baik, mbah.”

Ia memutar. Tangannya masih mengayun pelan. Mulutnya seperti sedang mengucapkan sesuatu tapi tidak tertangkap oleh telinga. Ia berhenti lagi untuk menghisap utisnya yang tinggal seperempat. Ketika sudah cukup dekat mbah Utis tersenyum sumringah. Terlihat giginya yang tinggal beberapa biji.

“Hanya sapu ini yang bisa saya sedekahkan.” Lalu terkekeh lagi dan tiba-tiba terbatuk hebat.

Saya hendak beranjak menolongnya tapi tangannya memberi isyarat supaya saya tidak usah repot-repot menolongnya. Mbah Utis meludah mengeluarkan dahak dari tenggorokannya. Dari mulutnya menyembur lendir kuning pekat. Saya khawatir tapi mbah Utis tampak biasa-biasa saja. Ia pun melanjutkan mengayun sapu seperti sedang mengayuh dayung di tengah samudera. Saya kembali menangkap mulutnya mengucapkan sesuatu tapi tidak tertangkap telinga.

* * *

Tidak ada yang bisa menerka kematian. Bahkan seorang pembunuh sekalipun. Apalagi seseorang yang telah menempatkan kehidupannya di atas pengabdian seperti mbah Utis. Kematian itu seperti berangkat kembali meniti perjalanan berikutnya.

Ia pernah bilang kalau teman-temannya yang telah pergi bebarapa kali datang berbagi cerita. Perjalanannya sungguh sulit, bekal yang mereka siapkan hampir habis. Mereka menasehatinya supaya menyiapkan lebih banyak lagi. Mereka pun ingin sekali berterimakasih kepada orang-orang yang mendoakan mereka. Terutama anak dan isteri mereka. Doa-doa mereka seperti segelas air di padang pasir.

Dan setelah bercerita tentang teman-temannya itu, ia akan langsung menangis. “Siapa yang akan mendoakanku? Anak dan isteriku sudah tidak ada semua.”

Namun nyatanya, ketika tubuh mbah Utis terbujur di dalam keranda, semua orang menangis. Banyak sekali yang datang. Kebanyakan yang datang justru orang-orang dari luar desai. Mereka membaca tahlil dan shalawat, mengiringi kepergiannya dengan doa. Saya terheran-heran siapa meraka? Siapa mbah Utis sehingga mereka begitu kehilangan?

Sudah seminggu sejak pemakannya, tetap saja ada orang yang datang berziarah lalu mampir ke gubuk bambunya. Dan seseorang yang tidak pernah kulihat sebelumnya tiba-tiba datang menyalami. Dari wajahnya terpancar kegamuman. Kagum pada saya kah dia?

“Kau pasti Dulah?” tanyanya.

Saya mengangguk pelan.

“Kau pasti muridnya. Kau pasti penerusnya. Seperti yang diceritakan embah kepada kami.”

Lalu lelaki itu memapahku berdiri menuju bilik kamar mbah Utis. Ia menunjuk ke sudut kamarnya. Ditunjukkannya sapu lidi yang selama ini digunakan menyapu halaman balai desa, tergantung di sudut kesepian. Saya melangkah gamang. Ingin sekali bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ketika saya membalikkan badan orang itu telah pergi. []