Mendidik membutuhkan kesabaran yang tinggi. Begitu pula untuk menjadi orang yang terdidik.

Sudah banyak metode pembelajaran ditemukan, dipaparkan, dan diseminarkan. Datanglah ke toko buku terdekat dan tengoklah etalase bagian pendidikan. Puluhan buku dengan berbagai judul yang membahas teori pendidikan termutakhir bertebaran di sana. Banyak kan?

Mengajar tidaklah cukup dengan modal tekad. Seorang pendidik semestinya memiliki kemampuan yang optima di luar tujuan pragmatis sebagai manusia. Ia juga semestinya mampu menjadi pembimbing yang baik bagi para muridnya. Seorang guru memiliki kemampuan pedagogik yang baik, profesional dalam menjalankan profesinya, dan memiliki hubungan yang baik dengan rekan sejawat. Selain itu juga memiliki ‘inner beauty’ yang matang sebagai seorang pendidik.

Oleh karenanya, mengajar—dan semua kegiatan pembelajaran—bukan hanya karena suka mengajar. Karena kalau demikian bisa saja terjadi malpraktik pembelajaran.

Beruntung saya ditakdirkan menjadi pendidik padahal saya tidak punya gelar keguruan. Tapi bagaimana bisa pendidikan didasakan pada keberuntungan seperti ini bahkan meskipun saya punya segudang semangat. Kalau dinilai dari sisi profesionalisme guru, tentu saya berada di tempat yang sangat jauh untuk menjadi guru profesional. Dan saya sekuat tenaga mengakui ketidakprofesionalan ini.

Saya mengenal teman-teman saya. Mereka adalah guru-guru yang profesional. Mulai dari latar belakang kependidikannya sampai pada ketuntasan administrasi guru. saya kalah telak.

Dari merekalah saya banyak belajar. Saya belajar cara membuat perangkat pembelajaran, cara mengevaluasi pencapaian siswa, cara menghadapai walimurid yang gundah gulana, dan masih banyak lagi.

Akan tetapi untuk perihal satu ini saya belajar dari sang guru saya.

Yang saya maksud dengan ‘satu ini’ adalah tentang kesabaran. Hmm, menjadi guru harus sabar. Sabar dalam mengajar, mendidik, dan membimbing. Godaan menjadi guru itu besar sekali.

Saat ini kaum brahmana berada di level yang paling rendah, padahal pada masa lalu mereka adalah manusia luhur yang dipanuti. Mereka memeliki hati yang bersih, pikiran yang jernih, tutur kata yang lembut dan jujur. Kaum brahmana adalah guru—orang yang mengajari kita mengerti kehidupan.

Kaum brahma menjadi penasihat bagi penguasa karena mata batin para brahma mampu melihat apa yang tak dilihat oleh mata. Begitu juga dengan para sunan pada masa kerajaan Islam.

Catatan sejarah tentang Wali Songo bukan saja tentang penyebaran Islam di tanah Nusantara. Wali Songo adalah mata batin para penguasa dalam melihat dunia. Mereka mememiliki kedudukan dan kehormatan tertinggi, tidak hanya di mata penguasa tetapi juga di mata rakyatnya.

Dan kini mereka terjungkal, kata-katanya tak didengarkan. Siapa yang didengarkan?

Uang berbicara lebih lantang meski tak bersuara. Kebanyakan orang lebih memilih mendengarkan orang yang memiliki uang. Semakin kaya semakin didengarkan. Sehingga kebanyakan orang lebih memilih memiliki uang dari pada memiliki ilmu pengetahuan. Covernya ia belajar, tapi hatinya mencari kiat meraup kekayaan.

Di sinilah guru-guru menghadapi godaannya. Saat orang lain berkendara mewah membelanjakan uang, ia harus berpanas-panasan di ruang kelas mengajarkan calistung. Di saat orang lain makan enak, ia justru tirakat makan ala kadarnya karena gajinya tak cukup untuk membeli daging sekilo. Kalau saja para guru itu tak memahami bahwa dari dalam dirinyalah cahaya Ilahi memancar; bahwa mereka menjadi wakil Adam as. mengenalkan ciptaan-ciptaan Ilahi dan kandungan hikmahnya; maka jatuhlah moralnya.

Tak dipungkiri, banyak pelajar-pelajar saat ini hanya mencari legalitas keilmuan bukan menggali ilmu pengetahuan, mencari angka-angka bukan memaknai nilai-nilai. Pada mulanya, nurani mereka tak menginginkan hal demikian, tetapi orangtua dan lingkungan, tontonan dan pergaulan, memaksanya meredupkan cahya nuraninya sehingga uanglah segala-galanya. Guru yang telah jatuh moralnya akan melihat ini sebagai peluang memperkaya diri.

Maka, saya sering merenungi diri saya sendiri. Sambil merenung sambil berdoa. Rasa-rasanya selama ini saya mengajar tidak baik. Lah, sudah capek-capek mengajar, tapi anak-anak tidak juga pinter. Gregetan tidak juga mencapai standar minimal. Apa yang salah dengan saya? Apa yang salah dengan teman-teman yang senasib dengan saya?

Singkatnya, saya berdiskusi dengan teman dan saya coba reduksi tanggapan beliau. Dari mana kau mengukurnya? Dari angka-angka itu atau dari persepsimu? Atau malah jangan-jangan dari peraturan-peraturan pemerintah?

Menjadi guru adalah menjadi tangan langit. Sedangkan ukuran-ukuran yang dibuat adalah ukuran-ukuran bumi. Seharusnya, dikembalikan kepada langit melalui kepasrahan akan hasilnya. Dan hasil bukan jadi konsern manusia. Yang menjadi konsern manusia adalah prosesnya. Proses yang kontinyulah yang akan menentukan baik buruk manusia menjadi tangan langit. Proses akan putus di tengah jalan kalau tidak dibarengi dengan kesabaran.

Kesabaran seseorang akan tumbuh subur kalau ia mengetahui akar dan sumber masalah yang dihadapi. Mungkin karena kuatnya keyakinan yang ada dalam diri kita kalau orang bekerja maka hasilnya kaya, kalau orang belajar maka hasilnya pintar, sampai-sampai melupakan asal muasal segalanya. Mengapa tidak dimantapkan saja dengan berucap basmalah untuk mengajar yang baik, yang tulus, yang penuh pengharapan dan kepasrahan, lalu menyerahkan semuanya kepada Yang Maha Mengetahui. Karena kita sudah ditempatkan sebagai guru, maka mendidik dan mengajarlah dengan sebaik-baiknya, karena kita ditempatkan sebagai murid maka belajarlah dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya sekedar pintar yang dicari di bangku sekolah. Bukan hanya pintar.

Lalu saya terus berdiam diri lalu berkarya.