Ada gairah pertumbuhan pembangunan yang tidak biasa di jalur yang saya lalui ini bersamaan dengan gairah spiritualisme yang tumbuh subur. Saya katakan demikian karena belum satu jam kendaraan dipacu, saya menemui bebeapa pembangunan masjid di sisi kanan-kiri jalan raya.

Sepintas barangkali kita akan mengira bahwa pemerintah daerah setempat sedang mencanangkan program satu desa satu masjid, tetapi masalahnya belum satu desa dilewati saya sudah melewati beberapa pembangunan masjid.

Allah tidak membutuhkan masjid tetapi kitalah para makhluk-Nya yang sangat membutuhkan masjid. Meskipun sudah dijelaskan di manapun berada di sanalah tempat sujud untuk-Nya para pemuja-Nya tak pernah berhenti membangun masjid. Masjid menjadi pemersatu perasaan bersamaan yang merindukan pertemuan dengan-Nya.

Membangun masjid tidak seperti membangun pasar-pasar, supermarket, sekolah, atau rumah sakit. Pasar, supermarket, dan lainnya berawal dari pembangunan infrastruktur lalu melanjutkan strategi pemasaran maka berbondong-bondonglah manusia untuk mendatanginya.

Berbeda saat membangun masjid, infrastruktur atau hardware justru menjadi urutan kesekian karena yang didulukan adalah software-nya, mental dan spiritual para pencinta-Nya. Jika hal ini dikesampingkan maka masjid-masjid yang telah dibangun dengan susah-payah dan dana yang tidak sedikit itu akan ngangkrak seperti musium-musium.

Ketika saya melihat gairah membangun masjid itu tumbuh justru ada yang musykil di hati saya, meskipun kecil, apakah masjid itu akan ada jamaahnya.

Maka saya singgah di salah satu masjid yang pembangunannya sudah hampir selesai. Luar biasa megah dibanding dengan masjid sebelah rumah saya. Marmer, lampu, karpet, dan desain interiornya menawan sekali. Dalam hati saya berbisik: inilah masjid yang dibangun dari jariah warga dan pengendara.

Kebanyakan masjid-masjid itu dibangun dari jariah para pengendara yang lalu lalang. Iya, benar sekali. Barangkali itu yang telah menjadi tren saat ini. Masjid-masjid yang besar dan sebagian bertingkat itu memasang kotak amal yang diletakkan di tengah jalan raya sepanjang pembangunan berlangsung.

Entah sudah berapa ribu tangan yang dihulurkan untuk menanam ‘inverstasi’ akherat itu. Dan seperti yang telah diajarkan oleh guru agama kita bahwa amal jariyah seperti itulah yang pahalanya tak akan pernah terputus sampai siklus kehidupan ini berakhir.

Oleh karenanya, sangat disayangkan kalau pembangunan masjid-masjid itu hanya sebuah statemen. Beribu-ribu orang menengadahkan tangan untuk menerima tetesan barokah dari jamaah masjid itu. Kalau sampai masjid itu ‘tutup’ betapa sedihnya para pemberi amal itu—na’üdzubilah. Dan barangkali, kitalah di antaranya.

Selain masjid dekat rumahmu, masjid mana lagi yang sering kamu singgahi? Banyak kah atau justru tidak pernah sama sekali? Bagaimana keadaan masjid-masjid itu—Marmer, lampu penerang dan karpetnya, kamar mandinya dan soundsystem?

Masjid-masjid sekarang ini tidak ada lagi yang seprihatin dahulu. Masjid-masjid sekarang sudah makmur. Karpet yang empuk, pendingin ruangan, soundsystem yang lembut. Para jamaahnya pasti senang berlama-lama di sana, berdzikir menggelengkan kepala tanpa harus menggibaskan kancing baju, sujud berlama-lama tanpa merasakan pedih di kening, membaca Alqruan di depan mik yang high quality.

Masjid memang seharusnya begitu. Ia adalah rumah tuhan, ia tidak boleh terlantar dan terpurukkan, ia harus lebih bagus dari rumah para jamaahnya.

Tuhan pasti nyaman berada di sana. Maka jangan sampai masjid yang dibangun dari huluran amal jariyah ribuan orang itu menjadi. Pemiliknya barangkali akan ikut pergi. Isilah dengan pujian-pujian dan rayuan kemesraan, bisikkan kerinduan meskipun malam semakin sepi dan kau sendiri. Jangan sampai digantikan oleh tilawah-tilawah elektronik yang bikin keder dan gerogi.

Di pinggiran kota, di sebuah komplek padat dengan drainase yang buruk, tidak jauh dari pasar, sebuah masjid berdiri. Tanpa pendingin udara sehingga ketika imam salat mengucapkan salam para makmumnya langsung ngeluyur keluar dengan keringat di sekujur badan. Tak ada pula soundsystem yang baik di sana, sehingga ketika adzan berkumandang suaranya tak lebih bagus dari soundsystem hajatan di seberang jalan.

Seharusnya tuhan dibuatkan rumah yang bagus di sana. Konon, tuhan senang berdekatang dengan orang-orang tak berpunya, orang-orang miskin. Siapa tahu, kalau tuhan memiliki rumah yang bagus di sana, orang-orang itu akan senang berkunjung dan berlama-lama.[]