Di hari-hari biasa, ketika tak ada yang peduli dengan kepunahan kicauan burung di pagi hari, Salamah meneriaki anak yang bagai pinang dibelah dua itu untuk bersiap-siap berbelanja pengetahuan di bangku sekolah. Ia tentunya seorang ibu yang baik dengan mengirim mereka ke sana. Sembari meneriaki mereka tangannya dengan lincah meracik bumbu untuk makan yang akan matang ketika matahari setinggi dua tombak ke langit. Lalu, mereka berdua sarapan apa? Tidak pelak lagi bahwa mie instan sudah menjadi kebiasaan menahun.

Pada jam istirahat pertama, mereka berdua –yang tua bernama Satin dan adiknya bernama Samin- akan kembali ke rumah untuk membayar hutang sarapan pagi yang ditinggalkan. Maklum, sekolah mereka hanya beberapa jengkal saja. Bahkan ujung tiang benderanya dapat diintip dari halaman rumah.

O iya…. Suami Salamah adalah mandor yang selalu pergi meninggalkan keluarganya. Orang-orang memanggilnya Obang. Nama aslinya Oemar Bangkit. Ketika pulang, isterinya akan menyambut dingin dengan senyuman, dan sesekali menanyakan keadaan proyek yang ditanganinya. Sebenarnya ia tidak suka suaminya berprofesi di sana karena sawah warisannya ayahnya tidak tergarap sama sekali. Sesekali ia curiga kalau suaminya memiliki perempuan simpanan.

Seperti malam itu ketika Satin dan Samin masih berumur beberapa bulan di gendongan. Ia serta merta menuduh suaminya berselingkuh karena uang untuk belanja sudah menipis padahal ia sering keluar menangani proyek. Bahkan ia sampai menggunakan popok kain karena uang untuk membeli popok pampers sudah habis. Untuk menunjukkan kesetiannya, akhirnya Obang melepas beberapa proyek yang akan ditanganinya yang akhirnya sangat disesali oleh Salamah.

Obang hanya menggelengkan kepala keheran-heranan setelah melihat kekonyolannya sendiri.

Terjadi perubahan besar ketika nyawa Obang harus pergi meninggalkan mereka ditelan dunia. Salamah berdiri sendiri di atas tanah warisan ayahnya. Untungnya suaminya meninggalkan dalam keadaan kecukupan sehingga ia tidak perlu terlalu kwatir dengan ekonominya. Rumahnya sudah cukup besar untuk ditinggali empat orang, bahkan walaupun ditambah dua orang lagi.

Sehingga di tahun berikutnya setelah lulus dari SMA Satin dan Samin tidak perlu melanjutkan ke perguruan tinggi. Karena mereka berdua sudah harus merawat rumah dan melayani suaminya. Dan benih yang dititipkan di rahim mereka telah melahirkan cucu buat Salamah.

Tentu saja dua orang yang masuk ke dalam keluarga itu sangat beruntung. Mereka sudah tidak perlu lagi mencari tanah kosong untuk menanam batu bata.

Namun, seperti kekhawatiran beberapa teman Samin, konflik keluarga pun tak mampu dielakkan lagi.

Dulu, ketika Salamah baru memiliki cucu, banyak sekali coretan kapur membentuk lingkaran mengelilingi genangan air. Perempuan yang baru menjadi nenek selalu mengambil peran untuk mengepel kencing cucunya karena hanya itu yang boleh ia kerjakan –sejak punya menantu ia tidak lagi menantang terik matahari di tengah sawah. Saat anak-anak tidur siang Salamah akan membacakan shalawat atau senandung apapun untuk menidurkan mereka.

Dindingpun sudah tidak lagi berwarna putih bersih seperti sedia kala. Banyak coretan dimana-mana menunjukkan kreatifitas alami anak. Samin dan Satin tidak pernah capek mengomeli mereka, seperti ketika mereka terus-terusan diomeli waktu kecil.

Waktu terus beranjak. Mereka mulai ada ketertarikan terhadap benda tertentu. Sesekali cucu tua memukul adiknya untuk mempertahankan yang menurutnya adalah haknya. Maka ia akan menangis dan mendatangi neneknya. Karena si cucu tua tahu apa yang akan dilakukan nenek ia memilih mengalah dan memberikan kepunyaannya ke adiknya. Bahkan Samin dan Satin sesekali bersikap bukan layaknya saudara hanya karena ingin membela anak sendiri.

Ketika malam didiami oleh kesunyian, si cucu akan lebih memilih tidur bersama nenek dari pada menerima kehangatan ibu mereka. Dan kali ini mereka berdua akan marah atau lupa bahwa mereka sedang mengumpat pada ibunya sendiri hanya karena ingin ngeloni anak meraka.

“Kang, kenapa saufi selalu menolak kalau ku ajak tidur di sini? Dia selalu memilih tidur bareng ibu di kamar belakang.” Tanya Satin dengan cemas.

“Ya… Biarkan saja. Toh Saufi tidak pergi kemana-mana?” Jawab suami dengan enteng.

“Tapi apa Kakang tidak khawatir?”

“Kenapa khawatir. Saufi kan dimomong neneknya. Dia masih memanggil kamu dengan dengan sebutan ibu kan? Dia masih memanggil saya dengan sebutan bapak kan?” Satin mengangguk cemas. “Ya sudah apa yang perlu dikwatirkan.”

Sedangkan di kamar sebelah, saksi bisu kemesraan antara Samin dan suaminya, terdengar pula perbincangan yang mengusik.

“Dik, apa tidak sebaiknya kita tinggal di rumah sendiri saja?”

“Kenapa dengan rumah ini Mas?”

“Tidak ada apa-apa. Hanya saja ada ketidak-mandirian dalam diri kita sebagai keluarga.”

“Maksud Mas?”

“Saya ingin membesarkan Asnawi dengan tangan kita sendiri?” Samin menghela nafas panjang setelah mendengar keinginan suaminya. “Aku tidak tahu apa ibu akan menerima keinginan kita. Apa Mas tidak ingat waktu kita sampaikan keinginan yang sama dulu?”

“Saya akan bicara pada Kang Saliman. Semoga bisa dimengerti?”

* * *

Ketika dingin mulai terasa menusuk dada, keluarga mereka duduk bercengkrama di depan televisi sambil menikmati takiran dari tasyakuran panen lada tetangganya. Hanya saja, nenek Salamah tidak ada di sana. Semua orang tahu ke mana para nenek berada ketika menjelang Isya’. SepertiKetika Saufi atau Asnawi menangis mencari neneknya orang tuanya akan menjawab Nenek sedang mencari surga di masjid, tunggu sampai isya baru nenek pulang.

“Kang Man. Apa kakang tidak merasa rumah ini terlalu kecil untuk dua keluarga?”

Jelas sulaiman menangkap sesuatu yang lain dari ucapan Badru karena sebenarnya rumah yang mereka tinggali masih cukup luas meskipun ditambah dua anak lagi.

“Lalu apa kamu dan Samin punya cukup uang untuk memulai dari awal?” Jawabnya langsung ke inti persoalan.

“Kami sudah membicarakan hal ini dengan Samin. Hanya saja kami tidak tahu bagaimana harus kami sampaikan ke ibu.”

Mereka berempat saling bergantian berpandangan. Dan tiba-tiba, selera makan pun menghilang. Ayam ingkung yang ada di tangan dikembalikan lagi ke atas piring.

“Saya ingin tahu masalah sebenarnya apa?” Tanya satin dengan nada sedikit dikeraskan.

“Tidak ada masalah apa-apa. Kami hanya ingin sedikit lebih mandiri.” Badru menjawab dengan hati-hati karena melihat kakak iparnya yang sering cepat naik pitam.

“Kalau permasalahannya adalah kemandirian, kita skat saja rumah ini. Nanti kita tentukan saya dengan Kang Saliman dapat bagian yang mana.”

“Bukan begitu mbak. Kami… “

“Samin! Kalau yang kamu bingungkan adalah keadaan ibu, kita bisa jatah tinggal. Satu minggu bersama kami dan satu minggu bersama kalian.”

* * *

Di malam yang sepi dengan kesendirian yang sama seperti biasanya Saliman menata kemesraan dan menaruh letih bersama isterinya.

“Kenapa tadi tidak terima saja keinginan mereka?” Ungkap Saliman membahas perhelatan sore tadi.

“Dengan membiarkan mereka pergi dari rumah ini?” Tanya isteri Saliman keheranan.

“Tidak! Mereka yang di sini dan kita yang pergi. Bukankah kamu ingin Saufi jauh dari kemanjaan neneknya?”

“Kang, ibu sudah tua. Kalau kita pergi sekarang kita hanya akan dapat tanah pekarangan kang.”

Saliman hanya tersenyum tipis mendengar alasan isterinya. Lalu ia masukkan wajahnya ke sela antara bantalnya dan bantal isterinya meninggalkan keinginan-keinginan yang sudah tampak biasa di telinganya.
Sedangkan di kamar yang lain.

“Mas, apa kita akan melanjutkan keinginan kang Saliman membuat tembok pembatas di rumah ini?”

“Entahlah.”

“Kok entahlah?”

“Kita teruskan dahulu hidup kita yang telah kita jalani. Mungkin akan ada kesempatan yang lebih baik.”

* * *

Salah seorang jamaah subuh begitu terkaget-kaget ketika mendengar kedua keluarga itu beradu mulut. Pertengkaran mereka terdengar jelas dari luar rumah. Apalagi langit dan seluruh isinya masih hitam.

“Ini salahmu Dru! Kamu juga Min! Kenapa pake ada acara pingin pindah rumah segala? Apa kalian tidak belajar dari pengalaman? Apa kalian tidak tahu kalau ibu sangat menyayangi cucunya? Apa kalian tidak lihat ibu sudah tua? Sabar sedikit kenapa.”

“Begini mas…”

“Begini bagaimana? Ibu sudah udzur. Kalau mau minggat tunggu ibu kehilangan nafasnya. Sekarang, kita harus bagaimana?”

Mereka bernafas dengan kemarahan masing-masing. Asnawi dan saufi yang tidak tahu apa-apa mengkeret di ujung sofa saling berpelukan. Mata mereka menangkap keganasan dan keserakahan dari kedua mata orang tua mereka.

Kedua menantu saling berpandangan dan tertegun dengan kebingungan. Saliman menatap secarik kertas tulisan tangan mertuanya yang ternyata wasiat wakaf seluruh hartanya kecuali rumah yang mereka tempati. Di sudut bawah dibubuhi tanda tangan kepala desa dan mudin setempat. Juga tanggal kesepakatan tersebut dibuat yang ternyata hanya setelah beberapa hari setelah Samin dan Badru mengutarakan maksud untuk pindah rumah dua bulan yang lalu.

Rupanya perbincangan mereka tertangkap Salamah yang pulang untuk mengambil kitab suci yang biasa dipakai untuk tadarus karena tertinggal. Dan karena itulah ia mengambil keputusan. Ketika subuh biasanya sudah diterangi lantunan lirih ayat-ayat suci pagi itu tidak terdengar apapun kecuali detak jam dinding. Samin yang biasanya rajin menyusul ibunya menangkap kegagapan tersebut.

“Mas, kita cari ibu di masjid.” Ajak Samin. Badru sebenarnya menangkap kekonyolan dari ajakan isterinya itu, karena untuk apa sembunyi di sana dengan meninggalkan surat wasiat seperti itu. Justru ia sedang memperkirakan kepergiannya yang sangat jauh.

Berempat mereka keluar rumah meninggalkan Asnawi dan sepupunya tetap tinggal di rumah. Sesampainya di masjid disana tidak ada apa-apa kecuali beberapa jama’ah yang baru pulang yang justru menanyakan kealpaan nenek itu.

Setelah merasa pasti mereka pergi menuju ke rumah RT. Namun pak RT tidak ada di rumah sejak subuh. Isterinya beralasan kalau suaminya sedang mengantarkan tamunya.

Dengan malu-malu Satin meminjam telepon untuk menghubungi mbah Inten yang menjadi kordinator pengajian ibu-ibu. Bukannya mendapat kepastian Satin malah dihujani pertanyaan.

Lalu mereka berpamitan dengan tubuh lesuh dan saling menyalahkan.

* * *

Dan seperti hari yang lain selalu ada yang berbeda. Apalagi berada di bawah atap yang benar-benar baru. Di bawah atap itu terdapat puluhan penghuni. Hanya ada beberapa saja yang masih punya kulit mulus dan singset. Kebanyakan mereka berjalan pelan, sebagian ada yang sambil membungkuk, sebagian lagi dibantu sebatang tongkat.

“Nenek bahagia tinggal di sini.” Tanya seorang perempuan yang berkulit mulus dan berjilbab.

“Tentu saya senang. Apalagi banyak teman sejawat di sini. Tidak seperti di rumah yang dulu.”

“Emang rumah yang dulu bagaimana?”

“Panas. Enakan di sini, di panti, dingin.”

Perempuan berjilbab itu tersenyum. Lalu meninggalkan Salamah yang semakin renta di ranjang yang juga serenta umurnya. []