Kebencian, kalau terus-menerus dirawat maka ia menjadi kedengkian. Dengki, kalau tak segera dipadamkan maka ia akan menjadi api. Dan pendekilah yang menjadi kayu bakarnya. Kebencian terkadang bermula dari rasa bangga diri atau perasaan diri lebih sempurna dari orang lain. Lupa bahwa setiap orang memiliki keunggulan. Dalam pepatah arab disebutkan begini:

لا تحتقر من دونك فـإن لكل شخص مـزية

Jangan sekali-kali kamu menghina orang salain kamu karena sesungguhnya setiap orang memiliki keutamaan (keunggulan)

Kita sudah sering mendengar nasehat tersebut. Di pengajian-pengajian, khatbah Jum’at, sharing di grup WA, atau broadcast BBM.

Kebencian sangat berpotensi menimbulkan kebiasaan menghina dan ghibah. Apa yang dimiliki didaku lebih unggul dari orang lain. Tak cukup dengan mendaku, bahkan ia berani menjelek-jelekkan orang lain. Padahal jangankan menghina atau mengghibah, mengungkapkan bentuk kekurang fisik pun tidak disukai oleh Rasulullah SAW.

Ada kisah tentang Áisyah ra. yang ditegur oleh Rasulullah SAW. karena mengatakan bahwa Sofiyyah berbadan pendek. Dalam riwayat lain, Aisyah ra. memberi isyarat yang menunjukkan bahwa Sofiyyah berbadan pendek. Kemudian Rasulullah menegurnya dengan mengatakan, “Engkau telah mengakatakan sebuah kata yang mana kalau kata itu dicampur dengan air laut maka akan tercemar.”

Kisah tersebut terdapat pada beberapa kitab hadits, termasuk dalam kitab muroqotul mafatih syarhu misykatu al-mafatih di bab “Menjaga lisan, ghibah, dan mengejek”

– «وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: قُلْتُ لِلنَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّةَ كَذَا وَكَذَا – تَعْنِي قَصِيرَةً – فَقَالَ: ” لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَ بِهَا الْبَحْرُ لَمَزَجَتْهُ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَأَبُو دَاوُدَ

Hadits tersebut memberikan gambaran betapa Rasulullah tidak menyukai prilaku orang yang menyebut-nyebut kekurangan oranglain dengan perumpaan tersebut. Meskipun dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Aisyah ra. mengatakan demikian bukan bermaksud untuk menghina Sofiyyah.

Kita dapat melihat wajah yang berbeda saat ini, di mana televisi justru mempertontonkan yang sebaliknya. Kekurangan orang lain secara fisik menjadi bahan tertawaan dan ejekan. Barangkali dalam acara-acara tersebut para pemain (aktor/aktris) berdalih atas nama profesionalisme dan rating acara. Para broadcaster barangkali tidak memperhatikan dampak yang timbul di masyarakat.

Di sekolah-sekolah banyak dijumpai sikap peserta didik (manner dan behave) yang meniru ala acara-acara tersebut. Menertawakan dengan terbahak-bahak dan menjerit/meneriaki dengan kata-kata yang tidak santun. Tak sedikitpun terbesit bagaimana perasaan orang yang ditertawai itu.

Kebiasaan tertawa dan usil sebagaimana dilakukan oleh anak-anak akibat tontonan yang kurang mendidik itu dapat mengurangi kepekaan sosialnya. Tidak tajamnya empati dan kepekaan pada lingkungan barangkali akan memperkuat ego dirinya. Anakpun menjadi superioritas dalam arti yang negatif.

Oleh karena itu, selain untuk mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah kepada Aisyah tersebut, mendidik anak untuk berucap sopan dan santun adalah kewajiban kita bersama. Kebiasaan baik maupun buruk akan terus berdampak pada lingkungan. Dukungan yang positif dari lingkungan keluarga, sekolah, dan teman sebaya akan mengukuh karakter anak khususnya dalam tutur kata yang baik.