Kami sampai di Hotel Azhar, tidak jauh dari Masjid Qisos. FYI: dinamai masjid Qisos karena di masjid ini hukuman mati (dengan cara dipenggal) ditunaikan. Di hotel ini tubuh kami diistirahatkan dan masjid ini jasad mereka diperistirahatkan.

Saya tidak cukup punya nyali untuk mendatangi masjid itu. Selain takut kena sambet para arwah, saya punya tujuan lain: Pasar Madu dan Kota Tua.

 

Pasar Madu

Dari namanya kita dapat menerka barang apa yang dijajakan di sana. Madu. Ya, benar sekali. Pasar Madu menyediakan berbagai jenis madu, mulai dari kualitas yang rendah sampai kualitas tinggi. Kebanyakan madu yang dijual di sini didatangkan dari berbagai negeri. Ada yang dari Iraq, Pakistan, Mesir, Yaman dan lainnya.

Pasar Madu terletak di Pasar Bab Makkah, Suhaifa, Jeddah. Berderet panjang toko-toko yang menyediakan madu berkualitas dan minyak zaitun.

Pasar Madu Suhaifa, Al Balad, Jeddeh

Kami mencari madu Yaman. Dari satu toko ke toko lainnya untuk mendapatkan harga yang paling miring. Ternyata, hampir setiap toko menjual madu Yaman dengan kisaran harga 200 sampai 230 riyal perliter.

Kami mencoba membandingkan madu Yaman dengan madu lainnya. Madu Yaman memiliki raya yang kuat dan manis tetapi tidak nyegrak di tenggorokan. Dibanding dengan madu Pakistan yang bertekstur lembut tetapi terasa sedikit semriwing di ujung. Madu Pakistan ini dibandrol dengan harga 45 riyal perliter.

 

Kota Tua yang Romantis

Selesai dari Pasar Madu di Suhaifa, kami menuju ke Kota Tua.

Kota Tua, Al Balad, Jeddah

Menepi dari jalan raya gedung Gazzaz dan gedung-gedung modern lainnya menyambut para pejalan kaki. Kompleks pertokoan dengan wajah yang berbeda dengan apa yang kami temui di Makkah dan Madinah.  Di sana, mall-mall bersembunyi di bawah tanah dan hotel-hotel. Sedangkan di sini, mall dan hotel menjadi tetangga yang sangat karib.

Akan tetapi, bukan mall dan pertokoan itu yang membuat saya terkesima. Bangunan-bangunan tua dengan arsitektur klasik itulah yang membuat saya ingin berlama-lama. Kaki sengaja melangkah pelan sambil melihat sisa-sisa peninggalan kemegahan Arab abad pertengahan. Gedung-gedung tua ini tersembunyi di balik kemegahan pusat perbelanjaan. Cerita tentang mereka menjadi begitu senyap.

Pada 21 Februari 2014 tempat ini ditetapkan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Sejarah yang tersimpan di dalamnya pantas menjadi titik tolak penetapan ini.

Sejarah Jeddah bermula sejak masa Utsman bin Affan menetapkan Jeddah sebagai kota pelabuhan untuk Makkah. Pada masa selanjutnya, Jeddah semakin memiliki peranan penting dalam perkembangan Islam. Hingga pada masa Kesultanan Mamluk, dalam rangka membentengi Laut Merah dari serangan Portugal, dibangun Benteng Jeddah, menara-menara meriam, dan parit-parit pertahanan. Di dalam benteng inilah terdapat Kota Tua.

BACA JUGA: Piknik Untuk Menikmati Jalan Pulang

Saya tidak banyak berkeliling di Kota Tua. Malam semakin membuat saya begitu terasing. Hanya beberapa moment, tidak banyak, yang saya ambil di sana. Sebelum kami memutuskan untuk kembali ke hotel, saya mengambil gambar gedung tua yang romantik.

Pasar Mad Suhaifa, Al Balad, Jeddah

Pasar Mad Suhaifa, Al Balad, Jeddah