Month: March 2017

Kas 1: Subuh

Alarm pertama berbunyi. Azan subuh. Alarm yang tidak diinginkan. Bantal yang jadi alas kini berubah nangkring di atas kepala. Lumayan suara azan itu jadi terdengar samar. Lalu tak berselang lama, tepat pukul lima, alarm kedua berbunyi. Sumbernya dari seluler yang tertindih badannya. Tangannya seperti auto pilot menekan tombol stop. Kadang-kadang salah order, yang tertekan pilihan snooze. Alarm yang terakhir datang. Yang ini memiliki kemampuan mobile yang luar biasa. Juga simultan: Lastri, Istrinya. “Mau gak salat subuh lagi?” “Yo salat.” “Subha! Subuh bareng Dhuha?” Lalu diikuti dengan omelan ini-itu. Telinganya tak mampu menahan lagi. Matanya pun tak mampu memejam lagi....

Read More

TELEPON GENGGAM

Di pesta pernikahan temannya ia berkenalan dengan perempuan yang kebetulan menghampirinya. Mata mengincar mata, merangkum ruang. Rasanya kita pernah bertemu. Di mana ya? Kapan ya? Mata: kristal waktu yang tembus pandang. Di tengah hingar mereka berjabat tangan, berdebar-debar, bertukar nama dan nomor, menyimpannya ke telepon genggam, lalu saling janji: Nanti kontak saya ya. Sungguh lho. Awas kalau tidak. Pulang dari pesta, ia mulai memperlihatkan tanda-tanda sakit jiwa. Jas yang seharusnya dilepas malah dirapikan. Celana yang seharusnya dicopot malah dikencangkan. Ingin ke kamar tidur, tahu-tahu sudah di kamar mandi. Mau bilang jauh di mata, eh keliru dekat di hati. Masih...

Read More

Jalan-jalan ke Reruntuhan Kota Ephesus

Saya membayangkan pakaian ala-ala Yunani Kuno. Putih, diikat pincuk di pundak, bawahan yang lebih mirip rok atau selendang yang diselempangkan begitu saja. Lalu menyisir tempat-tempat dari pelabuhan hingga ke jantung kota Ephesos. Lalu masuk ke gedung “theater 21” menonton pertarungan gladiator atau sekedar menikmati orkestra. Kesan itulah yang muncul saat kami menapaki reruntuhan kota Ephesus ini. Gambaran yang muncul bersamaan dengan penjelasan pemadu tur yang nyerocos pake bahasa Inggris. Juga film-film kolosal dan klasik berlatar belakang Yunani. Terus, kalau mereka berpakaian seperti yang saya bayangkan apa gak dingin ya? Reruntuhan Kota Ephesus Kota Tua Ephesus (Efes dalam bahasa Turki)...

Read More

Mengecap Keindahan Kota Pergamon dan Kusadasi

Kusadasi adalah persinggahan kami selanjutnya setelah malam melahap kami dalam nyenyak. Perjalanan menuju Kusadasi cukup lama, sekitar tujuh jam. Setara perjalanan Jogja-Kediri. Tentu saja kami beristirahat di beberapa pemberhentian. Dan pemberhentian pertama kami adalah sebuah kedai shop yang menjajakan minyak zaitun di Pergamon. Keindahan Kota Pergamon Selama perjalanan dari Canakkale menuju Pergamon ada suguhan pemandangan alam yang berbeda dari alam Indonesia. Tapi skenarinya tidak mengalahkan skenari Indonesia. Yang membedakan adalah perkebunan zaitun di sepanjang jalan. Memang, Pergamon adalah pemasok minyak zaitun terbaik di Turki. Dan kita tahu manfaat minyak zaitun bagi kecantikan dan kesehatan. Ada kategori kualitas minyak zaitun....

Read More

Bertandang ke Troy Ancient City

Selain sejarah kejayaan Islam yang pernah tertoreh, saya mengenal Turki karena sepakbolanya, Galatasaray. Pun, saya bukan bukan penggemar Galatasaray. Dan sejujurnya keduanya bukanlah magnet besar yang menarik saya untuk datang kemari. Tapi nasib berbicara lain karena pada akhirnya menginjakkan kaki di tanah persimpangan Asia dan Eropa ini. Naifnya, ini yang kedua kalinya. Tiga bulan lalu, di awal Desember, minibus putih menyelamatkan kami dari dingin di depan Bandara Attaturk. Manusia beriklim tropis seperti saya terlalu percaya diri menginjakkan kaki di Istanbul hanya dengan bersandal jepit dan jaket. Tapi untuk kali ini saya benar-benar well-prepare, semua dipersiapkan dengan baik, kecuali uang...

Read More

Recent Tweets