Keluar dari mal antrian motor mengular di pintu portal keluar parkir. Saya ada di deratan belakang. Masih ada antrian lagi. Terdengar beberapa orang ngedumel kenapa antiran lama banget, dah malem, dah pingin pulang. Macam-macam saja. Untung gak ada yang mencet-mencet klakson kayak di perempatan lampu merah.

Di ujung sana, pintu portal naik turun menuruti perintah seorang perempuan yang dikurung di dalam kabin ukuran satu kali dua meter. Sambil menunggu antrian mataku menyisir dari ventilasi kabin sampai ke mesin generator raksasa yang tak jauh dari parkiran. Saya berdecak. Tak ada pengatur suhu yang masuk ke kabin itu kecuali kipas angin duduk berukuran kecil. Saya membatin, perempuan itu luar biasa.

Ketika giliran saya lewat perempuan itu mendekapkan tangan di depan dada. Lirih terdengar ia mengucapkan salam. Begitu pula saat memberikan struk parkir, ia mengakhirinya dengan salam. Sayangnya, ia menyapa dengan wajah datar. Bukannya menatap yang disapa, matanya melirik ke layar kecil yang memantulkan plat motor.

“Dari pada mengucap salam tapi gak lihat yang disalamin dan gak senyum lagi, mendingan cukup lihat orangnya terus senyum. Kita kan bukan robot!” Kalimat itu saya ucapkan ke istri saya. Bukan ke perempuan itu. Juga setelah kami beranjak. Saya tak ingin membuat suasana hatinya menjadi suram. Cukup raut wajahnya saja yang sayu.

BACA JUGA – Hal Kecil yag dapat Membantu Personal Branding

Tapi yang begitu memang sudah lumrah. Cobalah perhatikan pegawai kasir Indomart saat kamu masuk. Mereka akan mengucapkan salam setelah ting tong pintu berbunyi. Sayangnya bukan salam yang menyapa. Bunyi ting tong pintu layaknya koin gamezone. Padahal kita, pembeli dan penjual, bukan robot.

“Ya kalau yang ke mall cuma kita. Kalau ternyata ribuan? Gigi jadi kering sampai ke gusi.” Rupanya isteri saya menanggapi omelan saya.

Dalam hati saya mengiyakan. Kalau antrian banyak dan mengular seperti ini, senyum berulang kali karena prosedur seperti itu juga tidak ada bedanya dengan salam yang tak menyapa itu. “Kasihan ya.” Lanjut saya.

“Kasihan kenapa?”

“Lihat ja. Ditempatkan di ruang sempit seperti itu terus tidak ada pendingin kecuali kipas.”

“Resiko, Mas. Waktu wawancara kan sudah dikasih tahu kondisinya.”

Saya jadi teringat beberapa kali melakukan interview. Kepada mereka—para pelamar—kami sampaikan kalau interview ini adalah tahap terakhir. Keputusan selanjutnya ada tangan anda. Ada yang langsung mengiyakan ada pula yang terus meminta waktu untuk berpikir ulang.

Saya jadi punya sedikit tips: wawancara masuk kerja adalah penentu. Manfaatkan momentum wawancara untuk mendapat informasi yang dibutuhkan, terutama tentang hak dan kewajiban. Jangan melulu menjawab pertanyaan tapi sesekali bertanya. Ini kan demi masa depanmu juga. Apalagi memberi jawaban yang hanya bikin senang supaya diterima. Padahal setelah diterima kamu dituntut untuk berkarya bukan bekerja.

 

Dan motor kami terus melaju. Rasa ingin segera sampai di rumah menggantikan topik obrolan kami. Tapi perasaan musykil itu masih menggeliat di dada.