Ketika dimabuk kepayang oleh cinta, Kasturi merayu Lastri betapa nama mereka sangat berdekatan. Aku membaca sebagai petanda, begitu kata Kastrui. Seperti kebanyakan perempuan yang tengah mabuk kepayang, setiap ucapan kekasihnya adalah puisi. Lastri tersipu sambil menangkis sedikit kejanggalan yang terbesit di sanubarinya.

Lalu mereka menikah.

Pada awalnya Kasturi tinggal serumah dengan mertuanya. Sebagai laki-laki ia merasa malu. Sudah berulangkali ia meminta izin untuk pisah rumah meskipun mengontrak rumah. Tapi mertuanya terus-terusan melarang. Lastrilah yang kemudian meyakinkan bapaknya.

“Bapak tidak usah lagi mengkhawatirkan Lastri. Sekarang sudah ada mas Kas. Lastri pasti baik-baik saja. Kami akan cari rumah kontrakan dekat-dekat sini saja biar kami mudah pulang ke rumah.” Lastri membujuk bapaknya sementara keenam adiknya yang menguping di belakang mengamini dengan lirih.

Singkat cerita Kasturi dan Lastri diizinkan pisah rumah. Mereka hanya diberi dua syarat. Pertama harus pulang ke rumah seminggu sekali dan kedua tidak boleh jauh-jauh.

Lalu Kasturi pisah rumah dengan mertuanya.

Lalu memiliki anak.

Rumah kontrakannya sempit tapi syukurlah punya halaman yang luas. Ketika hari berkatan kelahiran anaknya tarop dapat dipasang di halaman tanpa menggangu badan jalan. Anak pertama Kasturi juga cucu pertama bagi ayah Lastri. Syukur mereka besar sekali tergambar dari berkat yang dibagikan kepada tetangga saat kenduri.

Kasturi dan Lastri semakin bahagia. Kasturi juga semakin giat bekerja. Bertambah satu mulut bertambah pula nasi yang harus dinanak. Kasturi pun berkeinginan menambah penghasilan. Menambah jumlah porsi bakso atau menambah gerobak bakso.

“Kamu tambahi dulu porsi baksonya. Nanti kalau sudah nambah sedikit modalnya baru tambah gerobak.” Bapak mertuanya menasehati.

“Pulangnya jadi sorean dong.” Lastri merajuk.

“Ya mau gimana lagi. Kan yang dijual lebih banyak. Kalau gak pingin pulang sore-sore ya berangkatnya yang pagi.”

Kasturi setuju berangkat dorong gerobak lebih pagi.

Ritme hidup Kasturi pun berubah menjadi layaknya orang pekantoran. Bangun pagi dan yang dipikirkan adalah menjajakan bakso. Ia pernah pulang sebelum Asar karena dagangannya laku laris. Waktu itu sedang diselenggarakan turnamen voli di desa sebelah. Penonton dan pemainnya banyak yang pesan baksonya.

Ia juga pernah pulang menjelang Isya. Seharian keliling kampung, masuk keluar gang, tak ada juga yang memanggil. Waktu itu bulan Suro. Dan Kasturi mbatin sendiri, sejak kapan ada pantangan makan bakso di bulan Suro.

BACA JUGA – Kas 1: Subuh

Pembelinya pun beraneka ragam. Pernah ada seorang pembeli. Ia baru keluar dari masjid. Badannya ringkih dan bajunya tampak kusut. Sudah beberapa hari tidak ganti. Ia memesan semangkuk bakso. Belum sesuap ia selesai kunyah datang seorang anak kecil. Anak itu meminta dengan memelas. Tanpa berpikir panjang laki-laki ringkih itu memberikan mangkuk bakso yang ada di tangannya kepada anak itu. Anak itu menyambut dengan baik lalu menghabiskannya seketika. Ia berterimakasih lalu pergi.

Laki-laki itu pun memesan lagi. Ia membaca basmalah dan melahap sesendok. Belum selesai ia mengunyah datang seorang anak kecil yang lain. Lebih kucel dari dirinya. Anak itu menatap dengan sendu. Tangannya menengadah. Laki-laki itu tidak merogoh kantongnya malah menawarkan semangkuk bakso yang baru dilahap sesendok itu. Anak kecil itu menyambut dengan baik lalu menghabiskannya seketika. Ia berterimakasih lalu pergi.

Laki-laki itu pun memesan untuk yang ketiga kalinya. lalu terjadi peristiwa yang sama sampai sepuluh kali. Setiap anak-anak itu menyambut dengan baik lalu menghabiskannya seketika. Mereka pun berterimakasih lalu pergi. Sedangkan laki-laki itu sama sekali tidak tergerak untuk mencari tahu siapa anak-anak itu. Setelah mangkuk yang kesepeluh ia tidak memesan lagi. Ia berdiri mendekat Kasturi membayar dengan uang pas. Setelah hari itu Kasturi tidak pernah bertemu dengan laki-laki itu lagi. Juga anak-anak yang memelas semangkuk bakso.

Kasturi masih ingat angan-angannya yang dulu. Maka perlahan-lahan ia sisihkan sedikit hasil penjualan bakso. Harapannya uang yang terkupul itu akan digunakan untuk modal gerobak tambahan. Jika a punya dua gerobak maka akan ada dua kran rejeki yang mengalir ke rumahnya. Sederhana sekali. Tidak dalam waktu lama tabungannya pun cukup menebal tapi kemudian ia urung diri untuk menambah gerobak.

Suatu hari Kasturi melewati sekolah. Tidak banyak penjaja makanan yang mangkal di sana. Awalnya ia ragu tapi kemudian mencoba untuk berhenti. Ia pun menunggu sampai siswa dipulangkan. Awalnya hanya satu atau dua pembeli dan itu hanya tukang ojek abodemen. Kasturi masih sabar menanti apalagi saingan bisnisnya mulai berdatangan di sana sini. Tentunya mereka pemain lama yang lebih tahu kapan seharusnya datang.

“Aku mau sewa warung saja dekat sekolah. Atau kalau perlu masuk ke kantin sekolah.” Ucap Kasturi kepada Lastri.

“Jangan ngawur lah Pak.”

“Bukan ngawur tapi optimis.”

“Terus rencana nambah grobak gmana?”

“Uangnya ditabung dulu buat nambahin modal sewa.”

Lastri resah. “Sekolah mana?”

“Belum tahu.”

Resah Lastri sirna.

Keesokan harinya Lastri berpesan supaya Kas pulang lebih cepat. Di rumah orangtuanya akan diadakan barzanji ibu-ibu. Las diminta datang untuk membantu di dapur.

Ketika Kas pulang lebih cepat masih tersisa puluhan bakso di gerobaknya kemudian dicuci, dubungkus plastik lalu dimasukkan ke lemari pendingin bersama bungkusan bakso lainnya. Lastri sudah selesai memandikan anaknya dan menidurkannya diayunan.

“Kesorean. Ibu sudah nunggu.” Ketus Lastri.

“Padahal sudah lebih cepet.”

“Iya. Tapi kurang cepet.” Lastri membuka tudung saji memastikan ada makanan untuk Kasturi yang akan ditinggal pergi. “Tuh ada kiriman dari ibu buat makan. Nanti kalau rewel telepon aja.”

“Bu.”

“Apa?”

“Kopinya mana?”

“Buat sendiri. Aku buru-buru. Kang Jainur sudah menunggu.”

Lastri meninggalkan suami dan anaknya di rumah dan langsung naik ke ojek yang menuggu sedari tadi.

Tak seperti hari-hari sebelumnya sore itu listrik padam. Sudah menjelang maghrib. Rabun ayam menjangkiti mata. Masih ada sisa-sisa terang senja yang masih menerobos celah-celah jendela. Kasturi menemukan lilin dan korek api, menyalakannya lalu menerangi anaknya yang tertidur pulas di ayunan.

Panas telah menguras keringatnya dari kening hingga pangkal pinggangnya. Tersisa aroma kecut yang Kasturi sendiri tak suka. Ia mandi. Menggosok sekujur tubuhnya dengan sabun batangan. Sesekali bersiul sesekali bersenandung.

Asap tipis masuk melalui ventilasi. Seperti asap rokok tapi aromanya seperti pembakaran sampah. Tetangga Kasturi memang suka membakar sampah sore hari. Pernah ia menegur karena asap pembakaran sampah masuk ke rumah. Nafas anaknya jadi bengek. Setelah itu, sekitar dua atau tiga hari, tidak ada lagi yang bakar sampah lalu mulai bakar-bakar lagi.

Kasturi terperanjat karena ternyata tetangganya tidak bakar-bakar sampah. Asap itu berasal dari dapur rumahnya. Warnanya kuning pekat. Keluar dari celah-celah pintu, jendela, dan atap lalu merayap di permukaan genting hingga ahirnya membumbung tinggi tertiup angin.

Kasturi panik. Berteriak sekuat tenaga meminta pertolongan sambil masuk rumah. Ia terus meminta pertolongan tetapi suaranya tercekat oleh cekikan asap. Matanya banjir karena pedih. Namun Kasturi tak peduli. Ia tetap menerobos masuk. Pandangannya makin kabur, oleh pekat asap dan oleh air matanya sendiri. Setelah susah payah ia pun mendapatkan apa yang dicarinya. Kasturi lega. Tenaganya tumbuh kembali. Sambil mendekap anaknya Kas menerobos keluar.

Orang-orang sudah berkerumun membawa air. Menyiram sekenanya. Kas yang menghambur keluar hampir saja terguyur. Beberapa orang tidak lagi peduli dengan asap yang terus mengepul karena mencari tahu apa yang terjadi dengan Kas. Terutama anaknya. Seserorang mengatur sambil berteriak supaya orang-orang mundur. Kas dan anaknya butuh ruang, butuh udara.

Lalu perlahan orang-orang pun mundur dan tak berapa lama terdengar deru tangis dari tengah-tengah kerumunan. Kas menjerit. Menyadari apa yang tengah terjadi, perlahan orang-orang mundur tahu diri. menjaga jarak dengan kemalangan yang sedang menimpa Kasturi.