Saat direnungi lebih dalam banyak sekali yang saya sesali bulan ini. Peristiwa demi peristiwa berlalu begitu saja. Lepas dari perhatian. Tak banyak yang terekam dalam tulisan apalagi ingatan. Padahal akhir bulan lalu, saat melihat poster tantang #menulisrandom, terasa besar sekali tekad untuk mengalahkan tantangan menulis itu.

Nyatanya, sampai tulisan ini selesai, belum satu tulisan pun saya posting di blog. Tiba-tiba semua mandeg begitu saja. Alasan utama, cari-cari alasan ni ya, tidak lain dan tidak bukan adalah kesibukan pekerjaan.

Akhir tahun pelajaran sekolah seperti sekarang ini memang banyak sekali tenaga dikuras untuk tutup buku sekaligus mempersiapkan buka buku di awal Juli nanti. Padahal disela-sela itu banyak sekali peristiwa dan momentum yang dapat dijadikan ide tulisan.

Misal, Awal Juni ini pas tahun ketujuh saya berada di Ar Raihan. Saya membuat outline untuk menceritakan perjalanan tujuh tahun itu. Dimulai dari proses seleksi tenaga pendidik, pembekalan calon tenaga pendidik, sampai saat ini. Kalau ditilik lagi ternyata sudah banyak yang datang untuk menggantikan mereka yang pergi. Tetapi semua berhenti hanya sampai outline.

Misal yang lain, Pemkot Bandarlampung kembali membangun fly over di persimpangan jl. Sultan Agung – Jl. ZA Pagar Alam. Demi mengurai kemacetan di kemudian hari, warga Bandarlampung mengorbankan efektifitas mereka di jam-jam sibuk entah sampai kapan. Lucunya, karena Herman HN bakal menjadi rival pilkda gubernur melawan Rido Ficardo, mereka berdua ontok-ontokan kayak anak TK rebutan mainan, saling unjuk kekuatan, sampai-sampai pembangunan fly over dihentikan sementara sampai arus balik lebaran selesai. Alasannya memang logis tapi gojekan ala anak kecilnya itu gak bisa ditutup-tutupi. Tulisan ini pun mangkrak di paragraf kedua.

Misal yang lain lagi, perihal mudik yang menjadi rutinitas bangsa Indonesia. Banyak teori tentang mudik. Semakin dirumuskan semakin variatif kegiatan mudik bangsa ini. Akhirnya mentok, kalau bicara tentang mudik obrolan pasti begitu-begitu saja. Barangkali karena narasumber tidak punya udik. Maka isu beralih ke aktifitas lebaran. Lucunya, sampai-sampai ada seorang ustaz (yang saya tidak tahu dimana ia mengaji) menyampaikan supaya meninggalkan budaya sungkem. Alasannya karena sungkem mengandung unsur syirik khofi. Sungkem mendekati sujud padahal tiada sujud kecuali kepada Allah semata. Dari pada emosi menanggami kelucuan ustaz ini, saya berhenti melanjutkan tulisan di paragraf pertama.

Misal yang terakhir, ketika Mata Najwa mempertemukan dua tokoh muslim yang didaulat sebagai ulama wasatho. Kiai dan mufassir yang mengambil jalan moderat dalam ajak-ajak manusia. Menulis repotase atau mengintisarikan dialog Mata Najwa itu tentu dapat menambah jumlah visitor blog. Hanya saja ide ini hanya melintas sekilas saja. Ciut nyali saya untuk menulis tentang mereka.

Juni tinggal beberapa hari. Yang terlewatkan tidak mungkin kembali. Memang, masih segar ingatan saya untuk menulis tentang anak-anak yang mendapat reward dari sekolah karena prestasi mereka; tentang kesucian Ramadan yang lebih terasa kalau kita berdiri di pasar-pasar dan tempat ngabuburit asik dari pada di masjid-masjid; tentang Tantowi dan Natsir yang menjuara Indonesia Open; tentang ide keren menteri pendidikan yang mengharuskan sekolah fullday school (di kampungku di baca fuldai) atau hantu-hantu yang mulai bermunculan di pepohonan pinggir jalan.

Yang lalu biarlah berlalu. Hanya saja yang tersisa ini, apakah akan dibiarkan berlari lagi.