Menunggu Bedug Sambil Baca ‘Klop’

Menunggu Bedug Sambil Baca ‘Klop’

By | 2018-04-16T09:50:13+00:00 June 2nd, 2017|Buku|0 Comments

KLOP. Ini buku lama tapi belum tua. Apalah artinya buku lama kalau belum pernah dibaca.

Syukurlah saya pernah membacanya. Dan ketika menuntaskan membaca Klop saya merasa sedang mencengkramai diri sendiri sekedar untuk menanyakan idealitas saya sebagai Manusia Indonesia. Isi kepala yang sudah terlanjur dibebali dengan fikiran metrialistik, kepicikan, dan keinginan nafsu seperti ditantang untuk di”instal” ulang. Dorongan ke arah sana sangat terasa ketika membaca “Mawar” yang menjadi inspirasi bagi keluarga yang ia tempati. Selain itu, mawar seperti mengajak pembaca untuk mempertanyakan hakekat dan tujuan hidup dan kehidupannya.

“Mawar itu aku. Aku bukan baja atau kayu yang menjadi tiang rumah selama puluhan bahkan ratusan tahun, aku adalah mawar. Dan aku akan tetap mawar. Aku tidak menjaga, tetapi menyalakan kegembiraan, jiwa baja dan kelenturan kayu itulah yang menjaga. … . Aku tidak boleh diam terlalu lama karena harumku akan menjadi terbiasa dan cahaya yang kubawa tak akan lagi ada artinya kalau kebanyakan.”

Begitulah kira-kira pembaca diajak menjalani hidup; segera beranjak dari menikmati keberhasilan dan kesuksesan supaya tidak berlama-lama, karena jelas sekali sikap demikian sangat berbahaya. Mawar seperti menantang pembaca untuk memilih antara mempertahankan eksistensi hidup (yang sering kali dilandaskan pada ego) atau membangun dan melakasanakan kemanfaatan potensi hidup (yang biasanya akan dicampakkan ketika sudah tidak berguna). Namun ketika mawar dicampakkan dari rumah itu karena dianggap sudah layu, rupanya potensi dirinya sebagai cahaya tidak pudar, ia menjadi cahaya semangat bagi keluarga pemulung dan kemudian terhempas dan berakhir di tangan seorang seniman.

Klop – Putu Wijaya

Membaca “KLOP” seperti kembali diingatkan pada kekelaman birokrasi Indonesia pada masa pasca Reformasi –bahkan sekarang masih kelam. Waktu itu, Soeharto memang sudah lengser, tapi watak birokrasi yang diwariskannya seperti menjadi penghalang bagi agenda Reformasi. Watak birokrasi Orde Baru tidak ingin digantikan –meminjam istilah Iwan Fals- Orde Paling Baru. Sehingga yang muncul adalah problematika baru. Lihat saja, Habiebie yang kehilangan Timor Timur, Gus Dur yang diangkat dan diimpeachmen oleh orang yang sama, Megawati yang tidak mampu mempertahan dua pulau yang sangat indah, pencaloan kapal tangker, dan penjualan Indosat.

Pasca Reformasi sampai tahun 2004 adalah masa-masa pendewasaan setelah memperoleh kebebasan dari kungkungan yang sangat lama. Bukan berarti setelah itu, mereka dan juga kita menjadi cukup dewasa.

Mengingat kembali sejarah memang sangat diperlukan ketika seseorang mulai berjalan menjauh dari rencana awal. KLOP mengingatkan tentang hal itu; tidak secara langsung mendiktekan apa tujuan sebenarnya, tapi cukup dengan menggambarkan pentas drama perpolitikan Indonesia pada masa itu. Seperti dalam “Jendral”.

Jendral mengabdi untuk bangsa dan negara, mempertahankan negara, dan menjaga haluannya sesuai dengan nilai kenegaraan yang dirumuskan dahulu supaya tidak jatuh di tangan yang kotor. Jendral ingin melawan birokrasi, tapi tidak mampu. Ia mengharapkan kepada anaknya, tapi harapan itu sia-sia karena anak jendral itu punya cara sendiri untuk mengabdi, mempertahankan dan menjaga negeri ini; ayah menginginkan anaknya menjadi tentara dan menjauhi politik. Alih-alih keinginan itu dipaksakan kepada anaknya, ternyata anak jendral itu menginginkan mejadi politisi.

BACA JUGA – Nur yang tak Ingin Kehilangan Suaminya

Di sinilah, gambaran menarik tentang cara pandang dari dua generasi yang berbeda; tua dan muda, meskipun mereka memiliki tujuan yang sama. Di sinilah, menghargai kedewasaan orang digelitik. Ironisnya, jendral mengambil jalan pintas untuk “melumpuhkan” anaknya demi idealitasnya, meskipun pada detik terakhir ia sangat menyesalinya.

Membaca “KLOP” seperti diajarkan kembali nilai-nilai luhur dan semangat berbudaya yang “Indonesia”. Menafsirkan lambang dan kode-kode. Memaknai arti sesungguhnya dari hanya sekedar simbol. Mungkin itu yang coba disampaikan penulis dalam “Kartini”. Menjadi Kartini modern berarti mengambil semangat Kartini lama. Menjadi seorang Kartini modern berarti mengetahui dengan seksama tugas dan esensi yang diperjuangkan. Karena menjadi Kartini modern bukan sekedar keluar rumah untuk arisan dengan berdiri dibelakang dalih emansipasi. “Bukan kostum yang membuat perempuan menjadi Kartini, tapi cita-cita.” Begitulah kata pak Amat dalam “Kartini”.

Ada juga hal yang sangat menggelitik ketika membaca cerpen yang berjudul “Soempah Pemoeda”. Ami –anak perempuan pak Amat- bisa mewakili gambaran betapa banyak kegiatan-kegiatan yang dibungkus niat kebaikan sosial, tapi sebenarnya adalah untuk tujuan pragmatis, uang. Ami dan beberapa temannya, dalam momen peringatan Soempah Pemoeda mengadakan acara penggalangan dana yang menghabiskan dana 500 juta, dan dana yang terkumpul dari acara tersebut sebesar 200 juta. Tentu itu bukan kegiatan yang menguntungkan, justru rugi 300 juta, meskipun yang 500 juta didapat dari sponsor dan donatur.

Pak Amat yang tidak setuju dengan acara seperti itu akhirnya menyadari betapa besar arti uang pada zaman sekarang ini. Ketika ia memberi nenek pengemis uang seribu rupiah, ia menyadari “Ya Tuhan, ternyata rasa simpati, cinta, dan semangat persatuan saja tidak cukup. Memang uang penting sekali. … . karena selembar ribuan yang kumal saja sudah bisa membuat seorang perempuan yang berduka tersenyum.”

BACA JUGA – Ketika Mojok Reinkarnasi Dingkelik Justru Mati Suri

Namun, dalam paragraf terakhir, ketika pak Amat dan Ami saling memahami kesalah-pahaman masing-masing, isteri pak Amat membisiki, “Sebenarnya malam itu mereka bukan untung 200 juta, tapi 600 juta. Yang 400 mereka bagi-bagi di antara panitia untuk membayar biaya skripsi, dan S-1, S-2 dan S-3, Pak.”

* * *

Memang begitulah Putu Wijaya dengan kekhasannya menulis cerita. Karya-karyanya memang meneror bangunan fikiran pembacanya, antar sejutu dan tidak, antara suka dan duka, antara pilu dan ngelu. Buku yang diterbitkan Mei 2010 ini memuat dua puluh cerita pendek Putu Wijaya. Cobalah untuk bercengkrama dengan KLOP malam minggu ini, mungkin esok harinya akan dapat inspirasi untuk hari Senin dan seterusnya.**

About the Author:

Bermimpi boleh saja. Tapi bayangkan kalau orang berani bermimpi tapi tidak berani mewujudkan.

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.