Semangat pagi, Ayah dan Bunda! Bagaimana kesan ananda di hari pertama masuk sekolah?

Mulai hari ini wajah sekolah yang sebenarnya akan mulai terlihat. Cahaya mata ananda yang akan memberitahu ayah bunda. Kepolosan mereka seperti sponge yang menyerap butiran-butiran air di lingkungan baru mereka. Kita doakan bersama semoga butiran-butiran itu adalah tetasan embun dari semesta.

Ayah bunda masih ingat kan obrolan dengan pihak sekolah saat interview penerimaan siswa baru yang lalu? Tentunya sekolah menanyakan alasan ayah bunda memilih sekolah tersebut. Atau harapan ayah bunda untuk ananda tercinta.

Saya yakin, mengaca pada interview yang saya hadapi, kebanyakan dari kita menjawab yang bagus-bagus. Harapan kita pada sekolah pun terlampau tinggi. Sialnya, kadang kita dibuat melambung karena sekolah memberi jawaban yang manis-manis seperti bunga gula itu.

Tenang, ayah bunda. Tidak ada sekolah yang buruk di negeri ini. Setiap sekolah memiliki kapasitas masing-masing. Obrolan-obrolan antar walimurid, jawaban-jawaban dari penerima tamu di sekolah, sebaran alumni, sudah cukup bagi kita untuk menentukan sekolah yang cocok untuk ananda. Selebihnya, memang tugas ayah dan bunda.

Sekolah-sekolah sedang kepalang bingung menyusun program fullday school karena selama ini guru dan siswa sudah terbiasa pulang bersamaan dengan azan Zuhur. Nurani mereka ingin tetap pulang jam segitu tetapi pak kepala sekolah telah menerima pesan dari kepala dinas dan kepala dinas takut mensalah-artikan anjuran pak mentri tentang fullday school.

Sekolah-sekolah sedang kepalang bingung memikul beban tanggungjawab dari kerusakan moral yang tengah terjadi di negeri ini. Sekolah yang hanya beberapa jam saja dituntut untuk mendidik anak supaya daya kognitif dan afektif peserta didik seimbang. Selain itu, mereka memiliki kematangan spiritual. Karena dengan begitu generasi bangsa ini akan siap menghadapi masalah-masalah di masyarakat.

Sekolah-sekolah sedang kepalang bingung mempertanyakan eksistensi dirinya. Setiap kenakalan remaja selalu dipertanyakan kredibelitas sekolahnya dalam mendidik. Sementara itu, kita lupa untuk mempertanyakan tontonan para remaja itu, lingkungan tempat tinggal, dan … ah.

Saya jadi teringat cerita pemateri In House Training kami beberapa pekan yang lalu. Saat ujian terbuka gelar doktoralnya ia ditanya: Apakah sekolah yang ibu teliti ini adalah sekolah yang bagus. Jawabannya menarik sekali: tidak akan ada sekolah baik atau favorit selama Pemerintah tidak mengatur dan peduli pada tayangan televisi, internet, dan lingkungan yang baik.

Ayah bunda, baca berita kan akhir-akhir ini? Sangat disayangkan ya perundungan (bullying) yang terjadi di Universitas Gunadarma dan kawasan Thamrin City itu. Tidak hanya kepada anak-anak yang wajar, bahkan kepada penyandang kebutuhan khusus pun tega melakukan perundungan. Bullying. Keji ya? Dari mana mereka belajar tega begitu ya?

Rasanya tidak mungkin kalau guru yang mengajari. Apalagi orangtuanya. Kalau ada orangtua yang mengajari anaknya menganiaya orang lain maka itu hanya ada di sinetron. Oh ya! Sinetron! Pasti mereka belajar dari sinetron. Ups, dari televisi.

Gak bisa dimengerti mengapa adegan-adegan di televisi itu kok norak banget ya? Marahnya bikin gemes. Ketawanya bikin keselek. Kalau berdebat atau gak setuju disampaikan dengan jerit-jerit. Malu sama urat leher dong. (Padahal di urat leher bersemayam kasih sayang Tuhan. Jangan diusir dengan amarah!) Apakah yang seperti itu-itu jadi tanggungjawab sekolah juga?

Ayah bunda, bagaimana cara ayah bunda memilih sekolah yang tepat untuk buah hati? Barangkali bisa di-share. Kasih komen ya. Sebagai gantinya saya share juga cara saya menilai sebuah sekolah:

Pertama, lihat cara sapa. Ini penting lho. Cara warga sekolah menyapa ayah bunda bisa menjadi ukuran cara mereka menyapa peserta didik. Ada sekolah yang memiliki sistem skuriti yang baik dan berportal, di ruang admin ada ruang tunggu yang yahuuud tapi ayah bunda dicuekin saat berkunjung. Sebaliknya, ada sekolah yang ruang tamunya ala kadarnya tetapi ayah bunda dijamu dengan sapaan dan senyum yang menawan. Keramahan memang bisa tumbuh di mana saja. Ia bukan hak priogratif sekolah berakreditasi A saja.

Kedua, lihat cara membuang sampah. Tidak perlu membuatkan tong sampah yang organic dan unorganic karena toh sama saja petugas dinas kebersihan akan menyampur jadi satu di bak truk. Budaya kita belum sampai sana. Tetapi tiliklah sampah-sampah yang ada di sekitar sekolah. Apalagi yang dekat kantin sekolah. Budaya bersih bisa diukur dari hal-hal kecil seperti ini.

Yang ketiga, enduslah kamar mandinya. Umumnya kamar mandi pasti bau. Salah satu faktornya adalah alam Nusantara menyediakan rempah yang kaya. Tetapi hal ini berimbas pada “output” konsumernya. Jadi jangan fokus pada baunya. Fokuslah pada sanitasinya. Apalagi kalau kamar mandi sekolah tidak proporsional dengan jumlah siswa. Selanjutnya fokus pada kebersihannya. Sanitasi adalah mentalitas konstruksi bangunannya dan kebersihan adalah mentalitas warganya. Bagi saya ini kok penting banget. Bayangkan kalau kamar mandi tidak bersih? Pakaian anak-anak rawan terkena najis. Kalau pakaian sudah terkena najis, bagaimana dengan ibadah mereka?

Masih banyak cara buat menilai kualitas sekolah sehingga layak untuk dipilih. Karena untuk saat ini, permasalahan pedagogi semata tidaklah baik. Yang baik adalah pedagogi yang bersinergi dengan jiwa dan karsa manusia.