Davina Cahya yang Akrab dengan Kemarau

Davina Cahya yang Akrab dengan Kemarau

By | 2017-09-19T16:34:55+00:00 September 18th, 2017|Jalan Setapak|0 Comments

Davina Cahya, anakku yang lahir pada musim kemarau, akan merayakan ulangtahunnya pada musim kemarau pula. Sudah sebulan langit tak kunjungan membasahi bumi dengan berkahnya. Pohon cabe dan luncang yang baru kami tanam layu dan mati. Untung bibit kelengkeng dan mangganya masih kokoh berdiri.

Pada hari kelahiran Vina, sumur rumah kami tak mampu mengaliri pipa air setelah sepuluh menit sejak dinyalakan. Suara mesin menjadi nyaring karena tak ada yang disedot. Tandon air dan bak mandi pun tak pernah terisi penuh. Untuk mandi kami harus ngirit-ngirit. Apalagi untuk mencuci popok ompolan Vina.

Tidak bisa begini terus. Ukuran rumah kami hanya sejengkal. Kami mandi dan tidur di situ. Juga salat lima waktu. Kalau najis tidak bersih bagaimana dengan salat kami. Bapak dan ibu berulangkali mengingatkan kami.

Maka kami mengungsikan Vina ke rumah bapak di kampung.

Sekarang terulang kembali. Seperti de javu. Beberapa kali kami mengungsi ke rumah adek. Hanya saja kali ini gak mungkin pulang kampung. Jadi kami perkuat doa kami supaya langit menurunkan hujan. Ada kejadian yang bikin keki. Suatu hari kami menjemur pakaian. Angin bertiup kencang. Istri saya tiba-tiba berdoa, Ya Allah mugo-mugo gek terus udan sing deres.

Saya mengamini lirih sekali lalu berdehem. Saya mengode istri saya supaya melihat sebrang rumah. Tetangga kami sedang menurunkan genting. Atap mereka melompong. Istri saya terlihat kikuk lalu masuk rumah. Lirih dia berucap, dewe ndungo njaluk udan. Tonggo ndungo ojo udan. Gusti Allah arep ngamini sing endi jal?

Kami pergi ke rumah adik. Jarak lumayan jauh dari tempat tinggal kami. Kepergian kami tidak lain adalah untuk mengungsi. Kami mau numpang nyuci baju. Kebetulan sumur di rumahnya masih gemrojok.

Di tengah perjalan saya terkejut. Pasalnya, setelah beberapa waktu lalu isteri saya uring-uringan perihal uang lima ribu tiba-tiba kali ini mengucapkan hal lain. Bertolak belakang. Saya kurang mengerti bagaimana spiritualitasnya tumbuh di musim panas seperti ini. dia bilang begini:

Lha iyo. Baru diambil sedikit saja—sedikit sekali—nikmat Allah kita langsung kelimpungan begini. Padahal juga gak sat sat banget loh sumur e. Lah nek nikmat-nikmat liyane dipundut po gak cengep-cengep jal.

Saya tersindir—saya yakin isteri saya gak bermaksud nyindir. Pada malam sebelumnya kami membahas sumur kami yang kering. Kebanyakan dari obrolan itu cenderung keluh kesah. Seolah-olah kami sudah sangat menderita. Selain mengungsi untuk mencuci pakaian, kami juga ngangsu air dari sumur tetangga. Sampai ada pilihan untuk pindah. Padahal hanya masalah sumur yang mengalami pengurangan debit air. Sementara, nikmat kami masih bisa makan, minum, dan salat, luput disyukuri.

Dua tahun lalu, musim kemarau sampai di puncaknya pada September dan Oktober. Tahun ini barangkali akan sama.

Lalu, iseng-iseng saya cari informasi tentang musim panas tahun 2017 ini. Dapatlah rujukan dari kompas online.  Katanya, suhu udara kali ini terasa lebih panas karena potensi curah hujan lebih sedikit dari tahun lalu. Di beberapa daerah, hujan sudah cukup lama tidak turun, termasuk di Lampung. Selain itu, di laman BMKG disebutkan bahwa Oktober-November adalah permulaan musim hujan. Akan ada 76 wilayah yang akan mengalami permulaan hujan.

Semoga prakiraan-prakiraan tentang musim kemarau-hujan itu diamini oleh penghuni langit. Tapi jangan segera-segera banget, kasihan tetangga kami yang sedang nurunin genting.

About the Author:

Bermimpi boleh saja. Tapi bayangkan kalau orang berani bermimpi tapi tidak berani mewujudkan.

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.