Awal bulan oleh beberapa keluarga berarti budgeting pembayaran tagihan listrik, PDAM, kebersihan, belanja dapur, dan kredit ini itu. Barangkali ada yang memiliki daftar lebih banyak lagi. Dan bersyukurlah kalau daftar tagihan-tagihan itu sudah terlunasi. Termasuk ke dalam daftar orang-orang yang dikejar-kejar oleh tagihan-tagihan adalah keluarga saya.

Pagi tadi petugas kebersihan lingkungan datang. Mengambil sampah yang sudah terbungkus rapi dalam kantong plastik. Pintu pagar diketuk beberapa kali. Pahamlah kami. Karena isteri sedang berhajat di kamar mandi sayalah yang menyerahkan uang tiga puluh ribu. Terimakasih ya, ucapnya. Sama-sama Pakde, jawab saya.

Selesai berhajat istri saya langsung bertanya mana kembalian iuran kebersihan. Saya terdecak kaget. Saya kira tidak kira pas tiga puluh. Saya meminta supaya yang lima ribu diikhlaskan saja. Tapi saya mendapat jawaban yang luar biasa, ‘lima ribu juga lumayan. Bisa buat beli bumbu bakso Sony!’

 

Melakukan hal biasa untuk nilai yang luar biasa

Awal bulan ini terasa jauh lebih sejahtera dari awal-awal bulan sebelumnya. Kesejahteraan keluarga saya meningkat dari yang hanya sarapan sambel tempe dan ikan asin rebus kini ada tambahannya: daging sapi.

Idhul Adha berbeda dengan idhul Fitri. Pada Idhul Adha tidak terjadi inflasi keuangan di keluarga saya seperti saat Idhul Fitri. Paling-paling istri saya menambah sedikit uang belanja untuk bumbu dapur. Tidak lebih. Tak perlu beli baju atau kue-kue segala macam.

Kebesaran hati para pe-qurban ternyata bersemai diwajah orang-orang tak berpunya seperti saya. Rejeki setahun sekali sangat kami syukuri. Apalagi saya tidak perlu antri mengular berpuluh-puluh meter untuk menukar kupon jatah qurban. Tetangga yang baik hati menolong kami mengambilkan jatah karena saat pembagian daging qurban saya mengajak istri untuk pulang bersilaturahmi.

Dari kebaikan-kebaikan yang mengalir pada kami itu saya jadi malu karena urusan uang lima ribu. Padahal semua itu tidak ternilai. Balasan dari kami yang paling utama hanyalah doa: semoga Allah berkenan menerima qurbannya dan berkah mengalir berkah sepanjang hidupnya. Lalu apa beratnya membiarkan yang lima ribu itu?

Barangkali karena kita sering disibukkan oleh hal-hal sepele, atau oleh remeh temeh yang membuat keder tekad kita. Ada orang yang enggan silaturrahim ke sanak famili yang jauh jaraknya hanya karena keengganan berkorban menempuh kemacetan dan bahan bakar. Atau enggan melakukan ini itu karena begitu bangganya pada diri sendiri—barangkali gengsi karena kekayaan, jabatan, atau keilmuan. Padahal di balik itu semua ada nilai (value) yang tak ternilai, seperti kepuasan atau spiritualitas.

Lalu, saya memetik buah pemahaman dari beberapa peristiwa yang secara beruntun saya saksikan. Berkorban dalam skala besar atau kecil akan menuai buah yang sama. Besar dan kecil tentu saja relatif tapi buahnya barangkali sama: kebahagiaan.