Month: October 2017

Tanom dan Penjual Jamu

Tanom meninggalkan rumah. Ia mengayuh sepedahnya dengan kencang beradu cepat dengan sepeda motor. Lalu sampailah di persimpangan yang padat. Setiap hari kendaraan mengular di persipangan itu. Saat pagi, setiap pagi, kalau tak ada polisi, semua ingin jadi nomor satu. Tanom mulai mengayuh pelan. Melewati sela motor dan mobil. Semuanya berjalan lancar. Lalu tiba-tiba terdengar suara decit ban mobil. Brak!!! Sebuah motor terjungkal di sampingnya disundul mobil dari belakang. “Kampret!! Kalau ngerem kira-kira dong!” Umpat pengendara mobil sambil membanting pintu. Pengendara motor yang sama geramnya tak mau kalah. Ia bangun. Bediri tegak. Alih-alih peduli motornya yang tergeletak, ia malah menghadang pengendara mobil yang mencium ban belakang motornya. “Kalo gak bisa bawa mobil, buang aja!” Balasnya. Adu mulut pun terjadi. Yang satu menaikkan suara dibalas dengan suara yang lebih keras lagi. Mereka benar-benar sarapan pagi rupanya. Pertengkaran mereka diiringin klakson sana-sini. Sayangnya, tak banyak yang peduli karena setiap orang sedang buru-buru. Satu dua orang melihat dari kejauhan. Ada pula yang mendekat. Ada yang ingin merelai tetapi ragu. Lalu ada yang memberanikan diri berbicara tapi bukan untuk merelai. “Pak, ributnya jangan di tengah jalan. Banyak yang mau lewat.” Alih-alih ingin merelai orang-orang itu melihat Tanom yang menuntun seorang nenek ke pinggir jalan. Sama dengan dirinya, nenek itu nggowes sepedah. Di belakangnya bakul berisi jamu tradisional. Kedua orang itu masih saling menuduh dan menyalahkan. Si pengendara motor beralasan mengerem karena di depannya pun...

Read More

Perempuan yang Selalu Duduk di Dekat Jendela

Aku sering merindui mereka, orang-orang yang datang dengan aroma dan raut muka yang berbeda: canda-tawa mereka yang timbul dari kenangan diceritakan ulang; mimpi-mimpi yang dikejar dan sering hilang hanyut oleh hingar bingar. Sering kali kukulum senyum sendiri ketika mendengar bahan pembicaraan mereka yang merambat sampai ke telinga. Bukan sekali dua kali pula aku tertelan dalam kerumunan mereka ketika tidak ada lagi pelanggan yang datang. Tentu aku kenal mereka, wajah-wajah mereka, ritme kedatangan mereka, bahkan makan dan minuman yang biasa mereka pesan. Inilah kedai kami. Kedai kopi yang diwariskan oleh orang yang paling kami cintai. Kota yang disesaki manusia dengan...

Read More

Samuel Mulia – Body Lotion

Sam“Sedih deh gue, kayaknya bakal kehilangan temen, nih.” Demikian BBM yang saya terima pada saat mendengarkan celoteh klien di sebuah ruang rapat. Kemudian, saya membalas dengan menanyakan, bagaimana itu bisa terjadi. Dan selanjutnya, anda pasti tahu, kalau saya tenggelam dalam keasyikkan mengirim dan menerima pesan itu, dan membuat konsentrasi di ruang rapat yang awalnya seratus persen menjadi setengahnya.   Kulit kering Soal kehilangan, saya jadi teringat saat ibu dan ayah sedang menghadapi ajal. Saya menulis kata ibu sebelum kata ayah karena ibu game over terlebih dahulu. Tetapi, untuk kejadian yang berbeda waktunya itu, benang merahnya sama. Saya berdoa merayu-rayu...

Read More

Samuel Mulia – Badai

Mungkin beberapa dari Anda mengalami seramnya hujan badai beberapa hari lalu. Mengapa saya tuliskan beberapa, karena untuk beberapa teman yang tinggal di luar Jakarta Pusat, pengalaman sekitar pukul 03.00 itu sama sekali tak mereka alami. Pelajaran pertama dan kedua Dan gara-gara saya tak tahu hujan badai datangnya tak merata, beberapa dari mereka naik pitam karena BBM saya yang menyarankan untuk berdoa dan berhati-hati. yaaa… begituah. Acap kali kita mau membantu orang lain karena alasannya hanya ingin agar mereka selamat, tetapi malah jadi bumerang karena membuat mereka panik. Banyak pelajaran yang saya petik dari kejadian hujan badai yang menakutkan itu....

Read More

Belajar dari Luqman al-Hakim dalam Mendidik Anak

Kota Makkah adalah kota yang kompleks. Kota metropolis. Pusat perniagaan sekaligus spiritualitas. Mereka menjalani kehidupan dengan sangat keras layak hidup di kota-kota besar jaman sekarang. Karena peperangan mereka sangat mendambakan memiliki anak laki-laki sehingga kelahiran anak perempuan dianggap aib. Kapitalisme mengakar kuat dari sistem pasar hingga rampasan perang. Kemanusiaan pada masa itu rapuh sekali. Di kota seperti itulah Rasulullah terlahir. Sebagian hidupnya mengikuti tradisi masa itu sekaligus bersih dari kejahiliyahan masyarakatnya. Beliau tetap mengikuti tradisi “persusuan” tapi terbebas dari kebiasan jamuan makan “ad-da’bu”. Beliau tumbuh menjadi anak yang cemerlang dan berkembang menjadi remaja yang gemilang. Beliau menjadi sosok yang...

Read More

Recent Tweets