Kota Makkah adalah kota yang kompleks. Kota metropolis. Pusat perniagaan sekaligus spiritualitas. Mereka menjalani kehidupan dengan sangat keras layak hidup di kota-kota besar jaman sekarang. Karena peperangan mereka sangat mendambakan memiliki anak laki-laki sehingga kelahiran anak perempuan dianggap aib. Kapitalisme mengakar kuat dari sistem pasar hingga rampasan perang. Kemanusiaan pada masa itu rapuh sekali.

Di kota seperti itulah Rasulullah terlahir. Sebagian hidupnya mengikuti tradisi masa itu sekaligus bersih dari kejahiliyahan masyarakatnya. Beliau tetap mengikuti tradisi “persusuan” tapi terbebas dari kebiasan jamuan makan “ad-da’bu”. Beliau tumbuh menjadi anak yang cemerlang dan berkembang menjadi remaja yang gemilang. Beliau menjadi sosok yang jujur—sosok yang langka pada masa itu karena setiap orang saling melakukan tipu muslihat.

Kepribadian Rasulullah adalah antitesa dari masyarakat Arab.

Kuncinya adalah pendidikan. Rasulullah dididik langsung oleh sang Maha Pengasuh alam semesta dengan Jibril sebagai juru rawatnya. Pendidikan yang dimulai sejak dini. Saya kira kita pernah mendengar kisah tentang Rasulullah kecil yang diajak untuk menghadiri jamuan pesta makan malam. Beliau turut hadir di sana tetapi Allah menyelematkannya dengan memberi rasa kantuk yang luar biasa sehingga beliau tertidur. Dan kisah-kisah menakjubkan lainnya yang menunjukkan betapa Allah sendirilah yang membimbingnya.

Istilah pendidikan dalam terminologi bahasa Arab bisa merujuk pada kata tarbiyyah, ta’lim, dan tadris. Masing-masing memiliki tujuan dan metode yang berbeda. Meskipun demikian, kita tidak perlu terlalu lama berjibaku dalam perselisihan istilah tersebut tetapi kita ambil semangat dan ruhnya, yaitu membuka tabir yang menghalangi cahaya ilmu pengetahuan Ilahi.

Terpenting dalam pendidikan usia dini adalah pengenalan nilai-nilai melalui pembiasaan. Mengajarkan nilai ta’äwun (pengejewantahan dari wata’äwanü ála l-birri wa t-taqä) tidak dengan cara menjelaskan definisinya tetapi melalui pembiasaan dan praktik-praktik. Seperti mengajak menata dan merapikan barang milik pribadi di rumah supaya meringankan tugas ibu. Serta nilai-nilai qurani lainnya yang kita tanamkan kepada anak.

Alquran dan sunnah adalah induk semang dari segala pendidikan. Nilai dan dasar pendidikan terdapat di dalam keduanya. Tinggal kita mau atau tidak mempelajarinya. Rasulullah adalah Alquran yang berjalan. Sunnah yang ada dalam dirinya adalah pengejewantahan “teks” ke dalam “konteks”; dari pendidikan di keluarganya sampai pendidikan di lingkungannya; dari pendidikan nilai-nilai yang radikal sampai yang toleran; dari diri Rasulullah kepada seluruh alam semesta.

Salah satu kisah tersohor mengenai cara Rasulullah mendidik anak-anak adalah ketika Rasulullah tetap membiarkan cucunya meminta gendong beliau padahal saat itu beliau sedang menunaikan salat. Alih-alih membatalkan salat, Rasulullah justru tetap melanjutkan salatnya, memegangi cucunya tercinta di setiap gerakan supaya ia tidak terjatuh.

Hikmah yang bisa kita petik dari kejadian itu adalah bahwa anak-anak memiliki kecenderungan untuk bermain sekaligus ia meniru apa yang dilihatnya. Maka tugas orangtua dan juga guru, adalah menunjukkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, baik dalam ubudiyyah atau dalam kegiatan sehari-hari, supaya menjadi potret model yang ideal untuk ditiru.

Perilaku dan tutur kata yang belum/tidak layak dikonsumsi oleh anak harus disembunyikan. Bukannya mengajari ketidakjujuran dan ketidakterusterangan, tetapi nalar dan logika anaklah yang mungkin belum matang. Guru dan orangtua haruslah bijaksana dalam memilih permasalahan di luar konteks anak-anak yang patut dan tidak patut untuk mereka ketahui.

 

Belajar dari Kisah Luqman Al-Hakim

Kisah tentang Luqman adalah salah satu kisah dalam Alquran yang bisa kita ambil hikmah. Luqman adalah seorang budak hitam dari Habsyah. Derajatnya diangkat sangat tinggi. Konon, ada seorang yang mendatanginya dengan raut wajah heran.

“Bukankah engkau penggembala kambing?” Tanya lelaki itu.

Luqman menjawab, “Benar!”

“Lalu apakah yang menghantarkanmu sampai pada derajat yang begitu tinggi seperti sekarang ini?”

Luqman pun menjawab, “Benar dalam berbicara dan diam terhadap hal-hal yang bukan menjadi urusanku.”

Terlebih tentang Luqman, saya ingin merujuk kepada Athfälu al-muslimïn, kaifa robbähum an-nabiy al-amïn yang ditulis oleh Jamaal Abdur Rahman. Kita dapat mengambil beberapa nasehat dari surat al-Luqman yang bisa kita jadikan pedoman untuk mendidik putra-putri kita.

 

Pesan Pertama, Tauhid

Dalam ayat ke-13 diceritakan bahwa yang pertama-tama diajarkan Luqman kepada anaknya adalah mengenai tauhid. Ia berpesan, “Hai anakku, jangan sekali-kali mempersekutukan Allah,” tidak cukup dengan memberikan pelarangan tetapi ia pun memberi alasan dengan mengatakan, “(karena) sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang amat besar.

وَإذْ قَالَ لُقْمنُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعظُهُ يبُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِالله إن الشِرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ. (لقمن: 13)

Aqidah adalah perihal yang sangat penting yang pertama-tama ditanamkan kepada anak. Kokohnya aqidah yang genggam oleh anak akan menimbulkan pengaruh kepada aktivitas-aktivitas selanjutnya. Ia mungkin akan bersedih atas kemalangan yang menimpanya tapi ia tidak akan meratap karena ia mengetahui hikmah dari kemalangan tersebut.

 

Pesan Kedua, Mawas Diri

Dalam perjalan spiritual kita mungkin pernah mengalami masa-masa saat shalat begitu khusyuk dalam keramaian dan begitu cepat seperti menyeruput kopi panas dalam kesendirian. Atau merasa putus asa ketika perbuatan baik yang kita lakukan tidak mendapatkan apresiasi. Alih-alih mendapatkan apresiasi, setitik kesalahan yang pernah dilakukan justru diungkit terus menerus.

Pada nasehat kedua, Luqman mengingatkan anaknya supaya menjalani kehidupan dengan terus mawas diri karena sekecil apapun amal yang dilakukan, bersama-sama atau pun sendiri, disembunyikan serapat-rapatnya, seseungguhnya Allah mengetahui hal tersebut dan Dia akan datang dengan membawa balasannya.

يبُنَيّ إنها إن تَك مِثْقالَ حَبةٍ من خَرْدلٍ فتكُن في صَخْرة أو في السموت أو في الأرضِ يَأتِ بها الله إن الله لطِيْفٌ خَبِيْر. (لقمن: 16)

“Hai anakku,” kata Luqman, “sesungguhnya jika ada perbuatan seberat biji sawi dan disembunyikan di dalam batu, di langit, atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatanginya dengan membawa balasan yang setimpal.” Tak sedikitpun yang akan luput dari pengetahuan-Nya karena “Sesungguhnya Allah mahahalus lagi Maha Mengetahui.”

 

Pesan Ketiga, Aqidah dan Akhlak

Setelah berpesan mengenai dua hal mendasar di wilayah aqidah dan akhlak, selanjutnya Luqman menyampaikan nasehat tentang wilayah syariah. Ia berpesan kepada anaknya supaya menegakkan shalat (ayat ke-17).

يبُنَيّ أقم الصلوة وأمُرْ بالمَعْروفِ وانْهَ عن المنكر واصبِر عَلَى مَا أصابَك إن ذلك مِن عَزْم الأُمُــــوْرِ. (لقمن: 17)

Nasehat ini menjadi petunjuk bagi kita bahwa agama-agama samawi telah memerintahkan umat pemeluknya untuk menunaikan shalat. Yang membedakan shalat antara syariat sebelum Rasulullah dengan syariat ajaran Rasulullah adalah tata cara ibadahnya. Dan mengenai hal ini, kita bisa merujuk pada kitab-kitab turots.

Tidak hanya shalat Luqman pun mengajak supaya anaknya menyeru manusia untuk melakukan kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang munkar. Ibnu katsir menjelaskan bahwa memerintahkan perkara yang baik dan mencegah perkara yang munkan menurut batas kemampuan dan jerih payahmu karena pastinya dalam amr bil ma’ruf dan nahy án munkar akan mengalami rintangan dan gangguan dari orang lain. Untuk menguatkan hati anaknya, Luqman menyampaikan supaya ia bersabar dalam menjalankan perintah-perintah tersebut: shalat, amar ma’ruf, dan nahyu ánil munkar.

Ada pendapat lain bahwa Luqman memerintah anaknya supaya bersabar dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup di dunia (álä mä ashöbak, atas apa yang menimpamu) dan jangan sampai ketidaksabaran menghadapi hal tersebut menjerumuskanmu dalam perbuatan durhaka kepada Allah.

 

Pesan Keempat, Hubungan Antar Manusia

Lalu sampailah nasehat Luqman kepada anaknya perihal hubungan antar manusia, kesopanan dalam bersosialisasi. Ia mengatakan, “Dan kamu janganlah memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan jangan pula berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (ayat ke-18)

ولا تُصَعِّر خدَّكَ للناس وَلا تَمشِ فِي الأرْضِ مَرَحً إن الله لا يحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْر. (لقمن: 18)

Dengan hati-hati Luqman memerintahkan supaya anaknya tidak sombong dengan cara memalingkan wajah. Memalingkan wajah adalah salah satu ekspresi kesombongan dan masih banyak lagi cara orang mengekspresikan kesombongan. Sho’ir khoddaka adalah kiasan. Makna aslinya adalah unta yang mengalami sakit pada sendiri punuknya yang membuat wajahnya tidak bisa tegak dan memalingkan muka.

Sumber kesombongan juga bermacam-macam. Ada kalanya bersumber dari kebanggaan atas diri sendiri karena perbuatan baik; atau menganggap orang lain remeh karena kesalahan atau dosa yang dilakukan.

Imam al-Qurthubi menafsiri ayat ini bahwa kita hendaknya berprilaku simpatik dan menawan kepada lawan bicara kita. Menatap wajahnya, bukan memaling wajah saat berbicara.

 

Pesan Kelima, Pola Komunikasi

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam hubungan antar manusia adalah pola komunikasi. Luqman menasehati anaknya supaya baik-baik berkomunikasi dengan mereka.  Setelah mewanti-wanti supaya menjaga sikap dari sifat tercela, kali ini Luqman mengingatkan supaya anaknya senantiasa berhias diri dengan akhlak terpuji. Hai anakku, sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuh-buruk suara ialah suara keledai (ayat ke-19).

Al-qoshdu, menurut imam Qurthubi, adalah cara jalan yang tidak terlalu cepat tidak pula terlalu lambat. Mengenai hal ini Rasulullah bersabda:

سُرْعَةُ المَشْي تُذْهِــبُ بَهَاءَ المُؤْمِنِ. (الحَدِيْث)

“Cara jalan yang cepat akan menghilangkan keanggunan orang mukmin.”

Tentu saja kecepatan dalam berjalan ini disesuai dengan adat dan tata krama di lingkungan masing-masing. Bisa jadi kita hidup di lingkungan di mana orang berjalan pelan dan bisa jadi di lingkungan yang lain justru berjalan berkali-kali lebih cepat. Kita pun dapat merujuk kepada ayat lain untuk menjelaskan maksud ayat ini, yaitu:

وَعِبَادُ الرَحْمن الذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الأرْض هَوْنًا (الفرقان: 63)

“Dan hamba-hamba yang baik dari Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) mereka yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati”

Selain dengan cara jalan, adakalanya seseorang menunjukkan kesombongannya melalui suaranya yang meninggi dan juga bahasa yang mengungguli lawan bicaranya. Allah menyindir orang-orang yang meninggikan suaranya seperti suara keledai. Mengapa perumpamaan yang dipilih adalah keledai?

Di lingkungan Arab berlaku ejekan sangat keras, salah satunya adalah menyamakan seseorang dengan keledai. Bagi kita, masyarakat Indonesia, mempersamakan dengan keledai mungkin tidak begitu keras karena secara adat dan budaya memang berbeda. Wallahu a’lam bish showab.

 

Nilai pendidikan

Dari nilai-nilai yang diajarkan oleh Luqman di atas kita bisa mengambil pelajaran tentang pentingnya pendidikan aqidah sebagai pondasi bagi anak. Tidak hanya perihal aqidah yang diajarkan, kesadaran untuk menunaikan ajaran (syariah) juga harus ditanamkan sejak dini.

Mengingat kita sebagai manusia dan hidup dalam lingkungan sosial, maka diperlukan kesadaran kolektif untuk menjaga harmoni di dalam masyarakat. Tasamuh dan saling menghormati adalah output dari kesadaran relijiusitas. Semoga pendidikan di lingkungan keluarga dan sekolah dapat tegar berjalan dan kokoh dari berbagai godaan.