Aku sering merindui mereka, orang-orang yang datang dengan aroma dan raut muka yang berbeda: canda-tawa mereka yang timbul dari kenangan diceritakan ulang; mimpi-mimpi yang dikejar dan sering hilang hanyut oleh hingar bingar. Sering kali kukulum senyum sendiri ketika mendengar bahan pembicaraan mereka yang merambat sampai ke telinga. Bukan sekali dua kali pula aku tertelan dalam kerumunan mereka ketika tidak ada lagi pelanggan yang datang. Tentu aku kenal mereka, wajah-wajah mereka, ritme kedatangan mereka, bahkan makan dan minuman yang biasa mereka pesan.

Inilah kedai kami. Kedai kopi yang diwariskan oleh orang yang paling kami cintai. Kota yang disesaki manusia dengan hasrat konsumtif yang haus akan sebuah ruang untuk relaksasi, kongkow-kongkow, atau menghabiskan akhir pekan dengan gebetan. Sebuah ruang ramai yang menenangkan. Sekaligus menjadi ruang remang untuk mendamaikan perasaan.

Pelanggan-pelanggan itu terus silih berganti, sebagian masih setia.

Hingga suatu hari datang seorang yang benar-benar baru. Dua bulan yang lalu. Di sudut kedai ia mengambil tempat duduk. Sejenak ia terdiam dan mengeluarkan selulernya, menggulir layar sentuh, tersenyum simpul, lalu kembali memasukkan selulernya ke dalam tas jinjing. Tak lama setelah itu pandangan matanya menyisir interior kedai, mengambil daftar menu yang tergeletak di depannya, dan kembali melihat sekitar seperti sedang mencari seseorang. Ketika kedua matanya berhenti padaku, tangannya diangkat setinggi bahu.

“Expresso.”

Ia hanya mengucapkan ‘expresso’. Tidak ada kata-kata lain. Barangkali ia sedang puasa kata-kata, atau mungkin ia mencari petualangan baru dengan keluar malam selarut ini seorang diri.

Ketika kuhidangkan secangkir kopi ini ternyata ia sudah tidak sendiri lagi. Ia ditemani buku entah karangan siapa. Kupersilahkan dengan ramah. Namun tanggapannya masih dingin. Bahkan berterimakasih pun tidak. Senyumku pun tidak dibalas. Ia lebih memilih dunianya sendiri.

Seminggu kemudian ia datang lagi. Di hari yang sama: Rabu malam. Lagi-lagi ia duduk di tempat yang sama. Mengeluarkan selulernya, menggulir layar sentuh, tersenyum simpul, lalu kembali memasukkan selulernya ke tas jinjing. Aku pun mendahuluinya berdiri tepat di depannya sebelum sempat mengangkat tangannya. Ia mengangkat kepala, menatapku dengan sorot matanya yang lembut di balik kaca matanya, senyumnya tampak masih berat untuk diberikan kepada orang yang tak dikenal.

“Expresso.”

Ia kembali memesan kopi hitam pekat itu, dan hanya kata expresso yang keluar dari bibirnya yang licin oleh glossy. Tidak ada kata-kata lain. Dari tasnya ia mengeluarkan sebuah buku setebal jari telunjuk. Kupersilahkan dengan ramah, ditambah bonus senyum, tapi ia tetap dingin. Sepertinya ia lebih menginginkanku segera pergi karena ingin kembali pada dunianya.

Dari kejauhan aku memandanginya. Terbesit dalam fikiranku kalau saja aku berada satu meja dengannya, mengajaknya berbicara tentang pohon-pohon di trotoar yang menggugurkan daunnya yang menguning, tentang ombak yang gemericiknya menggelikan telinga, atau tentang kopi yang selalu menjadi teman bagi pecinta buku. Ya, aku dan dia. Si pembuat kopi dan si penikmat buku.

Aku meringis. Menertawai diri sendiri. Khayalan yang keterlaluan. Tapi aku pun coba membenarkan diri. Lihat saja sekeliling. Tidak ada yang duduk terpekur sendiri seperti dia. Oia, dia, siapa namanya? Entahlah.

Dan begitulah selama dua bulan ini. Rabu malam, di meja yang sama dengan pesanan yang sama. Jam sebelas malam sampai dini hari dia duduk di sana sendiri. Dengan buku yang tebal, kadang tipis, sesekali mengeluarkan gadget-nya untuk menulis sesuatu. Entah apa. Sekali ia pernah meminta maaf karena tidak kunjung pergi padahal sudah duduk di sudut kedai selama hampir dua jam.

Hingga hari ini aku merindukannya. Benar-benar merindukannya, merindukan kesendiriannya, merindukan khayalanku untuk duduk bersamanya dan menemaninya dengan secangkir kopi dan buku. Rupanya sudah dua Rabu ia tidak datang. Mungkin aku hanya merindui rutinitas mekaniknya. Dahulu, pernah ada seorang pelanggan yang eksploratif mencoba semua menu setiap kali datang, ada juga yang ingin mencoba semua tempat duduk dengan pesanan menu yang sama. Akan tetapi, perempuan ini seperti mesin yang bergerak begitu-begitu saja. Rabu malam, pukul sebelas malam, dan cappucino.

Mungkin bukan itu yang kurindui. Kubayangkan lagi suara lembutnya ketika mengucap ‘expresso’, pelit senyumnya yang menantangku untuk memanipulasi keramahanku –aku curi-curi senyumnya dari kejauhan ketika ia seperti tergelitik saat membaca, atau rambutnya yang diikat ekor kuda. Ia mungkin memang tidak akan datang lagi. Kalau memang demikian, maka aku yang harus mendatanginya kali ini.

Awan tipis merambat pelan menutup bintang. Bulan sabit yang tadi sore tampak tajam menyayat langit telah lenyap di ufuk barat. Langkah-langkahku pun merambat pelan diiringi bintang menyusuri jalanan.

Jalanan boleh menjadi sepi dan lapak-lapak penjual rokok eceran dan minuman mineral sudah semakin sedikit yang tampak. Dan karena jalan semakin lengang, orang-orang berkendara ngebut keranjingan. Begitu pula isi dadaku, setelah hanya ditemani lampu mercury di taman kota ini gemuruh di dalamnya seperti air bah yang membanjiri.

Telah datangi satu demi satu café-café di kota kecil ini, atau tempat sunyi sebagai persinggahan orang-orang semacamnya, tak kutemukan dirinya juga. Hati semakin bergemuruh. Dan masih ditemani lampu mercury ini aku seperti kehilangan ruh.

Perempuan yang kucari itu, yang entah bernama siapa, mungkin sudah tidak lagi tinggal di kota ini. Ibarat terminal, kota ini hanyalah persinggahan baginya sebelum berlabuh di tempat yang dituju. Mungkin saja di kota ini ia hanya memungut ide, inspirasi, atau menemukan kesegarannya kembali dan setelah didapat ia pergi kembali ke tempat ia bermula. Lalu buat apa kekonyolan ini saya lakukan, mengejar jejak yang tidak berbekas?

Dan setelah semua kegemasan pada diri sendiri ini mulai bisa kukendalikan aku kembali pada keramahtamahan yang beberapa hari ini aku tinggalkan.

Beberapa teman sudah menunggu di sana. Ada juga pelanggan yang berhamburan di sana-sini. Saat kumasuki caféku sendiri ada kekuatan magic yang menarik langkahku untuk menuju ke meja di sudut dekat jendela. Tatapanku menjadi nanar. Ada yang membayang dalam selaput mataku. Bayangan itu tidak kunjung tampak jelas.

Bayangan itu belum juga menjadi jelas, sampai akhirnya seseorang menepuk pundakku dan buyarlah semuanya.

“Ada titipan buatmu.”

Suara yang datang dari balik punggung mengiringi sebuah bingkisan yang disodorkan melewati pundakku. Warna hitam kelam. Ada sebuah pita putih di salah satu sudutnya. Aku tidak mengerti makna warna dan pita itu. Aku tenggelam dalam kepenasaran.

Kertas kado hitam itu membungkus sebuah buku. Sampulnya seperti gambar grafiti. Di sudut kanan bawah menunjukkan sebuah nama yang asing. Nama itu belum pernah kurekam dalam kepalaku. Di bagian belakang buku baru kutemui siapa penulis buku itu, di bagian profil penulis. Seorang perempuan yang kikir menebar senyum, seorang perempuan yang hanya bisa mengucapkan kata ‘expresso’. Dan kini ia menebar senyum dalam sampul buku.

Ada selembar kertas yang diselipkan. Ada pesan kecil yang ditulis dengan ukiran tulisan tangan yang indah. ‘Terimakasih untuk suguhan expressomu yang menyegarkan’.

Aku terkesima. Senyum yang sedikit, yang kuintip di sela-sela kesibukanku, terekam dalam hati. Dan setiap hari rabu, menjelang dini hari, mataku seperti menanti seseorang di sudut kedai dekat jendela. Mungkin ia akan datang kembali.