Samuel Mulia – Body Lotion

Samuel Mulia – Body Lotion

By | 2017-10-16T08:20:10+00:00 October 14th, 2017|Pamor|0 Comments

Sam“Sedih deh gue, kayaknya bakal kehilangan temen, nih.” Demikian BBM yang saya terima pada saat mendengarkan celoteh klien di sebuah ruang rapat. Kemudian, saya membalas dengan menanyakan, bagaimana itu bisa terjadi. Dan selanjutnya, anda pasti tahu, kalau saya tenggelam dalam keasyikkan mengirim dan menerima pesan itu, dan membuat konsentrasi di ruang rapat yang awalnya seratus persen menjadi setengahnya.

 

Kulit kering

Soal kehilangan, saya jadi teringat saat ibu dan ayah sedang menghadapi ajal. Saya menulis kata ibu sebelum kata ayah karena ibu game over terlebih dahulu. Tetapi, untuk kejadian yang berbeda waktunya itu, benang merahnya sama. Saya berdoa merayu-rayu Tuhan supaya mereka bisa sembuh dan tidak “pulang ke rumah” terlalu dini. Alhasil, doa dijawab dengan jawaban yang tidak berkenan untuk saya.

Tuhan bisa saja menyembuhkan, tetapi saya harus dinaikkan kelas supaya bisa lebih pandai dengan mengerti arti kehilangan. Karena saya ini terlalu biasa kalau sakit selalu minta sembuh. Kalau sembuh, mulutnya cepat mengatakan, Tuhan baik. Saya tak pernah mengatakan, Tuhan itu baik kalau saya tidak sembuh dan kehilangan.

Kehilangan itu membebaskan saya dari berpikir egois. Contohnya begini. Saya ingin orangtua tetap saya miliki, tetapi lupa kalau mereka hidup, itu adalah hidup dengan sesak napas setiap saat, mata yang sudah tak melihat, dan telinga yang susah mendengar, sehingga sering kali malah berantem karenanya. Saya ingin meraka ada, tetapi saya tak mau menempatkan sebagai yang sesak napas, budek, dan tidak bisa melihat.

Saya punya teman yang memiliki kepribadian sangat negatif. Awalnya tak masalah, saya sangat menyadari kami ini sama-sama manusia dengan sejuta kelamahan. Tetapi, makin hari, kekuatan aura negatifnya semakin kuat dan sudah mengeringkan saya, dan saya nyaris KO.

Kalau dimisalkan kondisi kulit, maka pada awal pertemanan kami, kondisi kulit saya indah karena kelembabannya terjaga. Tetapi, lama-lama menjadi kering dan pecah-pecah seperti tanah gembur yang berubah menjadi kering kerontang. Dan sebelum saya menjadi KO dan benar-benar pecah, saya mengundurkan diri. Pengunduran diri itu menyedihkan, tetapi sekaligus mengembalikan kelembaban kulit saya.

 

Tiga Folder

Melalui peristiwa itu, saya belajar sesuatu bahwa kehilangan teman, orang tua, atau siapa pun itu adalah sebuah perjalanan yang membuat hidup itu lengkap. Kehilangan tak negatif malah menjadi pintu masuknya sebuah pengalaman baru yang mengembalikan kegemburan tanah dari keretakan yang ditimbulkan pihak kedua, ketiga, dan kesejuta. Kehilangan itu bisa mengubah anda menjadi the better you.

Anda dan saya perlu berteman, artinya menerapkan dengan nyata makna manusia adalah mahluk sosial. Tetapi, di dalam perjalanan menjadi mahluk sosial selalu saja ada kerikilnya. Sama saja seperti naik kapal terbang ada saja turbulensinya.

Maka, setelah hidup nyaris lima puluh tahun, saya mengambil langkah-langkah berteman. Ini saran saya saja. Pertama, dengan menggunakan dada yang lapang saya menerima siapa saja. Kedua, saya bersosialisasi sehingga paling tidak saya makin tahun teman-teman pada butir satu sesungguhnya. Langkah kedua ini membutuhkan waktu cukup panjang untuk mengetahui seberapa besar atau kecilnya kerikil, atau turbulensi, ketika bersama mereka. Ini berguna saat saya melangkah ke step berikutnya.

Ketiga, sebagai langkah terakhir, saya menyeleksi teman-teman yang sejuta banyaknya itu. Seleksi ini berguna agar tanah saya yang gembur tak menjadi kering kerontang. Penyeleksian itu harus dilakukan dengan akal dan nurani.

Nah, menurut pengalaman saya, semakin saya dekat dengan Sang Pencipta, semakin  peka saya dibuatnya. Kepekaan itu yang memampukan untuk menempatkan teman-teman pada folder-nya masing-masing. Saya memiliki tiga folder. Ada folder untuk teman yang akan saya simpan seumur hidup, ada yang hanya untuk dah-nek dah-nek atau cipika-cipiki, dan terakhir folder untuk teman yang harus saya tinggalkan.

Kalau Anda merasa saya meperlakukan folder terakhir sebagai tong sampah, anda keliru besar. Mereka bukan sampah, mereka hanya membuat saya tidak gembur lagi. Bisa jadi untuk orang lain mereka bak body lotion yang melembabkan. Oleh karena itu, saya takakan memusuhi, mereka bukan musuh saya.

Kalau mereka kemudian berpikir demikian, itu hak mereka. Maka kalau Anda masuk ke dalam folder yang ketiga, sehingga Anda mengalami peristiwa di mana teman Anda pura-pura tidak melihat kalau berpapasan di  mal, saya sarankan sesuatu. Daripada Anda berasumsi yang tidak-tidak, mengapa Anda tidak berpikir sederhana saja dengan menyodorkan sebuah pertanyaan untuk diri anda sendiri.

Begini. Mengapa saya sampai masuk ke folder yang patut ditinggalkan? Daripada Anda kemudian menyebar cerita kemana-mana bahwa seseorang itu jahatnya setengah mati, padahal yang harus membenahi diri adalah diri Anda sendiri. Maka, cobalah berusaha menjadi body lotion  yang melembabkan kulit kering mulai sekarang. Anda siapa? Ready, set, go….

About the Author:

Bermimpi boleh saja. Tapi bayangkan kalau orang berani bermimpi tapi tidak berani mewujudkan.

Leave A Comment