Meliniearkan Hidup ke Pucak Langit

Meliniearkan Hidup ke Pucak Langit

By | 2018-06-11T07:19:09+00:00 June 11th, 2018|Jalan Setapak|0 Comments

Pada interview rekrutmen sering ditanya mengenai gaji yang diinginkan. Ada yang berani langsung berterus terang. Dalihnya adalah kemahiran dan untuk menghargai diri sendiri. Ada pula yang malu-malu menjawab. Kepada yang malu-malu ini sering menggiring ke arah: Tidak apa-apa. Jawab saja. Ini kan bentuk menghargai kompetensi diri.

Barangkali karena berulang-ulang didengar akhirnya mulai muncul pembenaran ‘oh ternyata sah menghargai diri sendiri dengan cara begini’.

Tentu saja ini bertolak belakang dengan apa yang diajarkan kepada saya saat nyantri kalong. Bahwa menuntut ilmu adalah satu kewajiban dan nglenggono ing urip adalah satu kewajiban yang lain. Gak bisa dikait-kaitkan. Kalau kita bekerja lalu mendapatkan kelapangan harta benda, itu adalah pandhum karena kita telah menyelenggara kehidupan. Gak pernah diajarkan kepada kami kalau kamu belajar A maka setelah lulus kamu menjadi A.

Akan tetapi nilai “nerima ing pandhum, nglenggono ing urip” (menerima segala bentuk pemberian, menyelenggarakan segala bentuk kehidupan) semakin surut.

Belakang baru saya menyadari bahwa hidup saya sangat transaksional. Saya bekerja begini maka saya mendapatkan ini. Saya menjalankan kewajiban maka saya mendapatkan hak (red: kenceng menyuarakan hak loyo menjalani kewajiban). Saya menjalankan job desc maka saya mendapatkan gaji.

Beberapa tahun lalu saya merasakan malu bukan kepalang gara-gara mengajukan upah tambahan atas apa yang sudah menjadi kewajiban saya dan tim. Rasa pede itu muncul karena kami sudah bekerja keras hingga hasil akhirnya begini. Padahal, memang tim itu dibentuk untuk mencapai hasil yang ditargetkan. Masalah bonus seharusnya tidak bersemayam di akal fikiran kami. Mosok iyo Yayasan begitu dangkal hingga tak melihat prestasi orang-orang yang di bawahnya?

Setelah kejadian itu termaafkan terlupakan, tahun ini saya mengulangi lagi. Duh!! –Saya gak berani cerita lebih lanjut.

Setelah rasa malu dan ewuh pakewuh ini menggelisahkan hati selama beberapa hari, dan sekarang mulai lupa, saya mengambil pelajaran tentang diri saya sendiri. Saya terdegradasi ke dalam rasa tamak yang luar biasa. Banyak motifnya. Rasa ingin menghargai usaha diri sendiri sampai ngebet nabung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Transfer ke rekening di akhir bulan memang lumayan tetapi harus dibayar dengan mahal. Seperti kehilangan rasa tentrem dari “kalau kita berbuat baik kepada oranglain maka akan ada oranglain lagi yang akan berbuat baik pada kita”. Atau setidaknya, hati dan fikiran ini jadi gemrungsung karena “saya melakukan apa saja supaya transferan ke rekening semakin banyak”.

Tulisan sentimentil ini memang saya bubuhkan untuk mengingatkan diri saya sendiri. Linieritas dalam diri kita seharusnya berbentuk vertikal, dari titik paling nadir ke titik paling pucak. Lalu biarkan titik langit meneruskan ke arah mana saja. Kausalitas kehidupan kita jangan dihorisontalkan. Apa iya sebagai guru terus-terusan mengejar gaji? Setiap guratan huruf dan angka yang tertera di papan tulis diakit-kaitkan dengan income sebagai bentuk penghormatan? Padahal menjadi bagian cahaya ilahi (bagi yang meyakini bahwa ilmu adalah Cahaya Allah) adalah sebesar-besarnya anugerah.

Sudah saatnya belajar menata kembali, melakukan defragmentasi fikiran dan perasaan, cukuplah Allah Taala yang memanajemeni hidup kita sehari-hari. Sebab sampai hari ini Allah Taala masih menjadi robbul älamïn dengan cara yang ar-rahmän ar-rahïm. Mercusuarnya adalah akal budi yang sehat.

About the Author:

Bermimpi boleh saja. Tapi bayangkan kalau orang berani bermimpi tapi tidak berani mewujudkan.

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.