Author: M Farhan Syakur

Salama

Di hari-hari biasa, ketika tak ada yang peduli dengan kepunahan kicauan burung di pagi hari, Salamah meneriaki anak yang bagai pinang dibelah dua itu untuk bersiap-siap berbelanja pengetahuan di bangku sekolah. Ia tentunya seorang ibu yang baik dengan mengirim mereka ke sana. Sembari meneriaki mereka tangannya dengan lincah meracik bumbu untuk makan yang akan matang ketika matahari setinggi dua tombak ke langit. Lalu, mereka berdua sarapan apa? Tidak pelak lagi bahwa mie instan sudah menjadi kebiasaan menahun. Pada jam istirahat pertama, mereka berdua –yang tua bernama Satin dan adiknya bernama Samin- akan kembali ke rumah untuk membayar hutang sarapan...

Read More

Kakek Bernama Utis

Saat matahari benar-benar terbenam di balik perbukitan dan cahayanya digantikan lampu neon dan pijar, sebuah percikan api menyita mata di sudut kegelapan. Berulang kali pelantiknya tidak menyalakan api karena angin dari rerumpunan bambu mengganggu. Meskipun tidak jelas wajah yang tersembunyi di balik bara api itu, kami bisa menebak kalau itu adalah Mbah Utis. Ia hidup penuh sahaja di sebuah bantaran sungai samping balai desa. Rerumpunan bambu yang kiranya menakutkan karena banyak kunti, justru begitu akrab buatnya. Bambu-bambu itu telah menjadi bagian dari rumahnya sendiri. Geribik, kursi, meja, sampai tiang penyanggah ia ambil dari sana. Semuanya dari bambu wulung dan...

Read More

Nur yang Tak Ingin Kehilangan Suaminya

Hitam semakin menelan serat-serta senja. Gugusan bintang tak lagi terang karena kalah oleh terang lampu jalanan. Sedangkan angin musim panas berhembus mengeringkan air. Nur duduk bersandar, mengusap-usap perutnya yang mengembang. Matanya memperhatikan setiap tamu yang datang. Pandangannya agak samar karena lampu penerang memang tidak benar-benar terang dan anyaman penjalin yang menabiri antara dirinya dan para tamu cukup rapat. Ruri duduk di sudut dekat Nur. Ia tak menyadari kalau di balik tabir penjalin itu keponakannya mengawasi wajahnya. Ia mengenakan kopiah putih yang semakin menambah kewibawaannya. Sesekali ia tertawa kecil, tentu saja bukan kepada Nur tapi kepada Din yang duduk memunggungi...

Read More

Menulis Adalah Pendakian

Setelah lama beristirahat akhirnya saya putuskan untuk kembali berangkat mendaki gunung itu. Saya yakin pasti akan ada rintangan lagi dan juga resiko. Tapi bukankah setiap pilihan selalu disertai resiko. Bukannya menantang resiko, tapi sekedar menyadarkan diri kalau resiko itu pasti ada. Ada banyak resiko yang akan dihadapi oleh pendaki gunung. Mungkin tergelincir atau tersesat lalu dehidrasi dan mati. Tetapi sebenarnya tidak usah takut dengan kehabisan bekal karena alam sudah menyediakan semuanya. Kalau kehabisan bekal silahkan petik buah atau berburu. Makan rumput juga boleh. Dan kalau saja tersesat, bersyukurlah karena kau baru saja menemukan daerah baru. Jadi kalau benar-benar tersesat,...

Read More

Recent Tweets