Category: Mataair

Perempuan yang Selalu Duduk di Dekat Jendela

Aku sering merindui mereka, orang-orang yang datang dengan aroma dan raut muka yang berbeda: canda-tawa mereka yang timbul dari kenangan diceritakan ulang; mimpi-mimpi yang dikejar dan sering hilang hanyut oleh hingar bingar. Sering kali kukulum senyum sendiri ketika mendengar bahan pembicaraan mereka yang merambat sampai ke telinga. Bukan sekali dua kali pula aku tertelan dalam kerumunan mereka ketika tidak ada lagi pelanggan yang datang. Tentu aku kenal mereka, wajah-wajah mereka, ritme kedatangan mereka, bahkan makan dan minuman yang biasa mereka pesan. Inilah kedai kami. Kedai kopi yang diwariskan oleh orang yang paling kami cintai. Kota yang disesaki manusia dengan...

Read More

Lain di Hati Lain Pula di Bibir

Usai menghabiskan malam bersama kekasihnya kawan saya mampir ke rumah kontrakan. Wajahnya sedikit lusuh, kehabisan tenaga seperti usai bertempur, dan nafasnya kembang kempis menahas galau di hatinya. Setelah meneguk segelas air yang ia ambil sendiri dari dispenser, mulailah ia mengeluh. “Kok pacar saya seperti gak percaya kalau saya mencintainya ya?” Hmm, saya membatin kalau-kalau kawan saya ini baru rehat dari pertempuran. Biarlah dia bercerita sendiri tanpa saya pancing-pancing, makanya saya jawab begini saja: Kalau begitu tinggal bilang kalau kamu mencintainya. “Perhatian saya selama ini apa masih kurang cukup untuk menunjukkan kalau saya mencintainya?” O, rupanya ini masalah ungkapan. Bukan...

Read More

Kas 2: Musibah

Ketika dimabuk kepayang oleh cinta, Kasturi merayu Lastri betapa nama mereka sangat berdekatan. Aku membaca sebagai petanda, begitu kata Kastrui. Seperti kebanyakan perempuan yang tengah mabuk kepayang, setiap ucapan kekasihnya adalah puisi. Lastri tersipu sambil menangkis sedikit kejanggalan yang terbesit di sanubarinya. Lalu mereka menikah. Pada awalnya Kasturi tinggal serumah dengan mertuanya. Sebagai laki-laki ia merasa malu. Sudah berulangkali ia meminta izin untuk pisah rumah meskipun mengontrak rumah. Tapi mertuanya terus-terusan melarang. Lastrilah yang kemudian meyakinkan bapaknya. “Bapak tidak usah lagi mengkhawatirkan Lastri. Sekarang sudah ada mas Kas. Lastri pasti baik-baik saja. Kami akan cari rumah kontrakan dekat-dekat sini...

Read More

Kas 1: Subuh

Alarm pertama berbunyi. Azan subuh. Alarm yang tidak diinginkan. Bantal yang jadi alas kini berubah nangkring di atas kepala. Lumayan suara azan itu jadi terdengar samar. Lalu tak berselang lama, tepat pukul lima, alarm kedua berbunyi. Sumbernya dari seluler yang tertindih badannya. Tangannya seperti auto pilot menekan tombol stop. Kadang-kadang salah order, yang tertekan pilihan snooze. Alarm yang terakhir datang. Yang ini memiliki kemampuan mobile yang luar biasa. Juga simultan: Lastri, Istrinya. “Mau gak salat subuh lagi?” “Yo salat.” “Subha! Subuh bareng Dhuha?” Lalu diikuti dengan omelan ini-itu. Telinganya tak mampu menahan lagi. Matanya pun tak mampu memejam lagi....

Read More

TELEPON GENGGAM

Di pesta pernikahan temannya ia berkenalan dengan perempuan yang kebetulan menghampirinya. Mata mengincar mata, merangkum ruang. Rasanya kita pernah bertemu. Di mana ya? Kapan ya? Mata: kristal waktu yang tembus pandang. Di tengah hingar mereka berjabat tangan, berdebar-debar, bertukar nama dan nomor, menyimpannya ke telepon genggam, lalu saling janji: Nanti kontak saya ya. Sungguh lho. Awas kalau tidak. Pulang dari pesta, ia mulai memperlihatkan tanda-tanda sakit jiwa. Jas yang seharusnya dilepas malah dirapikan. Celana yang seharusnya dicopot malah dikencangkan. Ingin ke kamar tidur, tahu-tahu sudah di kamar mandi. Mau bilang jauh di mata, eh keliru dekat di hati. Masih...

Read More

Ya Rasulullah, Datangkah Kepada Kami

Ya Rasulallöh, Ya habiballöh Sudikah kiranya Engkau tunjukkan wajahmu yang teduh itu kepada ummatmu ini yang semakin hari semakin gemar bertikai memperebutkan kebenaran atas ajaran yang Engkau sampaikan ribuan tahun silam agar turut teduh wajah kami damai hati kami lembut suara kami Ya Rasulallöh, Ya Habiballöh Adakah tanda-tanda kemenangan bagi kami dalam berjihad melawan hafwa nafsu kami sendiri sementara dua pusaka yang Engkau wariskan kepada kami tak lebih hanya menjadi hiasan dinding di ruang tamu yang mengundang decak kagum yang datang berkunjung potongan kitab sucimu diukir menjadi kaligrafi dengan bingkai kayu pilihan sunnahmu ditenggak-tegakkan padahal ia semakin miring dan...

Read More

Sally

Sally. Pertama kali saya melihatnya ketika tanpa sengaja kami masuk dalam satu eskalator dan menekan tombol lantai yang sama. Seperti dalam film-film drama. Momen itu ternyata membangkitkan bulu-bulu cinta. Sampai akhirnya kuputuskan bahwa saya akan mengundangnya untuk menapaki satu langkah berikutnya yang lebih serius. Tentu setelah kami sering berkomunikasi pada hari-hari berikutnya. Justru teman saya yang sedikit meragukan apa yang kuputusan. Dia membicarakan siapa saya dan siapa dia. Lalu di ujung kalimat, ia menutup dengan ucapan yang kerap kali kudengar. Kalian mirip enggak? Biasanya kalo jodoh selalu saja ada kemiripan. Sebelum tidur, kukeluarkan fotonya lalu kuletakkan di atas meja....

Read More

Recent Tweets