Category: Mataair

Ya Rasulullah, Datanglah Kepada Kami

Ya Rasulallöh, Ya habiballöh Sudikah kiranya Engkau tunjukkan wajahmu yang teduh itu kepada ummatmu ini yang semakin hari semakin gemar bertikai memperebutkan kebenaran atas ajaran yang Engkau sampaikan ribuan tahun silam agar turut teduh wajah kami damai hati kami lembut suara kami Ya Rasulallöh, Ya Habiballöh Adakah tanda-tanda kemenangan bagi kami dalam berjihad melawan hafwa nafsu kami sendiri sementara dua pusaka yang Engkau wariskan kepada kami tak lebih hanya menjadi hiasan dinding di ruang tamu yang mengundang decak kagum yang datang berkunjung potongan kitab sucimu diukir menjadi kaligrafi dengan bingkai kayu pilihan sunnahmu ditenggak-tegakkan padahal ia semakin miring dan...

Read More

Sally

Sally. Pertama kali saya melihatnya ketika tanpa sengaja kami masuk dalam satu eskalator dan menekan tombol lantai yang sama. Seperti dalam film-film drama. Momen itu ternyata membangkitkan bulu-bulu cinta. Sampai akhirnya kuputuskan bahwa saya akan mengundangnya untuk menapaki satu langkah berikutnya yang lebih serius. Tentu setelah kami sering berkomunikasi pada hari-hari berikutnya. Justru teman saya yang sedikit meragukan apa yang kuputusan. Dia membicarakan siapa saya dan siapa dia. Lalu di ujung kalimat, ia menutup dengan ucapan yang kerap kali kudengar. Kalian mirip enggak? Biasanya kalo jodoh selalu saja ada kemiripan. Sebelum tidur, kukeluarkan fotonya lalu kuletakkan di atas meja....

Read More

Cerpen Kompas – Mardi

Malam semakin larut. Angin dingin yang mulai bertiup semakin menekan mataku. Tetesan air hujan dan guncangan gelombang tidak berhasil menahan kantuk yang sudah menderaku sejak tiga jam lalu. Mardi, kapten merangkap ABK, yang duduk di sudut buritan kapal kayu tua, ukuran 3 x 7 meter, tidak bergerak. Matanya terus menatap kapal bagan, menunggu jaringnya diangkat, tanda cumi sudah terkumpul dan siap untuk dijual. Namun tanda itu tidak muncul-muncul. Padahal ini kapal bagan ketiga yang sudah kami tunggu sejak meninggalkan PLTU Ancol tujuh jam lalu. Jika dalam sejam lagi tidak ada cumi, artinya trip mancing alu-alu dengan umpan cumi akan...

Read More

Cerpen Kompas: Seragam

Lelaki jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba. Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakannya saya untuk masuk, tanpa ragu-ragu saya memilih langsung menuju amben di seberang ruangan. Nikmat rasanya duduk di atas balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun lalu turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon cengkeh yang berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat mengikuti upacara bendera tiap Isnin. Saya paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata....

Read More

Cerpen Pilihan Kompas: Ikan Kaleng

/1/ Sam tiga hari di Jayapura; dia guru ukatan dinas dari Jawa. Dan, tidak mengira, saat pembukaan penerimaan siswa baru buat SD Batu Tua 1 yang terletak sejurus aspal hitam dengan taksi (sebenarnya minibus), ada yang menggelikan sekaligus, mungkin, meyadarkannya diam-diam.  Ia tersenyum mengingat ini. Ketika seorang lelaki bertubuh besar, dengan tubuh lega, dan rambut bergelung seperti ujung pakis lembut teratur menenteng dua anak lelakinya, sambil bertanya, “Ko pu ilmu buat ajar torang (kami) pu anak pandai melaut? Torang trada pu waktu. Ini anak lagi semua nakal. Sa pusing.” Sam memahami penggal dua penggal. Dia. Seperti yang diajarkan saat...

Read More

Dodolitdodolitdodolibret

Kiplik sungguh mengerti, betapapun semua itu tentunya hanya dongeng. “Mana ada orang bisa berjalan di atas air,” pikirnya. Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar. ”Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah,” pikir Kiplik, ”karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan-jangan bertentangan. Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana-mana?” Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air. Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa...

Read More

Kotak Amal

Landu tidak pernah kehabisan akal untuk mengais pundi-pundi receh. Yang terpenting dalam benaknya adalah uang. Di pelataran rumah ia menggergaji papan, memaku sudut-sudutnya hingga membentuk persegi. Papan penutup atasnya dipasangi engsel sehingga bisa dibuka-tutup. Ia juga membuat lubang kecil di bagian atas tempat orang memasukkan uang. Ukurannya tidak begitu besar sehingga tidak terasa berat ketika dicantolkan ke leher. Sentuhan terakhirnya adalah memberi warna dan membuat nama di bagian muka: Kotak Amal Masjid Aliklas. Istrinya menatap ragu dan getir. Ide kotak amal itu sudah ia larang semalam tapi Landu tidak mau mendengarkan. “Bener, Pak, sudah mantap mau begitu caranya mencari...

Read More

Recent Tweets