Category: Pamor

Tanom dan Penjual Jamu

Tanom meninggalkan rumah. Ia mengayuh sepedahnya dengan kencang beradu cepat dengan sepeda motor. Lalu sampailah di persimpangan yang padat. Setiap hari kendaraan mengular di persipangan itu. Saat pagi, setiap pagi, kalau tak ada polisi, semua ingin jadi nomor satu. Tanom mulai mengayuh pelan. Melewati sela motor dan mobil. Semuanya berjalan lancar. Lalu tiba-tiba terdengar suara decit ban mobil. Brak!!! Sebuah motor terjungkal di sampingnya disundul mobil dari belakang. “Kampret!! Kalau ngerem kira-kira dong!” Umpat pengendara mobil sambil membanting pintu. Pengendara motor yang sama geramnya tak mau kalah. Ia bangun. Bediri tegak. Alih-alih peduli motornya yang tergeletak, ia malah menghadang pengendara mobil yang mencium ban belakang motornya. “Kalo gak bisa bawa mobil, buang aja!” Balasnya. Adu mulut pun terjadi. Yang satu menaikkan suara dibalas dengan suara yang lebih keras lagi. Mereka benar-benar sarapan pagi rupanya. Pertengkaran mereka diiringin klakson sana-sini. Sayangnya, tak banyak yang peduli karena setiap orang sedang buru-buru. Satu dua orang melihat dari kejauhan. Ada pula yang mendekat. Ada yang ingin merelai tetapi ragu. Lalu ada yang memberanikan diri berbicara tapi bukan untuk merelai. “Pak, ributnya jangan di tengah jalan. Banyak yang mau lewat.” Alih-alih ingin merelai orang-orang itu melihat Tanom yang menuntun seorang nenek ke pinggir jalan. Sama dengan dirinya, nenek itu nggowes sepedah. Di belakangnya bakul berisi jamu tradisional. Kedua orang itu masih saling menuduh dan menyalahkan. Si pengendara motor beralasan mengerem karena di depannya pun...

Read More

Samuel Mulia – Body Lotion

Sam“Sedih deh gue, kayaknya bakal kehilangan temen, nih.” Demikian BBM yang saya terima pada saat mendengarkan celoteh klien di sebuah ruang rapat. Kemudian, saya membalas dengan menanyakan, bagaimana itu bisa terjadi. Dan selanjutnya, anda pasti tahu, kalau saya tenggelam dalam keasyikkan mengirim dan menerima pesan itu, dan membuat konsentrasi di ruang rapat yang awalnya seratus persen menjadi setengahnya.   Kulit kering Soal kehilangan, saya jadi teringat saat ibu dan ayah sedang menghadapi ajal. Saya menulis kata ibu sebelum kata ayah karena ibu game over terlebih dahulu. Tetapi, untuk kejadian yang berbeda waktunya itu, benang merahnya sama. Saya berdoa merayu-rayu...

Read More

Samuel Mulia – Badai

Mungkin beberapa dari Anda mengalami seramnya hujan badai beberapa hari lalu. Mengapa saya tuliskan beberapa, karena untuk beberapa teman yang tinggal di luar Jakarta Pusat, pengalaman sekitar pukul 03.00 itu sama sekali tak mereka alami. Pelajaran pertama dan kedua Dan gara-gara saya tak tahu hujan badai datangnya tak merata, beberapa dari mereka naik pitam karena BBM saya yang menyarankan untuk berdoa dan berhati-hati. yaaa… begituah. Acap kali kita mau membantu orang lain karena alasannya hanya ingin agar mereka selamat, tetapi malah jadi bumerang karena membuat mereka panik. Banyak pelajaran yang saya petik dari kejadian hujan badai yang menakutkan itu....

Read More

Hari Anak Nasional

Saya ini telmi (telat mikir) kalau tepat satu minggu yang lalu adalah Hari Anak Nasional. Waktu saya membaca beberapa unggahan di media sosial mengenai hari itu, saya menyesal tidak menulis sesuatu soal anak. Tetapi, kan, katanya, selalu ada kesempatan lain di lain waktu. Kan, katanya, juga tak ada kata terlambat. Maka di waktu yang lain, yaitu hari ini, saya mau menyuguhkan tulisan yang terinspirasi dari Hari Anak Nasional yang sudah lewat itu.   Dua dunia Saya tertarik secara emosional menulis soal anak, tetapi kemudian mandek karena bingun mau menulis soal apa. Setelah berhenti beberapa menit, saya memutuskan untuk tidak...

Read More

Recent Tweets