Tag: Cerita Kas

Kas 2: Musibah

Ketika dimabuk kepayang oleh cinta, Kasturi merayu Lastri betapa nama mereka sangat berdekatan. Aku membaca sebagai petanda, begitu kata Kastrui. Seperti kebanyakan perempuan yang tengah mabuk kepayang, setiap ucapan kekasihnya adalah puisi. Lastri tersipu sambil menangkis sedikit kejanggalan yang terbesit di sanubarinya. Lalu mereka menikah. Pada awalnya Kasturi tinggal serumah dengan mertuanya. Sebagai laki-laki ia merasa malu. Sudah berulangkali ia meminta izin untuk pisah rumah meskipun mengontrak rumah. Tapi mertuanya terus-terusan melarang. Lastrilah yang kemudian meyakinkan bapaknya. “Bapak tidak usah lagi mengkhawatirkan Lastri. Sekarang sudah ada mas Kas. Lastri pasti baik-baik saja. Kami akan cari rumah kontrakan dekat-dekat sini...

Read More

Kas 1: Subuh

Alarm pertama berbunyi. Azan subuh. Alarm yang tidak diinginkan. Bantal yang jadi alas kini berubah nangkring di atas kepala. Lumayan suara azan itu jadi terdengar samar. Lalu tak berselang lama, tepat pukul lima, alarm kedua berbunyi. Sumbernya dari seluler yang tertindih badannya. Tangannya seperti auto pilot menekan tombol stop. Kadang-kadang salah order, yang tertekan pilihan snooze. Alarm yang terakhir datang. Yang ini memiliki kemampuan mobile yang luar biasa. Juga simultan: Lastri, Istrinya. “Mau gak salat subuh lagi?” “Yo salat.” “Subha! Subuh bareng Dhuha?” Lalu diikuti dengan omelan ini-itu. Telinganya tak mampu menahan lagi. Matanya pun tak mampu memejam lagi....

Read More

Recent Tweets