Alarm pertama berbunyi. Azan subuh. Alarm yang tidak diinginkan. Bantal yang jadi alas kini berubah nangkring di atas kepala. Lumayan suara azan itu jadi terdengar samar.

Lalu tak berselang lama, tepat pukul lima, alarm kedua berbunyi. Sumbernya dari seluler yang tertindih badannya. Tangannya seperti auto pilot menekan tombol stop. Kadang-kadang salah order, yang tertekan pilihan snooze.

Alarm yang terakhir datang. Yang ini memiliki kemampuan mobile yang luar biasa. Juga simultan: Lastri, Istrinya.

“Mau gak salat subuh lagi?”

“Yo salat.”

“Subha! Subuh bareng Dhuha?”

Lalu diikuti dengan omelan ini-itu. Telinganya tak mampu menahan lagi. Matanya pun tak mampu memejam lagi.

Kasturi, tetangganya lebih senang memanggilnya Kas. Setiap pagi, setiap hari, ia mendengar tiga alarm yang berbeda. Ia jarang menemui pagi yang sumringah. Penyebab kedongkolannya ya berasal dari tiga alarm tadi. Azan subuh, alarm seluler, dan pita suara istrinya.

Pagi ini bermula tidak seperti biasanya. Kasturi bangun mendahului azan subuh, menyambar sarung dan kopiah. Hampir terlupa tidak mengambil bajunya juga. Lastri yang baru keluar dari kamar mandi terheran-heran karena tidak mendapati suaminya di ranjang.

Pukul lima alarm kedua berbunyi. Dan setelah kesekian kalinya, baru kali ini Lastri mematikan alarm yang ia pasang sendiri di seluler Kasturi. Tombol “matikan” ditekan lalu membuka kotak pesan. Tidak ada yang penting. Justru karena tidak ada yang penting Lastri semakin heran. Apa gerangan yang membuat suaminya bangun subuh. Tidak biasanya. Mosok yo bojoku minggat? Tapi minggat kok wayah isuk?

Tiba-tiba ada jawaban dari pintu. Clek. Bunyi anak kunci membuka tuas gerendel dan pintupun terbuka. Lastri kaget bukan kepalang. Tidak mungkin itu suaminya. Subuh, memakai sarung dan kopiah, ke musola? Tapi juga gak mungkin maling karena dia bawa kunci rumahnya.

“Ojo nggumun.” Tegur Kasturi melihat istrinya yang melongo.

“Pak?”

“Iya.”

“Kesambet opo sampeyan?”

Kopi tubruk sudah siap. Aromanya semerebak. Lastri meninggalkan kesibukannya di dapur. Ia duduk di depan Kasturi menunggu suaminya bercerita.

“Sampeyan kesambet opo, Pak?”

“Enggak.”

“Sedang ada masalah? Hutang lagi?”

“Enggak.”

“Kalau gak ada apa-apa, terus subuh tadi ke masjid, ada apa?”

“Enggak ada apa-apa. Cuma ibadah, Bu. Sudah tua.”

Lastri mulai jengkel karena terus-terudan mendapat jawaban seperti anak kecil.

“Pak, kebanyakan orang macam kita mau ke masjid kalau sedang ada masalah besar.”

“Kalau sedang tidak ada masalah besar?”

“Sedang mimpi besar!” Lastri terjeda oleh pikirannya sendiri, “Sampeyan sedang mimpi apa? Proposal apa yang bapak kirimkan tadi?”

“Bener, Bu, gak ada apa-apa.”

Lastri kelewat jengkel. Sejak kapan suaminya main rahasia-rahasiaan begini. Biasanya juga cerita sendiri semuanya padahal permasalahannya gak patut diceritakan. Batinnya mengumpat pelan.

“Ya sudah. Saya mau masak.” Lastri mlengos sambil menyeret kakinya menuju dapur. “Kalau kurang manis, tambah sendiri gulanya.” Ucapnya dengan ketus.

BACA JUGA – Kas 2: Musibah

Kasturi nyruput kopi buatan Lastri. Matanya melirik pada foto anaknya yang terpajang di samping foto pernikahan mereka. Hampir air matanya menetes. Seperti Lastri memang lupa menakar gula. Kopi pahit itu menarik kembali air matanya ke dalam kantung mata. Lalu giliran rasa pahit di lidahnya yang terhapus oleh nelangsa.