/Bertandang ke Troy Ancient City

Bertandang ke Troy Ancient City

By |2017-06-10T13:10:12+00:00March 4th, 2017|Jalan Setapak|2 Comments

Selain sejarah kejayaan Islam yang pernah tertoreh, saya mengenal Turki karena sepakbolanya, Galatasaray. Pun, saya bukan bukan penggemar Galatasaray. Dan sejujurnya keduanya bukanlah magnet besar yang menarik saya untuk datang kemari. Tapi nasib berbicara lain karena pada akhirnya menginjakkan kaki di tanah persimpangan Asia dan Eropa ini. Naifnya, ini yang kedua kalinya.

Tiga bulan lalu, di awal Desember, minibus putih menyelamatkan kami dari dingin di depan Bandara Attaturk. Manusia beriklim tropis seperti saya terlalu percaya diri menginjakkan kaki di Istanbul hanya dengan bersandal jepit dan jaket.

Tapi untuk kali ini saya benar-benar well-prepare, semua dipersiapkan dengan baik, kecuali uang saku. Dari sandang untuk menjaga badan sampai makanan untuk mejaga stamina. Bahkan, belajar dari kunjungan sebelumnya, kali ini saya bawa telor asin dan jahe. Hmm, makanan Turki terasa aneh di lidah dan perut.


Burung-burung di Selat Dardanelles

Kami mendarat di Istanbul menjelang subuh dan segera melanjutkan perjalanan ke selat Dardanelles untuk menyebrang menuju sisi asia Turki. Kurang lebih kami menempuh perjalanan selama dua atau tiga jam. Selat Dardanelles tidak begitu luas. Dari pelabuhan tempat kami berdiri, sisi sebrang dapat terlihat dengan jelas. Kecuali tadi siang ketika kami tiba di sini. Kabut cukup tebal. Jarak pandang tak begitu leluasa sampai-sampai petugas pelabuhan menunda kapal ferry untuk menyebrang.

Selat Dardanelles, Turki. [Foto: Koleksi Pribadi)

Tapi penundaan ini menjadi keberuntungan bagi kami. Kami menyempatkan diri makan siang di sini. Mencicipi beberapa makanan. Meskipun ada kebab yang biasa kita temui di Indonesia, kami memilih menu yang lain. Kebab mah nanti aja. Duh, saya lupa nama menu makanannya. Tapi yang saya ingat, harganya kisaran 12 turki lira.

Entah, apa karena tingkah kami yang norak atau memang kami terlihat lucu dan menggemaskan. Orang-orang di sini terlihat menatap-natap kami cukup lama. Apalagi ketika kami di buritan kapal ferry memberi makanan burung-burung. Melempar roti yang disambut berebut itu saya jadi teringat kera-kera di Hutan Kera Teluk Betung. Burung-burung ini memang begitu atau hilang sudah kemampuannya menjadi makan?

Selat Dardanelles, Turki. [Foto: Koleksi Pribadi]

Turis asal Indonesia memang kerap berulah lucu dan menggemaskan. Apalagi kalau selfie. Jadi teringat komentar tour guide saat pertama kali datang ke Turki. Orang Indonesia mampu berolahraga kapanpun dan di manapun. Kami penasaran olahraga apa yang dimaksud. Jawabnya, olahraga jari dan bibir alias selfie.

 

Kuda Troya, Canakkale [Koleksi Pribadi]

Kuda Troya di Canakkale

Di bawah raplika Kuda Troya yang terkenal itu, pemandu tur kami bercerita tentang legenda kuda Troya. Tentang Helen, perempuan paling cantik yang bikin iri para dewi. Tentang apel yang dikirim oleh Aries dan bertuliskan ‘untuk perempuan tercantik’. Tentang raplika kuda Troya yang kini terpajang itu ternyata peninggalan Brad Pitt setelah shooting film Horse of Troy.

Cerita legenda tentang Kuda Troya ini bisa dicari di mana-mana tapi kesan saat melihatnya langsung memberi sensasi yang berbeda. Raplika Kuda Troya diletakkan di pesisir selat Dardanelles, di kota Canakkale, kota indah yang menyimpan nilai sejarah. Gambaran tentang kota ini bisa kita lihat dar maket kota Troy yang terletak di samping monumen.

Meninggalkan area monumen itu, kami menyisir pantai selat Dardanelles. Banyak wisatawan dan warga setempat yang menikmati indahnya pesisir selat ini. Apalagi disuguhi matahari senja yang berselimut kabut tipis. Tak perlu khawatir kelaparan. Di sepanjang pantai ini terdapat kedai-kedai makanan dan minuman untuk mengganjal perut. Harganya tentu seimbang dengan kemesraan yang dirasakan.

Miniatur Kota Troya. [Foto: Koleksi Pribadi]

Kami mengakhiri tur Canakkale dengan makan kebab khas Turki. Tapi di selat Dardanelles. Kami mencari kedai di dekat hotel kami menginap, hotel Iris. Syukurlah, akhirnya kami menemukan kedai Afiyet Olsun. Kedai ini baru setahun berjalan dan dikepalai oleh seorang doktor psikologi yang tiba-tiba minat berbisnis kuliner.

Selfie Bareng si Koki. [foto pribad]

Hasil Selfie Tadi. [foto pribadi]

About the Author:

Bermimpi boleh saja. Tapi bayangkan kalau orang berani bermimpi tapi tidak berani mewujudkan.

2 Comments

  1. Lisa Nel April 6, 2017 at 4:52 pm - Reply

    Turki terkenal tempat wisatanya yang paling menarik, ingin hati ke sana namun apa daya, cuma jadi mimpi saja. 🙂

    • M Farhan Syakur April 6, 2017 at 5:49 pm - Reply

      Kalau sudah diniatkan, semesta mengamini.
      Semoga, cepat atau lambat, bisa ke sana. Hhmm, kalau bisa setelah referendum ya. Situasi politik di sana sedang panas. 😀

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.