/Belajar Menulis Kreatif Bersama Ahmad Fuadi, Ayah dari Anak Rantau

Belajar Menulis Kreatif Bersama Ahmad Fuadi, Ayah dari Anak Rantau

By |2018-08-31T16:11:39+00:00August 31st, 2018|Jalan Setapak|0 Comments

Menulis adalah salah satu peluang kita untuk berkeliling dunia.

Itulah quote yang saya dapat dari acara Bedah Buku Anak Rantau dan Menulis Kreatif di Auditorium KPw. Bank Indonesia Provinsi Lampung. Acara yang diselenggarakan oleh GenBI Lampung ini menghadirkan langsung penulis Anak Rantau, Ahmad Fuadi.

Senang sekali menjadi salah satu bagian dari sekitar 150-an peserta dalam acara ini. Mendengarkan langsung proses kreatif penulis dalam penciptaan Anak Rantau. Ahmad Fuadi berbagi cerita bagaimana ia menghadapi kesulitan saat menulis Anak Rantau, lama waktu penulisan hingga empat tahun, riset, sharing, interaksi, dan juga mendapati kenyataan kampung kelahirannya sudah sangat berbeda.

Kami hadir di sana untuk membedah buku Anak Rantau. Naifnya, ketika Ahmad Fuadi menanyakan siapa yang telah membaca novelnya hmmm yang mengangkat tangan bisa dihitung dengan jari. Duh! Kan bikin nyesek.

Ketika kita berbicara tentang merantau melulu berbicara tentang pengembaraan meninggalkan kampung halaman. Tapi Anak Rantau tidak. Ia mengisahkan Hepi, tokoh utama dalam Anak Rantau, yang merantau di tanah leluhurnya. Di sebuah desa. Ditinggal oleh ayahnya yang kembali ke Jakarta.

Anak Rantau mengajak kita untuk kembali merenungi tentang perantauan karena sejatinya masing-masing dari kita adalah perantau. Masing-masing dari kita adalah pelaku perjalanan yang sangat jauh dan lama, atau mungkin sangat dekat dan sebentar. Berangkat dari kampung sejati, berteduh di rahim ibu, dan mampir di kefanaan dunia hingga akhirnya sampai di kampung abadi.

Seperti halnya kita yang menjalani perjalanan yang lama, Hepi mengalami pengalaman-pengalaman yang luar biasa. Ia adalah anak yang terluka. Dalam perantauannya ia melihat banyak luka. Hingga akhirnya sampai titik akhir, memaafkan.

 

Tentang kiat penulisan kreatif Ahmad Fuadi

Di toko buku dan dunia maya terdapat seabrek tulisan dan buku “how to…” menjadi seorang penulis. Tapi mendengar langsung kiat-kiat dari penulis nasional best seller ini sungguh lain rasanya. Saya punya beberapa catatan dari Bedah Buku Anak Rantau dan Menulis Kreatif ini. Rasa-rasanya perlu saya bagikan di dingkelik. Semoga bermanfaat.

Ada banyak alasan mengapa manusia perlu menulis. Ada yang bersifat materil, mendapatkan uang, atau lainnya. Tak sedikit pula orang menulis karena ia merasakan kebahagiaan dan kepuasaan dalam setiap tulisan yang diselesaikannya. Ada juga yang menulis karena ia ingin melakukan interaksi sosial. Ia menyampaikan gagasan-gagasan melalui penokohan dan konflik dalam ceritanya. Lalu membiarkan pembaca melakukan internalisasi. Proses seperti inilah yang kemudian oleh Ahmad Fuadi disebut dengan proses intimate.

Lebih luas lagi, penulisan tidak hanya tentang cerita. Penulisan adalah sebuah proses creating contant. Sebuah penciptaan dari satu konten ke dalam konten lainnya. Negeri Lima Menara, misalnya, dari sebuah tulisan menjadi film lalu musik berupa soundtrack dan selanjut, sedang dalam proses transformasi, dari novel menjadi komik. Kita tunggu saja waktu peluncuran komik Negeri Lima Menara.

 

Apa yang Kita Lakukan sebelum Menulis

Ya, kita sering merasakan keinginan yang sangat kuat untuk menulis tapi kemudian tidak tahu harus menulis apa. Ahmad Fuadi memberikan empat langkah penting supaya proses penulisan itu melahirkan konten yang menarik, baik, dan bagus.

Pertama, tanyakan “mengapa” dalam hatimu. Pertanyaan ini akan membawamu pada inner journey sampai menemukan alasan kuatmu dalam menulis. Proses ini bisa memakan waktu cukup lama menjadi perenungan yang, kalau tidak sabar, menjemukan. Makanya, supaya tidak jemu-jemu amat pencarian jawaban itu dengan tetap menulis, menulis, dan menulis lagi. Sebab bisa saja jawaban itu ditemukan dalam kalimat-kalimat yang kita susun itu.

Kedua, temukan “apa” untuk ditulis. Beberapa orang mengalami kesulitan menulis. Ada yang terlalu brutal seperti anak sekolah dasar sehingga tulisannya tak pernah usai. Ada yang filosofis akut sehingga ia cukup membubuhkan tanda baca, koma.

Supaya tulisan-tulisan itu mudah mengalir dari dalam mengalir keluar maka tulislah apa yang paling dekat dengan diri kita. Pengalaman unik bersama keluarga atau teman, keberuntungan yang tak terlupakan, atau bahkan trauma yang menakutkan. Hingga kemudian hari tumbuh ketrampilan kepenulisan kita dan juga kecapakan mengeksplorasi ide menjadi tema yang menarik untuk dituliskan.

Ketiga, tekuni jalan “bagaimana” menulis. Sebenarnya setiap orang memiliki caranya sendiri dalam menulis. Tidak ada standarnya. Satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam penulisan, riset. Lakukanlah riset untuk ide yang akan dituliskan. Riset itulah yang akan membentuk karakter tulisan dan mengokohkan cerita. Bagaimana cara melakukan riset?

Tentu saja mencari informasi yang mendalam terkait tema yang akan ditulis. Galilah melalui wawancara, baca berita atau buku yang mengangkat tema yang sama, dan sebagainya. Insting wartawan dalam menggali berita sangat mendukung ketika penulis berada pada fase riset ini.

Dalam penulisan Negeri Lima Menara, misalnya, riset yang dilakukan oleh Ahmad Fuadi adalah membaca dairi yang ia tulis sejak umur lima belas tahun, bertanya tokoh adat, membaca surat-surat yang dikirim dari Gontor, interview dengan BNN karena ada topis narkoba, dan jalan liku lainnya dalam rangka mengumpulkan data.

Keempat, tentukan momen “kapan” menulis. Tidak harus selesai pada saat itu juga. Sebab, menulis adalah proses yang panjang layaknya marathon. Apalagi dalam menulis novel. Ritme menulis haruslah dijaga dan yang paling penting adalah konsisten.

Langkah yang harus difahami dalam proses penulisan adalah fase menulis dan fase mengedit. Keduanya tidak bisa dilakukan secara bersamaan. Pada fase menulis, tulislah semuanya mengikuti outline yang telah dibuat sebelumnya. Setelah selesai, lakukanlah penyuntingan. Perbaiki tanda baca dan diksi kata. Ubah kalimat untuk memperkuat ekspresi dan emosi.

Setelah selesai menulis mintalah orang lain untuk membacanya. Ia bisa saudara, teman, guru atau dosen, atau siapapun untuk memberikan feedback.

Dan yang terkahir adalah tentang writer’s block. Writer’s block adalah momen di mana penulis menagalami stag, mandeg, dan kehilangan mood untuk nulis. Writer’s block adalah tantangan berat untuk dikalahkan. Namun bagi Ahmad Fuadi, writer’s block merupakan bagian dari proses penulisan. Ketika momen writer’s block datang maka yang perlu dilakukan adalah kembali pada proses riset karena bisa saja writer’s block ini muncul disebabkan oleh minimnya informasi atau bahan cerita.

Begitulah hasil dari acara yang singkat di Auditorium KPw. Bank Indonesia Provinsi Lampung. Semoga bermanfaat dan… Jangan berhenti menulis!

About the Author:

Sehari-hari mengajar, berangkat pagi dan pulang sore. Senang beli buku tapi males bacanya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.