Merebut Kembali Family Prime Time

/Merebut Kembali Family Prime Time

Perubahan gaya hidup masyarakat kita perlu mendapat perhatian khusus. Perkembangan teknologi mempengaruhi banyak perilaku. Prime Time bersama keluarga terkikis. Bahkan mungkin hilang. Konten dan nilai semakin kabur. Kita perlu melakukan gerakan kecil yang berdampak besar di kemudian hari.

Saya sedang menyewa kipas angin di penyewaan sepeda–penyewaan sepeda kok nyewain kipas angin? Jangan tanya tentang ambiguitasnya ya. Di balik meja kasir seorang anak asik bermain gawai milik ayahnya sementata ibunya sedang meladeni penyewa sepeda. Saya berdiri menunggu. Si ibu terlihat menyapa dari kejauhan. Saya membalasnya dengan senyum.

“Dek, itu masnya dibantu mau cari apa.”

Sayangnya anak itu tak bergeming. Menoleh pun tidak. Jari-jarinya lebih terampil memencet navigasi.

“Dek!!!”

Tapi tetap saja ibunya dienyahkan.

“Enggak apa, Bu. Nanti saja. Saya ngantri di sini.”

Lalu, setelah semua selesai si Ibu mendatangi saya. Ke balik meja kasir, mengomel dan mengusir anaknya yang bandel. Anak laki-lakinya membalas dengan gerutuan yang tak jelas lalu menyingkir dengan mata tetap tertuju pada gawainya.

“Kerso nopo, Mas?”

“Mau sewa kipas, Bu.”

Hanya ada satu kipas yang nganggur. Siap disewakan. Tergeletak lemas di atas lemari dan berdebu. Si Ibu mengambilnya dengan susah payah, naik kursi dingklik dulu. Setelah berhasil memgambilnya ia menebahi debu yang menempel. Sesekali terbatuk.

Anaknya, tak jauh dari meja kasir, khusyu memainkan gawainya.

Melihat peristiwa itu koq saya merasakan musykil. Beberapa kali ibunya meminta tolong ini dan itu tapi tak satupun dari ini dan itu yang dilaksanakan. Jangankan berinisiatif membantu mengambilkan kipas angin, yang nyata-nyata diperintah saja tak ditunaikan.

Apakah hanya satu kasus yang seperti ini kah? Sayangnya tidak. Kita bisa menemukan peristiwa yang serupa dimana-mana: seorang ibu dienyahkan begitu saja oleh anaknya.

Dalam parenting contoh-contoh seperti ini sering diutarakan. Ditunjukkan faktor-faktor pembentuk prilaku tersebut. Disampaikan solusi-solusinya. Bahkan sampai kiat-kiat menjadi orangtua yang baik untuk membentuk karakter anak pun didiskusikan.

Tapi tidak banyak perubahan.

Di sekolah guru-guru di-training supaya lebih terampil mengajar melalui kiat-kiat pembelajaran; menatar para guru untuk mengajarkan nilai-nilai pendidikan yang tak melulu tentang urusan kognisi tapi juga menyentuh sampai character building. Tujuannya: membentuk anak yang baik, yang memiliki budi pakerti luhur.

Tapi tetap tidak banyak perubahan.

Peristiwa yang saya lihat sendiri, dan peristiwa lainnya, adalah akumulasi dari kesemrawutan kehidupan kita berbangsa dan berbudaya. Perubahan life style. Pergeseran besar dan nyata sedang terjadi. Alih-alih kita prefentif menyikapi perubahan secara bijak, masih banyak rekan-rekan kita yang justru nggumanan, cepat kagum sampai lupa diri, jadi ndesit. Lho, gara-gara nggumunan begini permasalahan bisa semakin besar sebab ia sebentar-sebentar kagum dan bilang ‘wah!’ lalu terbuai.

Seribu training dan parenting tak mampu mengobati sebab satu elemen masyarakat dengan lainnya saling berkaitan. Bukan hanya pekerjaan pendidikan di rumah. Juga bukan semata-mata tanggung jawab sekolah. Tetapi sudah semestinya dipikul bersama. Sudah saatnya setiap elemen di masyarakat bekerja sama membentuk lingkungan yang sehat, ramah untuk anak, well manage dan well educated.

 

Tetap Optimis

Jangan pesimis dulu. Tidak banyak perubahan berarti ada perubahan sedikit di sana. Kita juga dapat cermati banyak anak terdidik dengan sangat baik perilaku dan budi pakertinya. Tentu saja membutuh konsentrasi dan kegigihan yang besar untuk menumbuhkannya. Kita perlu belajar dari mereka.

Nilai-nilai kemanusiaan kita tidak berubah. Tapi kalau dibiarkan begitu saja lama-kelamaan akan pudar juga. Masyarakat kita akan menjadi semakin materialistis, oportunis, menang sendiri, sak penake dewe, tenggang rasa memudar.

Memang, pendidikan adalah koentji. Dan, mohon jangan tarik kata pendidikan ini ke dalam ruang lingkup sekolah. Sebab, lembaga-lembaga pendidikan formal itu pun sedang mengalami sakit yang akut. Ini tuduhan yang serius, bukan? Saya mendambakan pendidikan yang komprehensif, yang terjadi di setiap elemen, dan tentu saja karena ini hakikatnya adalah tanggung jawab bersama.

Bayangkan, saat ini edukasi-edukasi terlalu terkonsentrasi di sekolah-sekolah. Di sana mereka diajarkan tenggang rasa tapi keluar sekolah–bahkan di dalam lingkungan sekolah–bullying dan kesemena-menaan terjadi. Di sekolah diajarkan tentang keberagamaan dan keberagamaan tapi di luar sekolah ditemukan kebengisan yang mengerikan. Masih banyak lagi. Di luar sekolah–pembelajaran tentang budi pakerti (karakter)–antitesa dari materi yang dipelajari lebih banyak ditemui.

Sudah saatnya kita saling bergandeng tangan memperbaiki keadaan. Setiap elemen di masyarakat menanggung dan memikul tanggung jawab yang sama. Sama-sama besar dan sama-sama berat.

1. Merebut Prime Time

Setiap keluarga tentu memiliki prime time masing-masing. Waktu yang sangat berharga untuk menjalin keakraban di dalam keluarga. Menghabiskan waktu bersama-sama. Sharing cerita dan pengalaman hari itu atau melakukan pekerjaan rumah bersama-sama (tidak melulu diselesaikan oleh asisten rumah tangga).

Saya memiliki komitmen dengan isteri saya. Menjelang maghrib tidak ada yang boleh menonton televisi. Saya membimbing Cahya membaca Iqro’. Alhamdulillah di usianya yang masih tiga tahun sudah membaca sampai nun. Kami mengurangi penggunaan gawai di depan anak-anak. Membacakan cerita sebelum tidur.

Berdiskusi dengan beberapa teman, mereka hampir mengalami kesulitan/masalah yang sama terkait penggunaan gawai oleh anak-anak. Sampai-sampai muncul kalimat “Lebih susah menyapih anak dari hape dari pada menyapih bayi dari asi.” Kesulitan itu bersumber dari banyak faktor. Misal, karena orangtuanya nyah nyoh saja yang penting anak diam dan tidak ribut. Atau meniru kebiasaan teman-teman sebayanya. Atau orangtuanya terlalu dini membelikan gawai sendiri.

Mode dan life style mulai mengambil waktu-waktu berharga bersama keluarga. Kesibukan pekerjaan dan pencarian nafkah melengahkan dari hangatnya masa-masa bersama keluarga. It’s the time. Sudah saatnya mengambil waktu berharga itu kembali ke dalam rumah.

2. Membangun prinsip bersama

Kita dihadapkan dengan gaya hidup materialistis dan oportunis yang semakin mengakar. Kalau tidak ada uang tidak jalan. Pencapaian yang bersifat materi dikejar secepat-cepatnya, diraup dan dikeruk sebanyak-banyaknya. Padahal, kalau mau jujur, itu melelahkan. Capek. Gak ada ujungnya.

Saya pernah mengikuti parenting. Pemateri malam itu menyampaikan bahwa ayah bunda perlu membangun prinsip bersama dalam keluarga. Ia memberi contoh. Agama; nilai-nilai relijius dalam keluarga menjadi prioritas utama. Bukan semata-mata menjadi agamais tetapi untuk menumbuhkan spiritualitas. Spiritualitas menjadi modal utama dalam aktifitas sehari-hari. Komunikasi; komunitas terkecil dalam lingkaran besar ini adalah keluarga, maka membangun komunikasi yang aktif dalam keluarga menjadi sangat penting. Selain untuk menunjukkan keharmonisan, komunikasi antar anggota keluarga dapat menumbuhkan empati, simpati, dukungan, dan lainnya.

Tentu saja setiap orang boleh membangun perinsipnya masing-masing. Yang di atas sekedar contoh.

3. Membangun Nilai-nilai

Mengapa kita masih sering melihat orang-orang buang sampah sembarangan? Mengapa ada yang tega satu sama lain? Barangkali disebabkan tidak adanya sosok yang dijadikan contoh. Pelajaran dan pengetahuan sudah disampaikan tapi contoh tidak ditemukan. Orangtua atau guru memberi perintah tapi lagi-lagi tidak ada contoh untuk diteladani. Dan, menjadi teladan bagi anak tidaklah mudah. Kita membutuhkan konsistensi dan kesabaran yang luar biasa.

Kita bisa memulai hal kecil yang berdampak besar sejak dari keluarga. Belajar disiplin, misalnya. Tepat waktu, tidak menerobos lampu merah, taat rambu lalu lintas, mengantri, mematikan lampu yang tidak terpakai, dan masih banyak lagi. Aktifitas kecil yang berdampak sangat besar di kemudian hari.

Selain itu, kita mendidik kebersihan lingkungan. Menghindari dan meminimalisir kontaminasi najis, menumpuk piring setelah makan (meskipun makan di restoran), menata sandal/sepatu, tidak membuang sampah dari jendela mobil, mengurangi penggunaan bahan yang tak ramah, mendaur ulang. dan masih banyak lagi. Aktifitas kecil yang berdampak sangat besar di kemudian hari.

Saya yakin kemusykilan saya tidak sendiri. Banyak yang mengalami hal serupa. Ketika hal ini sudah menjadi common fill semoga segera diikuti dengan common act. Tentu saja aksi yang baik dan membangun.

 

*) Featured Image: http://wallpaperswide.com

By |2019-01-04T09:45:45+07:00January 4th, 2019|Artikel|0 Comments

About the Author:

Sehari-hari mengajar, berangkat pagi dan pulang sore. Senang beli buku tapi males bacanya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.