Tanda Tangan

Di hari keempat lebaran tamu yang datang ke rumah Bapak tidak lagi didominasi oleh orang-orang dewasa.

Banyak di antara mereka adalah anak-anak remaja, murid Bapak di madrasah tsanawiyah. Mereka silaturrahim. Sekaligus membawa tugas sekolah: meminta tanda tangan.

Saya mengira tradisi meminta tanda tangan guru saat halalbihalal sudah sirna. Tugas itu diberikan oleh madrasah supaya para murid mengunjungi rumah guru-guru mereka. Cara supaya silaturrahim guru-murid terjaga. Saya pernah mengalaminya dahulu.

Bapak punya cara yang unik ketika menerima murid-muridnya. Ia akan menanyai aktifitas muridnya, terutama murid yang ia ajar. Sialnya, kalau yang datang murid-muridnya yang kurang tekun. Bakal lama ditanya-tanya.

Bapak bukan tipe guru yang mendamba nilai maksimum. Prioritas Bapak selama ini adalah mengajar dengan tekun. Harapannya, muridnya pun belajar dengam tekun. Berulang kali ia berucap, yang penting datang dan masuk kelas dulu. Masalah nilai, itu urusan guru.

Kalau yang datang adalah murid bermasalah: tugas tidak dikerjakan atau –paling dibenci Bapak—sering tidak masuk sekolah; maka inilah momen bagi Bapak memberi peringatan dan nasehat. Untuk memperbaiki hasil belajar maka perbaiki prosesnya. Lantas Bapak akan memberi tugas. Kalau masih diacuhkan Bapak akan benar-benar tega tidak memberi nilai rapor.

Bapak mengajar di madrasah. Di sebuah kampung yang damai, asri, dingin di kaki gunung Tanggamus. Yang anak-anak mudanya sedang gandrung pada teknologi. Wajahnya datang mengikuti flat layar gawai.

Kembali pada cerita tanda tangan. Selain menanyakan perihal aktifitas muridnya, Bapak akan memberi tanda tangan kalau muridnya mampu menyebut nomor induk sekolahnya. Bapak sudah memegang daftar peserta didik. Tinggal cek.

Pernah saya tanya mengapa mesti nomor induk.

Rupanya ini terkait dengan administrasi sekolah. Beberapa tahun lalu Bapak membuat sistem administrasi keuangan untuk tata usaha madrasah. Program sederhana yang sangat membantu ibu bendahara. Untuk mempermudah penginputan dan penelusuran data, murid harus tahu nomor induknya.

Saya menduga tidak akan banyak yang datang ke rumah karena sering ‘dikerjai’ seperti ini. Tapi langsung terbantahkan oleh suara salam dari murid-muridnya yang tampak lugu, dan bagi saya mereka lucu.

Artikel terkait …

By |2019-06-19T09:25:16+07:00June 8th, 2019|Artikel|0 Comments

About the Author:

Sehari-hari mengajar, berangkat pagi dan pulang sore. Senang beli buku tapi males bacanya.

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.