Tahun ini akhirnya saya hetrick mendampingi anak-anak kelas 10 ngangsu bahasa Inggris di Pare. Ada beberapa daftar alasan kenapa akhirnya saya lagi dan saya lagi yang ditunjuk, dan saya mau. Semoga tidak yang keempat kalinya ya..

Sudah jamak diketahui kalau Pare ini terkenal dengan sebutan Kampung Inggris. Padahal, yang sebenarnya disebut Kampung Inggris ini adalah desa kecil nan padat bernama Tulungrejo. Letaknya tak jauh dari alun-alun Pare, terminal, taman Kilisuci yang asri, dan berbatasan kecamatan tetangga, Badas. Lebih lengkapnya silakan dicek di google map deh.

Saya kembali mengambil kelas, seperti halnya tahun-tahun yang lalu. Sebab sebulan di sini tentu rentan terserang rasa rindu jemu kalau hanya menghabiskan waktu dengan rebahan. Melalui placement test saya pun mendapat kelas Pre-Intermediate—di kelas ini saya belajar pronounciation, speaking, grammar, dan vocabularies. Tentu saja tidak sekelas dengan siswa saya.

Pre-Intermediate | Yokohama Class

Selain mengenyam kembali pembelajan Bahasa Inggris, ada aktifitas lain yang sudah saya agendakan. Saya akan membagi pengalaman saya di sini.

Gua Surowono

Setiap kali ke Pare saya selalu ditawari untuk main-main ke gua Surowono. Saya selalu menolak. Bayangkan, gowes dari Tulungrejo ke Surowono?! Manusia mager pencinta rebahan seperti saya pastinya mikir dua tiga kali.

Kesempatan kali ini tidak saya lepas. Lantas saya ajak beberapa siswa untuk gowes bareng ke Surowono. Inilah nikmatnya kekuatan keroyokan. Energinya nyalur ke sana-sini.

Awalnya ketika saya mendengar kata gua, yang terlintas di kepala adalah bebatuan stalaktit dan stalakmit, lembab bau kotoran kelelawar. Ternyata gua Surowono benar-benar berbeda.

Gua Surowono bukanlah goa alami yang lebar dan pajang, tumbuh bebatuan stalaknit atau sralakmit, apalagi sarang kelelawar sebagai mana saya bayangkan. Gua Surowono adalah lorong panjang yang sempit, dingin, tentu saja gelap, dan dialiri air setinggi pinggang sepanjang rute goa. Tingginya pun tak lebih dari dua meter.

Saya kira sebelum menelusuri gua tersebut kami akan mendapatakan penjelasan tentang gua Surowono. Setidaknya penjelasan tentang what to do dan not to do. Haha… zonk lagi ternyata. Guide lokal yang membimbing kami menelusuri gua tersebut tidak banyak cerita. Sejak persiapan pemberangkatan sampai bubaran. Kami hanya dibariskan, berhitung, lalu let,s go. Lah, jadi ini apa?

Saya menelusuri jejak digital tentang gua Surowono. Pastinya banyak yang telah menulis tentang gua ini. Setidaknya dari wikipedia. Saya quote ya:

“Gua Surowono merupakan sebuah gua atau lorong bawah tanah yang di dalamnya mengalir sebuah sungai yang airnya sangat jernih. Gua Surowono ini berada di Desa Canggu, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, yang konon merupakan sistem kanal, bagian dari Candi Surowono, yang telah ada sejak zaman Kerajaan Kediri. Pintu masuk ke lorong Gua Surowono ditutup pagar besi untuk keamanan. Memasuki lorong Gua Surowono harus dipandu oleh penjaga, karena terdapat percabangan lorong yang bisa membuat orang tersesat di dalamnya.

“Terowongan Surowono sering disebut Terowongan Pelarungan. Sebab pada zaman Majapahit, sering dilakukan ritual larung sesaji.

“Terowongan ini terdiri dari lima sumur dengan jarak antar sumur sekitar 50 meter hingga 60 meter. Mulut terowongan berbentuk kubah, selebar tubuh manusia dengan tinggi sekitar 160 cm hingga 170 cm. Di beberapa bagian, ketinggiannya hanya 150 cm, bahkan di antara sumur ke-4 dan ke-5 jarak dasar terowongan dengan langit-langit hanya sekitar 60 cm.”

Pintu masuk gua terletak di cerukan kawah, di kelilingi rimbunan pohon bambu. Ada tangga berumut yang akan mengantarkan kita sampai di bawah sana. Dari atas tangga kita dapat melihat bening air beriak menimbulkan suara gemericik yang indah. Rimbun daun bambu tak dapat menyembunyikan dasar pelarungan yang licin, ikan wader yang berlarian kesana kemari.

Orang-orang di desa kami pernah bertutur pohon bambu memanggil air menyaringnya dengan akarnya lalu mengalirkannya ke sungai. Saya menyaksikan itu sekarang.

Ada beberapa pintu lotong yang dapat dilalui. Kalau tidak salah lima pintu. Tapi sudah lama pintu keempat dan kelima ditutup. Pasalnya, ketinggian gua tidak lebih dari satu meter sedangkan aliran air sudah cukup tinggi. Memaksakan diri masuk ke pintu empat dan lima tentu sangat beresiko.

Selesai menelusuri gua Surowono dan berbasah-basahan di airnya yang bening terlintas di benak saya kalau-kalau situs ini dikelola lebih baik lagi. Setidaknya, pemandu jalan dapat memberikan edukasi kepada setiap pengunjung.

Makam KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Sewindu setelah kepulangan KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih lekat dipanggil Gus Dur, bukan ia lenyap dalam kenangan justru semakin dalam tertanam kerinduan. Barangkali karena perbedaan dan perselisihan yang kian meruncing, haus kekuasaan yang mengesampingkan kepentingan bangsa, kian menambah kerinduan ini semaki lekat.

Ziarah adalah salah satu penawar rindu itu.

Jadi, ketika pulang ke kampung halaman isteri atau mendampingi anak-anak belajar di Pare seperti saat ini, berziarah ke makam Gus Dur adalah salah satu list to do yang harus dilalui. Pada ziarah yang lalu, saya beruntung sekali bisa bersama-sama Habib Quraish Shihab yang juga sedang berziarah ke makam―salah satu agenda safari beliau setelah dari Rembang. Beliau mengimami kami.

Makam kiyai karismatik ini berada di dalam komplek pesantren Tebu Ireng, berbaring di samping ayah dan kakeknya. Di batu nisannya tertulis “Di sini terbaring pejuang kemanusiaan.” Tertulis dalam empat bahasa. Komplek makam buka sejak pagi dan ditutup pada pukul 16.00-20.00 Wib. Setelah itu, peziarah boleh masuk lagi ke komplek makam. Jeda waktu itu adalah untuk rehat para petugas dan santri sekaligus waktu bagi mereka untuk belajar dan mengaji.

Sepuluh tahun lalu, saya bersama saudara sepupu saya nekat touring solo dari Lampung ke Kediri, ke Lirboyo. Mampir ke rumah teman-teman di Brebes, Pekalongan, dan Jepara. Lalu di malam natal yang meriah kami justru menelusuri hutan jati Blora, di bawah langit gelap yang memuntahkan hujan, dan kengerian kehabisan bahan bakar. Syukurlah, menjelang tengah malam kami sampai di Ngawi dan bisa berlanjut sampai Kediri.

Tanggal 30 Desember saya pulang, tidak naik motor. Sendiri. Sepupu saya tetap tinggal di Kediri. Di bangku tengah Bus Pupa Jaya jurusan Lampung, di terminal Kediri, saya menyimak radio lewat telepon genggam, mendengarkan campurasari. Lalu di sana, penyiar memotong lagu untuk menyampaikan kabar duka tentang kepulangan Presiden RI ke-4 ini. Badan saya terasa lemas, sedih, bulu kuduk mengembang, dan tiba-tiba meneteskan air mata. Padahal, saya tidak punya hubungan secara pribadi dengan beliau. Santri bukan, aktifis pun bukan. Tapi kabar kepulangannya mampu menimbulkan rasa kosong sesaat.

Memiliki isteri yang berasal dari Kertosono, yang tak jauh dari Jombang, menumbuhkan tekat saya untuk berziarah tiap kali pulang. Seperti upaya untuk membayar hutang waktu itu yang tak bisa mengiringi jenazahnya.

Begitu pula pada kesempatan kali ini. Banyak orang yang merindukan Gus Dur. Banyak orang yang mengobati rasa rindunya dengan berziarah kubur. Dan harapan saya, suatu hari nanti, dapat hadir dalam acara Haul di Ciganjur.

Sunrise di Bromo

Ketika saya sampaikan bahwa salah satu agenda Home Stay adalah melihat sunrise di Bromo anak-anak langsung sumringah senang. Setiap kali masuk kelas mereka selalu mancing-mancing membahas Home Stay, Bromo, dan lainnya. Ya, selain melihat sunrise yang elok, tantangan melihat kawah Bromo selalu menggairahkan.

Sebenarnya manjat Bromo di bulan Desember adalah pertaruhan. Sebab di awal-awal memasuki musim hujan, kesempatan melihat sunrise memang lebih kecil. Desember tahun lalu, kami kurang beruntung ketika berada di Penajakan. Awan mendung terlalu tebal, Bromo juga sedang berhajat, jadilah matahari sendirian di balik awan. Tak disisakan apa-apa untuk kami selain dingin subuh yang mencekam.

Penanjakan | 29 Desember 2019

Pada akhir Desember yang lalu kami mendapatkan keberuntungan yang lebih baik. Semburat cahaya merah jingga merekah dari ujung sana berlatar depan Bromo yang mengambang di atas awan. Ha, seperti yang di kalender itu. Duh, sayang sekali saya tidak membawa kamera dan hanya mengandalkan kamera dari dawai.

Setiap kali naik Bromo saya mengingatkan anak-anak untuk membawa beberapa perlengkapan. Jaket, misalnya, untuk menahan dingin di Penanjakan. Meskipun sebenarnya setelah matahari meninggi seujung tombak Bromo tak lagi sedingin tadi. Saya juga meminta mereka untuk memakai sepatu dan masker, apalagi ketika menaiki Bromo. You know why. Selain untuk mengurangi bau belerang, padang pasir Bromo sudah seperti penyangrai tahi kuda. Ups, sorry to say that but it’s true.

Sisa tantang naik Bromo adalah berjalan menuju ujung puncak Bromo. Tahun lalu saya tidak sampai ujung maka saya membayarnya tahun ini. Selain mental kita perlu meningkatkan kewaspadaan. Sebab untuk mencapai puncak Bromo tersisa jalan sempit, berbatu, dan licin, tidak ada pagar pengaman seperti di bibir kawah yang lain. Jadi, ketika harus selfie, jangan angkat kamera terlalu tinggi yang bisa menyebabkan kehilangan keseimbangan. Khawatir tergelincir.

Kampung Madu

Kampung madu berada di luar Pare. Tidak terlalu jauh untuk ngontel. Barangkali dua kilo saja. Keberadaan Kampung Madu saya ketahui tahun lalu. Sayang baru tahun ini saya sempat beranjak ke sana.

Disebut Kampung Madu karena masyarakat setempat mengelola home industry ternak madu. Hampir merata. Banyak toko menjajakan madu dalam berbagai kemasan, varian, dan tentu saja harga yang beraneka ragam.

Kita mulai dengan penakarannya. Ada rumah-rumah yang memproduksi kotak. Ada dua jenis kotak, yang satu untuk penakaran dan satu lagi untuk produksi. Kotak untuk penakaran tersusun empat lapis saja. Di sana ratu lebah membangun koloni. Ketika koloni lebah itu sudah siap untuk memproduksi madu, kotak rumah lebah itu akan diubah (ada juga yang dipindah) ke kotak produksi dengan lapisan yang lebih banyak. Umumnya terdiri dari sembilan lapis. Lapisan/layer ini berbentuk bingkai kawat yang bisa ditarik keluar-masuk seperti laci.

Kotak koloni lebah yang sudah siap produksi lantas dikirim ke beberapa daerah. Seperti ke Pasuruan, Kediri, dan lainnya karena di sana ketersediaan bunga lebih terjamin. Di Pasuruan, misalnya, di sana ada hutan randu yang nantinya kemasan madunya akan dilabeli “madu randu”. Di sinilah saya mengenal varian madu seperti itu. Ada madu randu, madu kangkung, madu karet, madu jagung, dan madu mangga.

Tak hanya menjual madu, di Kampung Madu juga tersedia serbuk sari dan royal jeli yang berkhasiat itu. Dikemas dalam topless ukuran sedang dan dibandrol dengna harga yang ramah pula.

Teman saya yang berjiwa interpreanur lantas melihat ini sebagai ladang bisnis. Ia pun mempromosikan ke rekan-rekan di Bandar Lampung. Lalu dibalas dengan order yang lumayam. Selain harganya yang lebih terjangkau keaslian madu pun terjamin. Hhmm….

Untuk saat ini saya masih lebih suka menikmati madu yang seperti ini. Madu rindu randu. Lebih banyak manfaatnya dan mashlahatnyanya buat saya dibanding madu yang “itu”.