Sebuah pesan masuk mengirimkan berita penerimaan peserta didik baru tingkat taman kanak-kanak. Nama Cahya ada di sana sebagai peserta didik yang diterima. Saya senang. Begitu juga Cahya. Akhirnya salah satu impiannya akan terwujud. Bersekolah.

Rasa-rasanya baru kemarin Cahya belajar mengucapkan ABC, belajar berlari, atau toilet training—semua orangtua akan berucap demikian ketika tiba-tiba menyadari anaknya telah tumbuh dan berkembang. Rasa-rasanya belum lama juga Cahya membedakan aneka warna, tumbuhan, binatang, nama hari, angka, dan huruf hijaiyyah.

Belum lama juga rasanya Cahya belajar membaca. Saya teringat ketika paket buku Hallo balita sampai di rumah. Hari-hari setelah itu adalah hari penuh mendongeng, dari satu buku ke buku yang lain, apalagi menjelang tidur. Cahya hafal setiap halamannya. Jadi ketika cerita saya berbeda dia akan memprotes. Begitu pula ketika ada halaman yang saya skip. Dan sekarang dia yang membacakan buku Hallo Balita untuk adiknya, Owi.

 

Bukankah pengalaman pertama masuk sekolah adalah pengalaman mendebarkan? Tidak hanya untuk anak-anak. Pada jenjang perguruan tinggi pun demikian. Hati saya juga berdebar sebab beberapa hal dan juga sedikit kekhawatiran. Apakah setiap orangtua mengalami hal demikian?

Saya tidak mengalami fase pendidikan TK. Di kampung saya, waktu itu, belum ada TK. Setelah saya menginjak kelas 3 MI barulah ada TK. Saya mau bersekolah karena paman saya, rumah kami bersebelahan, sering mampir ke rumah sebelum berangkat. Saat itu, saya mengira sekolah ada sesuatu yang menyenangkan. Cahya–dari cara kami bermain peran di hari libur–jelas menganggap sekolah adalah tempat yang menyenang.

Mungkin karena Upin dan Ipin, bisa juga karena buku Cini dan Citan, atau karena beberapa kali ikut lembur sekolah di hari Sabtu, Cahya sangat ingin bisa segera bersekolah.

Setelah ini Cahya akan lebih banyak melihat dan mendengar, lebih senang bermain dengan teman-temannya. Dan tak lama lagi dia akan berucap “Kata Bu Guru begini…”, malu untuk dicium atau dipeluk. Sepertinya akan ‘menyakitkan’ untuk saya.