Bersyukur banget tensiku mulai turun, stres mulai mengendur, tidak lagi ngebit sekencang kemarin-kemarin. Siklus awal tahun pelajaran memang selalu menghadirkan banyak tantangan.

Sebenarnya tekanan di tahun pelajaran kali ini sungguh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Banyak hal yang memicu adrenalin. Setidaknya oleh dua faktor: pertama karena covid-19; dan kedua karena implementasi sistem smart classroom.

Permasalahan corona ini benar-benar mengubah tatanan. Yang tidak siap dan sigap akan kelimpungan. Siapa yang menyangka kita akan belajar dengan model yang seperti ini? Siswa belajar “tanpa” guru dan guru mengajar “tanpa” murid. Masing-masing dipertemukan oleh gelombang elektromagnetik yang rumit dengan biaya yang tidak sedikit.

Selama ini, kita mengenal gawai karena fungsi feature-nya. Jarang sekali kita memilih perangkat gawai karena kemampuan kinerjanya untuk kebutuhan aplikasi yang menunjang karir atau kegiatan pembelajaran. Kita lebih senang memilih gawai karena kontabilitasnya mengolah video atau gambar, juga fitur-fitur lainnya. Meskipun tidak dipungkiri, kemampuan olah gambar dan video memberi kontribusi positif yang menunjang pengalaman belajar.

Kini, semua melakukan penyesuaian, melakukan adaptasi teknologi untuk pembelajaran. Ada yang lari kencang ada pula yang pelan-pelan. Apalagi dalam fase pembelajaran jarak jauh ini, banyak hal dilakukan lintas tempat dan waktu—guru di sekolah dan siswa di rumah.

Saya melihat rekan-rekan merancang sebuah pembelajaran yang tidak biasanya. Sekaligus mencoba hal-hal baru yang membuat kami harus beralih dari zona nyaman. Dari pengalaman PPJ di tiga bulan terakhir, awal tahun pelajaran ini menjadi titik tolak yang krusial. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) dikemas sedemikian rupa supaya tidak jenuh namun tetap efektif. Sampai-sampai, Yayasan menyediakan webcam supaya kualitas video untuk webinar menjadi lebih bagus.

Di sekolah, di kelas-kelas, sudah disediakan kamera lengkap dengan tripodnya untuk menunjang performa. Guru-guru, yang hanya punya waktu 60 menit untuk mengajar, menjinjing laptop untuk menyampaikan materi. Mengoptimalkan Google Chat untuk berkomunikasi, Google Meet untuk berinteraksi, dan Google Classroom untuk penyampaian materi. Kelas diorganisir secara virtual melalui G Suite for Education.

Covid-19 tidak hanya menghentikan kenormalan yang sudah puluhan tahun berjalan. Tetapi ia juga berhasil memaksa kita untuk membuat lompatan-lompatan luar biasa. Khususnya dalam mengadaptasi teknologi dalam pendidikan.

Entahlah, kalau tidak ada tekanan seperti apakah rencana implementasi smart classroom akan mendapatkan dukungan sebegitu besar seperti sekarang ini.

Pada mulanya ada 32 guru yang menerima iPad dari Yayasan, menjalani pelatihan, menyamakan visi, dan menciptakan atmosfir baru. Ketika Pak Menteri mengumumkan “penutupan” sekolah karena covid-19 maka pelatihan-pelatihan itu tidak mungkin hanya untuk 32 guru. Sekolah harus mengajak 60 lebih tenaga pendidik untuk berjalan bersama di kendaraan baru dengan sistem yang baru. Perubahan rencana inilah yang menimbulkan stres bukan kepalang. Ketika muatan semakin berat, kendaraan semakin besar, maka lajunya harus dipelankan. Demi keselamatan bersama. Demi #majuramerame.

Smart Classroom ini menemukan momentumnya untuk diterapkan. Mau tidak mau setiap guru harus mengikuti gerbong ini. Yang pada mulanya hanya dipersiapkan untuk kelas 7 dan 10, kini harus diterapkan di semua jenjang: kelas 7 sampai kelas 12. Dukungan Google yang telah menyetujui Google Suite for Education untuk diimplementasikan di sekolah menjadi energi tersendiri bagi kami. Semuanya menjadi begitu semangat, begitu terpacu, dan termotivasi untuk menunjukkan performanya yang terbaik.

Melihat perkembangan seperti ini, saya justru melihat tantangan baru: menjaga ritme sekaligus tetap meningkatkan mutu. Semoga terwujud.