Kehilangan sekian banyak data penting tentu membuat kita nyesek bukan kepalang. Apalagi data-data yang terarsip dengan baik itu tidak memiliki back up di mana-mana. Tidak di hardisk eksternal, tidak juga di cloud drive. Dan saya baru saja mengalami hal serupa. Berbagai data sejak sepuluh tahun silam lenyap.

Semua bermula dari keinginan untuk beralih menggunakan sistem operasional Ubuntu LTS 20.04. Langkah kecil yang harus dibayar dengan harga yang besar. Karena tidak membaca dengan baik setiap langkah-langkah penginstalan, semua partisi hardisk laptop terhapus. Tiga partisi dengan berbagai data penting di dalamnya hilang menjadi satu partisi.

Saya mengambil jeda dari kesibukan. Beralih sebentar saja dari rutinitas demi menenangkan diri. Hingga akhirnya sampai pada titik akhir bahwa sudah semestinya kurelakan. Sebab bagaimanapun juga yang pergi sejatinya tidak benar-benar pergi. Ini hanya rambatan energi potensial. Semacan triger.

Setidaknya lebih dari 4TB data terpindai. Semua terangkat. Banyak data-data lawas yang turut terangkat. Melegakan sekali. Bahkan yang tak diharapkan kehadirannya pun turut hadir ke permukaan. Menyakitkan sekali. Tapi tidak sedikit pula file-file itu tidak berhasil terecovery. File type unknown (application/octet-stream) is not supported. Intinya, file rusak.

Namun bagaimana pun juga mendapati kebanyakan file itu kembali sangat saya syukuri.

Selanjutnya yang memakan waktu cukup panjang adalah mensortir folder demi filder, file demi file. Memilih file untuk dikembalikan ke hardisk. Karena sebenarnya hasil pindai yang 4TB itu belum tentu menunjukkan hasil yang memuaskan setelah data dipulihkan. Saya harus memutuskan apakah select atau unselect. Bisa jadi file yang dipilih adalah file yang rusak, sedangkan yang ditinggalkan itulah yang sehat walafiat. Sementara, hardisk 4TB ini mau pinjam siapa.

Empat hari laptop tidak istirahat.

EaseUS menjadi penyelamat. Saya tidak menduga akan sebanyak itu data yang terecovery. Lebih dari 70% data dipulihkan. Walaupun banyak file yang mesti diikhlaskan. 70% itu sepadan dengan harga yang ditawarkan. FYI: versi free EaseUS hanya memberi 2GB untuk recovery, sementara ada 4TB yang terpindai.

EaseUS memindai sesuai dengan nama file dan folder aslinya. Ketika dipulihkan, nama file pun tidak berubah. Hal yang jarang saya temui di aplikasi-aplikasi recovery. Apalagi untuk permasalahan kehilangan partisi hardisk. Kapasitas hardisk saya adalah 750 GB. Saya pastisi menjadi drive D, E, dan G untuk penyimpanan. Partisi itu hilang ketika saya menginstal Ubuntu LTS 20.04.

Kejadian ini memberi banyak pelajaran untuk saya sendiri. Keingintahuan mencoba hal baru yang dipadu dengan kecerobohan harus saya bayar dengan harga mahal. Meskipun tidak semuanya pulih tetapi pengalaman berharga ini lebih cukup. Bergerak seperti inilah yang kadang membuat semuanya jadi sangat berarti. Hingga sampai pada kesimpulan ‘yang pergi sejatinya tidak benar-benar pergi’. Dan terakhir, inilah sebuah tips dari pengalaman yang bergarga ini:

  • Lakukan back up data secara berkala. Back up ini bisa dilakukan ke cloud drive atau hardisk eksternal. Cadangan data ini sangat penting untuk antisipasi berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi. Seperti terhapus, file rusak, atau terkena virus.

  • Lakukan file management sebaik mungkin. Perhatikan nama folder dan file untuk pengarsipan. Apalagi untuk beberapa data yang mungkin memiliki nama yang sangat persis. Seperti laporan bulanan dan lainnya.

  • Karena umumnya harga aplikasi/program recovery terbandrol cukup mahal, berhati-hatilah ketika ingin mengeksplorasi hal-hal baru di perangkat kamu.