/Piagam Maiyah dan Sedekah Caknun untuk Nusantara

Piagam Maiyah dan Sedekah Caknun untuk Nusantara

By |2018-04-16T08:06:13+00:00February 20th, 2018|Artikel|0 Comments

Saya bukan pegiat Maiyah. Hanya beberapa kali saja hadir di sana. Tak lebih banyak dari jumlah jari yang saya miliki. Selebihnya saya bersilaturrahim dengan jamaah Maiyah melalui reportase di caknundotcom dan youtube.

Maiyah adalah oase bagi para mereka yang merindukan rumah yang sederhana, ayah yang mau mendengar dan menasehati. Diinisiasi sejak tahun 2001 berjalan penuh rintangan dan berbagai peristiwa bersamanya hingga sekarang. Santri Caknun pun tumbuh seperti organisme yang menemukan ladang hidupnya, dari Nusantara bagian barat hingga timur.

Konsistensi dan ketulusan Caknun mengawal anak-anaknya tak dapat ditandingi oleh apapun. Tak banyak yang mampu melakukannya. Tentu saja, selain karisma dan keuletan Beliau, cinta dan dukungan para jamaah Maiyah menjadi roda penggerak secara berkelanjutan.

Siapapun dapat mengukur potensi yang terdapat di Maiyah. Mulai Kenduri Cinta, Bangbang Wetan, Padhangmbulan, Mocopat Syafaat, Gambang Sayfaat, dan lainnya. Mereka yang pernah nyantri di sana pada akhirnya merindukan perkumpulan serupa sehingga membuat anak-anak Maiyah yang tersebar di mana-mana. Kalau kamu seorang politikus, yang pintar melihat peluang-peluang, mau kah kau meminang Caknun?

Barangkali kamu berani tapi saya memastikan Caknun akan menjawab tidak.

Para sesepuh dan santri lawas Maiyah adalah orang-orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Penyelesaian ini dilakukan supaya Maiyah benar-benar hadir di tengah masyarakat untuk berjalan berdampingan di negeri yang semakin ngeri ini.

Perkembangan yang demikianlah, serta perkembangan organisme jamaah Maiyah yang terus meluas, Piagam Maiyah disusun. Direncanakan sejak Desember 2017, penyusunan Piagam Maiyah terus berjalan hingga sekarang. Apakah sebenarnya perlu menyusun piagam seperti ini?

 

Menyusun Piagam untuk Diri Sendiri

Orang-orang Maiyah adalah orang-orang yang telah (belajar) selesai dengan dirinya sendiri. Sebab untuk bisa berdiri jejeg dan melangkah tegap di tengah kesemrawutan seperti ini kita perlu kiat khusus: selesai dengan diri sendiri.

Karena di dunia ini kita hanya mampir ngombe dan sekarang ditambah numpang wifi, maka sebaiknya kita memahami arah tujuan perjalanan ini. Setiap orang tahu bahwa kehidupan di dunia ini bukan final. Ada pengembaraan setelah ini. Dan, memahami tujuan akan menjadi pengaruh yang luar biasa terhadap perilaku sehari-hari.

Maka, susunlah piagammu sendiri.

Malam yang gelap dan hening kerap membuka mata lebih tajam. Apa yang tidak bisa dilihat oleh mata pada siang hari, malam akan menunjukkannya. Begitu juga dengan bisikan-bisikan mesra yang hanya bisa dinikmati kalau kita mau ngalah melek mbengi. Barangkali ada yang bertanya menapa harus malam hari. Tentu saja karena pada siang hari kita sibuk mampir ke sana kemari untuk ngombe dan numpang wifi. Inilah proses pengenalan diri sendiri. Atau anggaplah malam sebagai metafora saja.

Kalau urusan dapur ini sudah selesai maka makanan yang terhidang di ruang tamu akan nikmat.

Orang-orang Maiyah diajari secara konsisten untuk sampai pada titik ini. Setiap orang Maiyah sudah sampai pada titik mengetahui sedang di mana dan akan ke mana. Tak hanya menyoal urusan kemesraan dengan tuhannya tapi juga tentang urusan dunia.

united-nation-of-nusantara-kenduri-cinta

United Nation of Nusantara – Kenduri Cinta

Jamaah Maiyah yang beranak pinak

Induk Maiyah adalah Padhangmbulan, Kenduri Cinta, Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat, dan Bangbang Wetan. Lebih mudah menyebutnya dengan Simpul Maiyah. Dari sana terlahir anak-anak Maiyah sebagai bentuk mengobati rasa rindu. Kepada anak-anak Maiyah ini mereka dipanggin Lingkar Maiyah.

Di Lampung, tempat saya tinggal, pernah ada Sekala Selampung. Alam menyaringnya sangat ketat dalam sebuah proses yang tak panjang sehingga Sekala Selampung tak lagi ada kabarnya. Hajatan yang digelar di IAIN Radin Intan kala itu ternyata menjadi perhelatan sayonara.

Ada satu lagi Lingkar Maiyah di Lampung. Maiyah Ambengan namanya. Tapi jarak dan jalan yang berliku membuat keder tekad saya untuk hadir di sana.

Saya rasa masih banyak lingkar Maiyah yang tersebar di penjuru Nusantara. Bak magnet, kehadiran pengajian Maiyah selalu ditunggu-tunggu. Panas terik maupun hujan, tak menyurutkan para jamaah yang militan.

Barangkali potensi Maiyah yang luar biasa, sedekah Caknun untuk negeri yang sangat besar, anugerah Allah untuk Indonesia, Maiyah harus di jaga. Tidak menutup kemungkinan kaum elitis dan partisan yang senantiasa mengincar keberadaan Maiyah. Bukan untuk dihancurkan tetapi untuk dirangkul demi kepentingan dangkalnya.

Maka, kalau ditanya, pentingkah Piagam Maiyah? Saya rasa kita bisa menjawab sendiri.

 

Terakhir, salam takzim saya untuk Caknun yang senantiasa membimbing para jamaah (santrinya). Semoga Allah Swt. melimpahkan keselamatan dan keberkahan kepada beliau.

About the Author:

Sehari-hari mengajar, berangkat pagi dan pulang sore. Senang beli buku tapi males bacanya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.