/Orang-orang Baik yang Turut Membangun Rumah Kami

Orang-orang Baik yang Turut Membangun Rumah Kami

By |2018-11-09T10:18:44+00:00November 9th, 2018|Artikel|0 Comments

Saya membuat list yang mungkin untuk dimintai jadi “donatur”. Tempat ngutang. Namun, satu persatu nama-nama itu saya coret dari daftar. Muncul perasaan tidak enak di hati. Mereka belum tentu sedang longgar meminjami uang.

 

Wajah isteri saya tampak kurang berseri. Ia baru dari rumah ibu kos. Saya tidak bertanya. Sampai akhirnya ia sampaikan sendiri.

“Tahun depan gak usah diperpanjang ya mbak. Rumahnya mau kami renov.” Saya berhenti nafas, “Itu pesan ibu tadi.”

“Terus?” Saya tanya.

“Yo pindahan.”

Maka setelah bulan Maret itu saya bekerja lebih giat supaya pundi-pundi rupiah semakin banyak. Sebab pindah rumah kontrakan tidak hanya tentang biaya rumah kontrakan baru. Terlebih lagi tentang biaya pindahan. Tapi lebih penting lagi tentang lingkungan.

Hingga suatu hari, anggaplah di hari minggu, kami sepakat akan nekat.

“Kalau begitu kita tanam pondasi.”

“Yakin?!”

“Tidak ada pilihan lain. Dari pada untuk bayar kontrakan lebih baik kita belikan semen.”

“Uangnya kurang.”

“Dipikir keri. Yang penting tekad. Kita bangun rumah tahun ini.”

Ya… Kami pun bertekad membangun rumah. Uang di tabungan dipastikan jumlahnya. Merancang anggaran untuk membeli material, biaya tukang, dan pernak-pernik lainnya hingga siap ditempati. Tidak harus sampai finishing. Yang penting layak untuk ditempati.

Maka, target ditentukan. Kami akan membangun sampai bata merah saja.

Meskipun begitu dana yang kami miliki belum cukup. Saya membuat list yang mungkin untuk dimintai jadi “donatur”. Namun, satu persatu nama-nama itu saya coret dari daftar. Muncul perasaan tidak enak di hati. Mereka belum tentu sedang longgar meminjami uang.

Tapi teringat ucapan “The Land-lord” rasa ewuh pakewuh di hati saya singkirkan. Saya mengajukan pinjaman ke kantor. Iya, ke kantor. Langsung potong gaji. Bukan kepada saudara saya mengajukan pinjaman.

——

Beberapa waktu silam, semasa di Madrasah Aliyah, guru saya menyampaikan sebuah nasehat. Ustadz Wahidin Rais namanya. Allhumma ighfir khotoyahu waj’alhu fi maqoman mahmuda. Begini nasehatnya: “al-jar qobla ad-dar” (tetangga dulu baru tempat tinggal). Kenali dulu lingkungan sekitarmu sebelum kamu memutuskan untuk tinggal di sana. Sebab tidak hanya kamu yang akan berinteraksi dengan lingkungan. Ada isteri dan anakmu yang mungkin saja masih sangat polos.

Nasehat itu menyeruak kembali ketika pondasi rumah akan dimulai. Saya pun menemui calon tetangga kanan-kiri. Berkenalan dan bercerita ini itu. Lalu menceritakan maksud. Mereka menyambut senang sebab lingkungan akan lebih ramai. Dibanding dengan kompleks lain, cikal bakal rumah kami memang masih terhitung sepi.

Kunjungan saya tidak terjadi hanya sekali. Sengaja saya lakukan supaya jalinan silaturrahim terbangun mulai sejak awal. Ada yang menawarkan listrik, sumur, bahkan pohon pisang yang tumbuh di tengah lahan supaya jangan dipotong dulu. Nunggu pisang menua lebih dulu.

Hal sulit lainnya adalah mencari tukang kemudian menyepakati harga, mendiskusikan design rumah, memilih bahan bangunan, dan masih banyak lagi. Selain saya awan perihal bangun-membangun rumah, tukang adalah partnership membangun istana kecil yang fana ini. Urusan yang remeh-remeh sampai menentukan sudut rumah, septic tank, dapur, dan atap rumah harus didiskusikan bersama. Jangan sampai supaya pekerjaan cepet selesai akhir serampangan kemudian bawaran. Atau supaya terlihat sempurna justru mengulur waktu.

——

Dua bulan ini konsentrasi saya terpecah. Berkeping-keping. Banyak pekerjaan yang tak selesai. Produktifitas menurun. Energi dan fikiran lebih banyak terfokus menyelesaikan pembangunan. Beberapa kali hari-hari saya lalu terasa sangat berat. Satu pekan berjalan sangat cepat.

Beberapa orang saya kecewakan karena performa yang menurun. Terkadang emosi pun menjadi labil. Ini semua sudah berjalan selama dua bulan. Bayangkan, dua bulan. Lalu saya menyadari hal ini. Ini tidak baik dan secara perlahan saya perbaiki. Supervisi tidak saya jalankan secara optimal sehingga ada yang kecolongan. Lagi. Pembelajaran di kelas juga tidak optimal karena penyajian materi yang kurang baik.

Ternyata tidak hanya pekerjaan. Urusan saya dengan Sang Khalik terasa berjarak. Terkadang sujudku lama sekali. Bukan karena khusyuk tapi sebab melamun. Pernah juga menengadahkan tangan lama sekali. Panjang doa yang saya baca. Tapi ternyata tanpa sadar saya mengulang-ulang doa yang sama.

Dan yang terakhir saya kehilangan kaca mata. Sore menjelang salat Asar saya berwudu, meletakkan kaca mata di dinding padasan wudu. Karena terburu-buru saya tidak aware. Kaca mata tertinggal. Saat salat teringat kaca mata masih di tempat wudu. Selesai salam saya kembali dan ternyata kaca mata sudah tidak ada. Yang membuat saya sedih, kejadian serupa pernah terjadi—yang ternyata ditemukan siswa saya. Jadi, ini bukan yang pertama kali.

——

Susah mudah membangun gubug kecil ini. Ada senyum anak dan istri yang menjadi pengharapan. Ada pula jerih payah yang menghimpit. Lalu orang-orang baik yang menghulurkan pertolongan, membantu menyanggah sehingga tak terseok. Semoga Allah Taala memberi limpahan berkah dan kemudahan kepada mereka.

Memang, pertolongan kecil dari mereka terasa sangat melegakan. Terasa semua jadi lapang. Apalagi bantuan yang besar dan itu datang dari Bapak Ibu kami. Semoga Allah Taala melimpahan kasih sayang dan perlindungan bagi mereka.

Dan selalu bergantung pada mereka juga malu. Lalu suatu hari:

“Dek, duit e ra cukup.”

“Terus?”

“Kayaknya mesti berhenti dulu.”

“Apa enggak nanggung. Sebentar lagi selesai. Meskipun belum sip yang penting layak ditempati.”

Po ngutang maneh?

Ojo.”

Lalu kami melihat motor di ruang tamu. Seperti menemukan jalan keluar. JUAL.

About the Author:

Sehari-hari mengajar, berangkat pagi dan pulang sore. Senang beli buku tapi males bacanya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.