Mewarisi Prinsip-prinsip Kemanusiaan

/Mewarisi Prinsip-prinsip Kemanusiaan

Kita mewarisi nilai-nilai luhur dari nenek moyang. Nilai yang sangat kuat hingga menjadi prinsip bagi kemanusiaan.

Ada yang disebut dengan prinsip-prinsip aqidah. Seperti keimanan kepada Allah dan hari akhir, serta perkara gaib yang tidak bisa dinalar akal manusia. Ada pula yang disebut dengan prinsip syariat seperti salat dan zakat. Dan ada pula yang disebut dengan prinsip akhlak seperti saling menolong dan menghormati, berbuat baik kepada orangtua dan orang lain.

Semua prinsip itu bersumber dari zat yang sama dan menyebar melalui para nabi dan pembawa risalah sejak masa Adam as. hingga Muhammad Saw. Saking mengakarnya prinsip-prinsip itu, fitrah manusia ya tetap tumbuh di atas nilai kemanusiaan tersebut. Tanpa dalil naqli orang akan melakukan perjalanan pencarian eksistensi tuhan. Tanpa disuruh dan ditunjukkan dalil orang akan senang untuk saling bahu membahu, saling mengasihi, jujur sekaligus menjunjung etika. Dalil-dalil itu hadir sebagai pengingat terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan itu karena memang ada fitrah lain dari manusia, yaitu mudah lupa.

Bani Israil adalah contoh dari sekolompok manusia yang lupa dengan tiga prinsip di atas. Tidak hanya lupa, mereka justru ingkar. Alquran mengisahkan kembali pembangkangan mereka supaya kita mengambil pelajaran: jangan sampai prinsip-prinsip itu dilupakan sebab akan berakibat buruk terhadap kemanusiaan.

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Kamu tidak menyembah selain Allah, dan kepada ibu bapak dengan kebaikan yang sempurna, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat; kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu selalu berpaling.”

Demikianlah, Bani Israil pernah membuat perjanjian dengan pembawa risalah Allah. Di antaranya adalah tidak beribadah selain kepada Allah, berbuat baik kepada orangtua, berucap yang baik-baik, mendirikan salat dan tunaikan zakat.

 

Berbuat Baik sebagai Manifestasi Tertinggi Perbuatan Manusia

Redaksi berbuat baik kepada orangtua ini datang setelah penyembahan terhadap Allah. Hal ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada orangtua memiliki tempat yang istimewa di hadapan Allah. Selain itu, Rasulullah pun menyinggung berulangkali terkait bakti anak terhadap orangtua. Sehingga semakin mengukuhkan keyakinan bahwa perbuatan baik/bakti kepada orangtua adalah salah satu amalan yang sangat istimewa. Bahkan perbuatan baik kepada orangtua ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Pernah seorang sahabat diminta kembali ke rumah dan dilarang mengikuti perang semata-mata supaya membaktikan dirinya kepada orangtua. Pernah pula sahabat diminta supaya menghormati seorang anak yang selama hidupnya membaktikan diri kepada ibunya. Rasulullah memberi batasan selama perintah orangtua kepada anaknya bukan kekufuran maka ia masih menanggung kewajiban untuk mentaatinya.

Secara berurutan, redaksi dalam ayat tersebut menyebutkan berbuat baik kepada orangtua, kerabat, anak yatim, dan orang miskin. Memang sudah sepantasnya, selain kepada orangtua, kita pun berbuat baik kepada kerabat-kerabat kita. Kepada saudara kandung, kakek dan nenek, paman dan bibi, sepupu, dan semua orang yang masih terikat dalam kekerabatan.

Lalu, perbuatan baik selanjutnya ditujukan kepada anak yatim dan orang miskin. Sebab, keduanya adalah tanggung jawab yang harus dipikul bersama-sama. Kehadiran kerabat dan masyarakat di sisi anak yatim dan orang miskin dapat menumbuhkan semangat dan optimisme. Oleh karena itu, berbuat baik kepada mereka tidak melulu dalam bentuk materi tetapi juga edukasi dan proteksi.

Selain kepada mereka, ayat ini menunjukkan kepada kita supaya mengucapkan kata-kata yang baik kepada orang lain: kepada tetangga, kawan, rekan sejawat, dan juga kepada orang asing. Betapa banyak perselisihan dan pertikaian disebabkan oleh tutur kata yang tidak dijaga.

Saya teringat kisah Hasan al-Bisri yang bertetangga dengan orang yahudi. Suatu ia beliau sakit dan merebah di kamar. Lalu, tetangga yahudi ini datang berkunjung ke rumah beliau. Peringainya buruk ketika memasuki rumah karena tercium bau tidak sedap dari dalam rumah. Ketika memasuki kamar beliau, ia melihat tetesan (rembesan air) dari atap rumahnya. Ternyata rembesan air itu bersumber dari kamar mandi miliknya yang terletak tepat di atas kamar Hasan Al-Bisri. Ketika ditanya perihal tersebut, Hasan Al-Bisri menjawab bahwa ia khawatir ketika mengadukan hal tersebut justru akan menyinggung perasaannya.

Berbuat baik, ihsan, adalah puncak keluhuran akhlak manusia. Nilai-nilai agama, yang sejalan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan, dikejewantahkan dalam sikap sehari-hari. Saya ingin mengutip pemaparan Dr. Quraish Shihab ketika menjelaskan makna ihsän dalam tafsir Al-Misbah:

Kata al-muhsinïn adalah jamak dari kata muhsin dan ihsän adalah kata kejadiannya. Menurut al-Harräli kata ini mengandung arti puncak kebaikan amal perbuatan. Terhadap hamba, ia tercapai saat seseorang memandang dirinya pada diri orang lain sehingga ia memberi untuk orang tersebut apa yang seharusnya diberi untuk dirinya sendiri; sedangkan ihsän antara hamba dan Allah adalah leburnya dirinya sehingga dia hanya “melihat” Allah SWT. Karena itu pula ihsän antara hamba dan sesama manusia adalah bahwa dia tidak melihat lagi dirinya dan hanya melihat orang lain itu. Siapa yang melihat dirinya pada posisi kebutuhan orang lain dan tidak melihat dirinya ada saat beribadah kepada Allah, dia itulah yang dinamai muhsïn, dan ketika itu dia telah mencapai puncak dalam segala amalnya.

By |2019-04-11T10:34:10+07:00April 11th, 2019|Artikel|0 Comments

About the Author:

Sehari-hari mengajar, berangkat pagi dan pulang sore. Senang beli buku tapi males bacanya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.