Owi selesai diimunisasi menjelang Magrib. Hitungan saya tidak akan sampai rumah sebelum Magrib. Alternatifnya adalah mencari hidangan buka puasa di jalan. Isteri saya mengajak mampir ke masjid saja. Biasanya di sana disediakan takjil.

Ya, kami mampir di masjid. Di salah satu masjid di jalan Sultan Agung. Bangunannya mewah. Karpetnya empuk dan halus. Hidangan takjilnya pun terlihat nikmat sekali. Saat muadzin mengumandangkan azan Magrib sound systemnya pas sekali. Balance. Menambah indah suara muadzin dan imamnya.

Benar saja. Ketika kami menunaikan salat Magrib kekhusyuan merambah sekujur tubuh. Suara merdu imam yang merambat di telinga. Hamparan karpet yang mepuk dan wangi. Dingin AC yang menyejukkan. Semua menambah kekhusyuan para jamaah, termasuk saya.

Di tengah-tengah kekhusyuan salat tiba-tiba saya tersentak. Ada rasa musykil dan diikuti mohon ampunan kekhadirat Allah. Sebab, untuk mencapai kekhusyuan seperti ini saya mengandalkan fasilitas-fasilitas begini. Menomorduakan salat di masjid dekat rumah yang tak berpendingin itu, yang kalau kipasnya dinyalakan suara dercitannya mengaburkan suara imam.

Padahal ada banyak alasan untuk merasa hamba, di mana pun tempatnya, di mana pun masjidnya.

Saya teringat ceramah Gus Baha—yang belakangan ini sedang naik daun dan taklimnya yang adem saat membacakan tafsir Jalalain dan Nashoihu al-Ibad—yang saya simak dari channel telegram. Kita sudah ditakdir untuk sujud saja sudah cukup menjadi alasan untuk khusyu dan menghamba. Sebab muara tugas manusia di bumi ini adalah tunduk sujud kehadhirat Allah taala.

Membangun fasilitas-fasilitas dan memaesi masjid, sama sekali tidak salah. Sebab, khususnya di perkotaan seperti ini, hal tersebutlah yang mengundang orang-orang untuk datang menunaikan salat. Yang perlu diwaspadai adalah berubahnya arah hati dalam beribadah.

Semoga masjid-masjid mewah itu tidak menggeser sedikitpun niat para jamaahnya untuk tulus menjadi hamba Allah.