Semua orang boleh bahagia menjelang lebaran.

Hingga kemudian, usai shalat Jumat yang lalu di pekan terakhir Ramadan tahun ini, kiai kampung itu menyampaikan pengingat-ingat yang cukup dalam. Ia mengutip sebuah hadits yang menceritakan tentang kesedihan langit dan bumi serta para malaikat yang menangis karena Ramadan telah berakhir dan hal ini merupakan musibah bagi umat Rasulullah. Disebut musibah karena ummat Islam akan meninggal bulan dimana doa-doa terkabulkan dan sedekah diterima oleh-Nya.

Sejenak saya termenung.

Silakan diangan-angan, diingat-ingat kembali, selain bulan Ramadan, adakah bulan yang begitu mudah bagi kita untuk beribadah. Tidak hanya diri kita secara pribadi, tapi di mana-mana semua orang memiliki semangat yang sama untuk menjalankan perintah Allah, menghidupkan sunnah, memenuhi masjid untuk ibadah, ringan bagi lidah kita untuk membaca Alquran. Nuansa ibadah yang terasa sangat kuat yang tidak kita temui di bulan-bulan yang lain.

Begitu kurang lebih isi pengingat yang disampaikan si kiai.

Nasehat itu disampaikan dengan lirih tetapi begitu mengena. Tak satupun yang saya sangkal. Dari semangat beribadah hingga menargetkan tilawah, tangan menjadi ringan untuk berbagi dan memberi pertolongan. Semua begitu mudah di dalam Ramadan dan saya sangsi apakah sikap seperti itu akan tetap bertahan usai Ramadan.

Saya teringat cerita tentang tetangga saya yang ngorek rezekinya dengan bentor (becak motor). Sehari-hari ia mangkal sekitar perempatan dan pasar. Selama Ramadan ini ada saja rezeki yang tak disangka-sangka. Bukan saja dari penumpang yang ia bawa, beberapa kali ada pengendara motor yang tiba-tiba berhenti untuk berbagi. Bahkan tidak hanya sekali ia sama sekali tidak mendapatkan penumpang tetapi rejeki tetap sampai di tangan. Hal ini, mungkin, akan sangat jarang ditemui di bulan-bulan selanjutnya.

Beginilah sifat penempaan, seperti halnya sekolah dan pondok pesantren, nuansa Ramadan secara alamiah membentuk dan menempa jiwa dan kemanusiaan. Ada saja sentuhan-sentuhan ilahi yang menggerakkan hati. Semoga itu masih terus diingat untuk kesebelas bulan nanti. Banyak yang gagal banyak pula yang meraih kemenangan. Dan tropi itu secara rahasia hanya bisa dirasakan oleh pribadi masing-masing.

Leave A Comment