/Syeikh Nur Samad Kamba dan Nasehatnya tentang Ilmu Mengenal Allah

Syeikh Nur Samad Kamba dan Nasehatnya tentang Ilmu Mengenal Allah

By |2018-11-30T09:06:29+00:00November 24th, 2018|Artikel|0 Comments

Maulid Nabi saw. tahun ini terasa sangat berkah. Indah. Dan hangat dalam pertemuan penuh cinta dalam Maiyah.

Kangen ingin bersua dengan Mas Sabrang dan Syeikh Nur Samad Kamba terobati. Alhamdulillah. Walau sebenarnya bukan benar-benar Maiyah—sebagaimana kalau ditemui di Kenduri Cinta atau Bambang Wetan—namun tetap saja acara ini tak kurang sedikit pun. Adalah KH. Mustofa, pengasuh Pondok Pesantren Al Muttaqin Kemiling yang menjadi perantara. Dalam rangka maulid nabi dan hajat mantu, beliau mengundang pentolan Maiyah ini.

KH. Mustofa adalah pangurip-urip simpul Maiyah Ambengan di Lampung, yang saat ini eksis di Metro Kibang. Ia bersama cak Sul mengomandoi grup music Jamus Kalimasada.

Dari maiyahan kali ini saya ingin berbagi rasa dari buah ranum yang kupetik dari pertemuan malam itu. Sedikit. Dan semoga bermanfaat.

Syeikh Kamba memakai baju putih. Bersahaja. Seperti pada biasanya. Ia menjelaskan banyak hal terutama tentang agama, ilmu pengetahuan, dan cinta kita kepada Rasulullah. Pun, Mas Sabrang yang berkesempatan memberi khasanah yang luas sekali. Lalu saya mengambil dan menuangkan kembali dalam beberapa paragraf berikut.

Hakekat ilmu seharusnya mendorong manusia mampu mencapai tasyahud (persaksian) bahwa setiap makhluk adalah perwujudan tajalli Allah. Tidak mesti ilmu agama tapi segala disiplin ilmu. Toh, pada mulanya ilmu adalah university yang kemudian lambat laun disisir dalam berbagai bentuk fakultatif.

Berbagai disiplin ilmu itulah seharusnya menjadi wasilah untuk mengenal Allah Taala. Pengetahuan yang mendalam tentang sebuah disiplin ilmu seyogyanya membuka tabir mata batin sehingga ia melihat kesejatian yang ada di depannya.

Ajaran agama Islam didesain sedemikian rupa sehingga amalan-amalannya mengarahkan kita, pelakunya, untuk mengenal dan dekat kepada Allah Taala. Siapa yang mendesain? Tentu saja diri-Nya yang Mencipta.

Kelak, ketika ilmu pengetahuan berhasil menghantarkan pada kesadaran ilahi maka akan muncul produk kesadaran baru berupa akhlak. Yakni kesadaran untuk melakukan pelayanan dan pengabdian kepada Allah.

Barangkali di antara kita ada yang bertanya-tanya apakah ibadah-ibadah mahdloh, ibadah keseharian yang kuntinyu, akan menghantar pada pencapaian tersebut?

Pada dasarnya, ibadah-ibadah yang kontinyu itu merupakan metode untuk membangun intuisi dan kesadaran kepada Allah. Salat, misalnya, sebagai media pelatihan yang terut menerus untuk membangun intuisi. Oleh karena itu, dibutuhkan pengetahuan tentang salat. Pengetahuan yang mendalam dan mumpuni itu akan membangun kesadaran tentang salat. Lalu kesadaran tentang salat itu akan membangun kesadaran kepada Allah.

Kita bisa mengambil perumpaan seorang atlit bulutangkis. Ia berlatih secara rutin. Pengetahuan tentang permainan bulutangkis dan keuletan dalam berlatih menjadikannya seorang pebulutangkis yang handal. Dalam bermain bulu tangkis ia tidak hanya mengandalkan pengetahuannya tentang bulu tangkis tapi juga intuisinya yang didapat dari pelatihan salama ini.

Di era yang serba cepat ini laju informasi seperti tak dapat dihentikan. Kita bisa melihat bagaimana informasi yang berseliweran itu mempunyai peran ganda di masyarakat. Menyesatkan atau mencerahkan. Ketika informasi itu mulai mengalami distorsi, orang-orang mulai bingung sendiri. Hampir-hampir tak bisa menyaring hingga terombang-ambing. Di sinilah ilmu pengetahuan memiliki peran dalam kehidupan.

Ilmu pengetahuan bertujuan untuk membangun kemandirian dan kedaulatan atas dirinya sendiri sehingga ia tidak terombang-ambing.

Pengetahuanlah yang kemudian dapat melakukan penyaringan terhadap informasi atau permasalahan, memberi respon atau alternatif, dan juga membuat keputusan dengan penuh kesadaran.

Ilmu pengetahuan tidak melulu diraih dari sekolah. Hanya karena sekolah adalah tempat yang baik untuk menuntut ilmu, tidak semuanya harus bersumber dari sana. Ilmu pengetahuan dapat diraih melalui tadabbur dan pengalaman-pengalaman.
Sedikit menambah ramuan dari Mas Sabrang bahwa setiap momentum dalam kehidupan kita memang penting sebagai pengalaman (bumbu dapur). Pengalaman-pengalaman itu, apabila dipelajari dengan baik, akan menjadikan kita semakin presisi.

Presisi terhadap apa? Tentu saja presisi terhadap nilai-nilai ketuhanan. Kalau sudah seperti itu maka kita bisa menjalani hari-hari kita bahagia. Berdaulat atas diri sendiri.

Kita ambil contoh begini. Seseorang mengatai-ngataimu “dasar pesek!”. Karena pengetahuanmu tentang hidung pesek adalah jelek kamu percayai maka ketika seseorang mengata-ngatai “dasar pesek!” kamu menjadi sedih dan marah. Coba kalau kamu tidak percaya! Kamu bisa dengan santai menjawab “Nek emang pesek kate lapo kon?!

—–

Malam ini, dalam peringatan Maulid Nabi, adalah malam penuh berkah. Sebuah momentum yang baik untuk meneladani dan memupuk kecintaan kepada Rasulullah saw. Syeikh Kamda selanjutnya menjelaskan bahwa mengikuti Rasulullah (ittiba’ur rasul) adalah berani untuk melakukan pensucian diri—setidaknya mensucikan diri dari dengki, menamkan kelapangan dada, menjadi al-Amin (jujur), dan cinta Ilahi.

Allahumma sholli wasallim alaa habiininaa wasyafii’ina sayyinaa Muhammadin wa’alaa aalihii washahbihii ajma’iin.

About the Author:

Sehari-hari mengajar, berangkat pagi dan pulang sore. Senang beli buku tapi males bacanya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.