/Tiga Jari Cahya

Tiga Jari Cahya

By |2018-11-30T09:11:06+00:00November 19th, 2018|Jalan Setapak|0 Comments

Ia geram. Ia menunjukkan jari-jarinya. Jempolnya dilipat ke dalam untuk menunjukkan jumlah empat. Empat. Ia lakukan itu supaya Cahya tahu bahwa dia sudah minum empat botol. Tapi Cahya menanggapi lain. Ia justru mengajak berhitung.

– – – – – – –

Isteri saya sangat menjaga asupan makan Cahya. Saya teringat ketika waktunya memberi makanan pendamping ASI. Hari ini membuat bubur wortel. Lalu esoknya bubur labu. Disusul kentang dan buncis. Variatif. Bahkan sampai sekarang. Wortel, buncis, dan kentang adalah makanan kesukaannya.

Kebiasaan menyeleksi makanan terus berlanjut sampai sekarang. Apalagi setelah tingkat ke‘nggragasan’-nya naik satu level. Contohnya begini. Ketika gas elpiji habis Cahya bersemangat sekali ikut beli gas. Di toko sebrang jalan tak jauh dari rumah. Sebab, ia punya motif. Beli jajan.

Selain selektif terhadap makanan, isteri saya juga selektif memilih minuman. Di kulkas tak pernah ada minuman jajanan. Yang cair maupun yang jeli. Kami selalu bikin sendiri. Minuman kemasan yang sering singgah di kulkas kami adalah susu UHT dan yogurt. Tidak sekali dua kali dalam sehari Cahya habis tiga botol. Padahal di iklan kan “Saya minum dua”.

Hingga beberapa waktu lalu isteri saya merasa harus memberi pelajaran supaya Cahya mengerti bahwa setiap hari dia hanya boleh “Saya minum dua”.

“Kakak, lain kali cukup satu atau dua botol saja.”

“Kenapa?”

“Sisanya besok lagi.”

Lalu Cahya mengambil satu renteng yogurt, “Ini buat Ayah. Ini buat ibu. Ini—menunjuk tiga sisanya—buat kakak.”

“Iya tidak apa-apa juga semua buat kakak tapi jangan semuanya di minum sehari.”

“Emang kenapa?”

Saya senyum-senyum bahagia sementara isteri saya terlihat geram.

“Coba hari ini Kakak sudah minum berapa?” Isteri saya menunjukkan jari-jarinya. “Empat. Kakak sudah minum empat. Satu, dua, tiga, empat.” Jari jempolnya dilipat ke dalam.

Cahya tidak bergeming, “Kalau ini tiga ya, Bu.” Ia menunjukkan jari-jarinya dengan melipat ibu jari dan kelingkingnya.

Kali ini saya ketawa. Isteri saya yang geram dibuat tak berkutik oleh tingkah Cahya.[]

About the Author:

Sehari-hari mengajar, berangkat pagi dan pulang sore. Senang beli buku tapi males bacanya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.