Memperingati maulid nabi adalah bentuk ekspresi kecintaan secara massal kepada junjungan tercinta, Rasulullah Saw.

Tidak sedikit yang mengatakan bahwa peringata seperti ini adalah bid’ah. Bahkan ada yang tega menanyakan dalilnya. Maka saya katakan kepada mereka: Ya, ini memang bid’ah. Terus kenapa?

Pemaknaan saya atas kata bid’ah adalah kreatifitas. Acara memperingati kelahiran nabi tercinta yang dipenuhi dengan bacaan shalawat, senandung syair yang romantis dan menggetarkan hati, cerita-cerita tentang Rasulullah yang menyentuh, adalah bentuk kreatifitas yang sangat agung dalam rangka mengekspresikan cinta pada Rasulullah.

Seperti dalam Hari Guru, kita memanfaatkan momentum ini untuk mengenang guru-guru kita yang sangat banyak jasanya membentuk kepribadian kita hingga menjadi seperti ini. Tak cukup dengan mengenang mereka, kita pun—adakalanya—mengunjungi mereka atau setidaknya merapalkan doa-doa kepada mereka, doa yang mereka ajarkan kepada kita. Begitu juga dalam hari Ibu, hari Pahlawan, dan peringatan hari-hari lainnya.

Apakah untuk melakukannya harus di hari yang ditentukan itu? Tentu tidak. Kita bisa melakukannya kapan saja. Hari itu hanyalah momentum untuk me-recharge. Seperti halnya Ramadhan sebagai momentum untuk me-recharge diri kita menghadapi sebelas bulan setelahnya.

 

Ada yang cemburu kepada para pecinta Rasulullah seperti kita ini. Mereka cemburu bagaimana bisa orang mencintai dengan begitu tulus dan romantis, merasakan kerinduan yang mendalam? Dan kita bisa melihat para pecemburu itu, mereka akan melakukan banyak hal karena posesifitasnya sehingga mereka tega melontarkan kata bid’ah.

Kalau ditanya mana dalilnya? Mana anjuran atau perbuatan yang merujuk pada pelaksanaan peringatan Maulid?
Untuk mengungkapkan rasa cinta kau tak perlu dalil, seperti ketika kau inign menolong seseorang tak perlu kau tanyakan apa agamanya. Dalil-dalil hukum itu jauh berada di bawah tataran etika. Kau bicara dalil hukum maka kau bicara tentang benar dan salah. Kau bicara nilai etis maka kau bicara baik dan buruk.

Lagi pula, maulid nabi bukanlah ibadah (ubudiyyah). Ini adalah bentuk budaya halus para ummat yang merindukan kehadirannya. Acara maulid nabi tidak jauh beda dengan menara (manaroh) yang diadopsi dari Persia yang Majusi itu. Acara maulid nabi tidak jauh beda dengan kubah yang diadopsi dari bangunan-bangun gereja di Romawi yang Nasrani itu. Apa salahnya?

Padahal ada satu jurus jitu supaya aktifitas yang tampak biasa-biasa saja bisa berubah menjadi nilai ibadah yang luar biasa.

Kita membersihkan halaman rumah, menyapu misalnya, pekerjaan ini kan menjadi pekerjaan biasa saja. Tetapi kala kita mengawalinya dengan membaca basmalah maka jadilah aktifitas menyapu ini menjadi nilai ibadah. Sebalik, yang tampak seperti ibadah kalau tak diawali dengan basmalah maka jadilah ia sekedar aktifitas buang-buang tenaga.

Ah, mereka yang terbiasa berbuat sesuatu di atas dalil-dalil tentu tahu dalil—sabda nabi—tentang basmalah ini.

 

Saya melihat terdapat paradoks dalam mengekspresikan relijiusitas kita. Ada yang mengaku mencintai Rasulullah dengan tulus tapi untuk mengikuti sunnahnya masih pilah-pilih. Mengikuti jalan hidup beliau bukan melulu tentang ibadah yang lima waktu itu, atau tentang rukun islam yang lima itu. Masih ada yang lain: mencintai kaum dlu’afa dan yatim, hidup bersahaja, ramah kepada sesama manusia.

Bukankah kita pernah membaca kisah menakjubkan Abu Bakar yang ingin meniru jalan hidup Rasulullah ternyata belum ada apa-apanya. Saat ia mendatangi seorang Yahudi buta di pasar, memah roti lalu disuapkan, ia tak habis pikir bagaimana Rasulullah bisa sesabar itu hingga akhir hayatnya, berbuat derma kepada non-muslim meskipun ia memberci dan mencercanya.

Dalam keadaan marah, kadang saya menjawab: Kalau kamu benar mencintai Rasulullah, seharusnya kamu tanggalkan pakaian mewahmu, singkirkan kasur empukmu, miskinkan dirimu hanya dengan mengambil apa yang cukup untuk hari ini saja.

Ada kalanya juga ingin menelisik kadar pengatahuannya, tahukah makna sunnah? Atau jangan-jangan masih menyamakan arti sunnah dan hadits? Kalau demikian, perlulah kita belajar lagi apa sunnah dan hadits, secara terminologis dan juga epistemologis (lughotan wa ishtilahan).

Kok, saya lalu curiga. Jangan-jangan mereka yang membid’ahkan ekspresi cinta ini tidak pernah benar-benar membaca maulid diba’, shimthut dluror, atau lainnya.

 

Banyak cara mengekspresikan rasa cinta dan kerinduan kepada Rasulullah. Ada yang merindukannya dengan cara mengikuti jalan hidupnya (sunnah) semampunya. Ada yang merindukannya dengan cara memanggil-manggil namanya. Ada pula yang mempelajari sejarah hidupnya.

Allah menyuruh kita untuk bershalawat kepada Nabi karena seluruh alam semesta, bahkan malaikan dan Dirinya sendiri pun bershalawat kepada Nabi. Hanya saja dalam ayat itu tidak dijelaskan apakah bershalawat dengan cara duduk, berdiri, sendiri-sendiri atau berjamaah.

Allohummu sholli álä Muhammad.